Bangun Jam 02.30 Pagi Demi Cari Uang Sendiri, Kisah Adi Taufik yang Minta Damkar Dampingi Ambil Rapor
Laporan Wartawan TribunPriangan.com, Ai Sani Nuriani
TRIBUNPRIANGAN.COM, CIAMIS – Di usia yang masih belia, sosok remaja asal Ciamis, Adi Taufik Suhartono (15) sudah terbiasa bekerja keras demi memenuhi kebutuhan pribadinya sendiri.
Remaja asal Dusun Pongporang, Desa Sindangrasa, Kecamatan Banjaranyar, Kabupaten Ciamis itu bahkan telah bekerja sejak duduk di bangku kelas 6 SD sebagai pengantar sembako dari Pasar Banjarsari ke sejumlah warung di wilayah Desa Pasawahan dan Cikupa yang lokasinya jauh dari pasar.
Kegigihan Adi mencari penghasilan tambahan di usia remaja membuat banyak warga sekitar mengenalnya sebagai anak yang rajin, mandiri, dan tidak malu bekerja demi memenuhi kebutuhan dirinya sendiri.
Kisah Adi menjadi perhatian publik setelah dirinya meminta bantuan petugas Damkar Banjarsari untuk mendampinginya mengambil rapor dan mengikuti prosesi kelulusan di SMPN 3 Banjarsari.
Saat ditemui di rumahnya, Adi mengaku saat itu kebingungan mencari pendamping karena kakak kandungnya juga sedang mengambil rapor anaknya yang PAUD dan kakak iparnya yang biasa membantu memiliki keperluan lain di hari yang sama.
"Saya bingung mau ambil rapor sama siapa. Aa sama Teteh ada keperluan juga, jadi saya minta bantuan ke Pak Dikri dari Damkar untuk menemani ke sekolah," ujarnya kepada Tribun, Jumat (19/6/2026).
Baca juga: Hidup Sebatang Kara, Seorang Siswa SMP di Ciamis Minta Damkar Ambil Rapor
Di balik kisah tersebut, tersimpan cerita perjuangan seorang anak yang sudah terbiasa mandiri sejak kecil.
Setiap hari, Adi mengawali aktivitasnya saat sebagian besar orang masih terlelap.
Ia bangun sekitar pukul 02.30 WIB untuk bersiap menuju Pasar Banjarsari.
Sekitar pukul 03.00 WIB, ia mulai mengangkut berbagai kebutuhan warung menggunakan sepeda motor menuju wilayah Pasawahan dan Cikupa yang berjarak cukup jauh dari pasar.
"Bangun jam setengah tiga pagi, terus jam tiga berangkat ke pasar. Habis itu nganter barang ke warung-warung, abis itu siap-siap mandi, sarapan dan pergi ke sekolah," tambahnya.
Barang yang diantarnya beragam, mulai dari sayuran hingga kebutuhan warung lainnya.
Dalam sehari, ia bisa mengantar pesanan untuk tiga hingga empat pelanggan dengan menggunakan bronjong yang dipasang di sisi kanan dan kiri motornya.
Perjalanan yang ditempuh tidak singkat. Untuk mencapai salah satu tujuan pengantaran, Adi membutuhkan waktu hingga satu jam perjalanan.
Meski harus bekerja sejak dini hari, Adi tetap berusaha menjalankan kewajibannya sebagai pelajar.
Setelah selesai mengantar pesanan, ia segera pulang, mandi, sarapan, lalu berangkat ke sekolah menggunakan motor yang sama.
"Disempat-sempatin saja. Kalau sudah selesai nganter, pulang cepat, mandi, sarapan, terus sekolah," katanya.
Dari pekerjaannya itu, ia rata-rata memperoleh pendapatan sekitar Rp60 ribu hingga Rp70 ribu per hari.
Uang tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan pribadinya seperti membeli pakaian dan keperluan sekolah.
"Cukup buat kebutuhan sendiri. Jadi tidak mau minta ke Aa sama Teteh," ucapnya.
Tak hanya mengantar sembako, Adi juga kerap menerima titipan belanja atau membantu membeli kebutuhan warga untuk mendapatkan tambahan penghasilan.
Kini, setelah lulus dari SMPN 3 Banjarsari, ia telah diterima di SMA Negeri 2 Banjarsari.
Meski hidup dalam keterbatasan sepeninggal almarhumah ibunya tahun 2023 dan ayahnya yang tak kunjung pulang, Adi Taufik memiliki mimpi besar.
Ia bercita-cita menjadi seorang pengusaha sukses di bidang kuliner dan berharap bisa melanjutkan pendidikan hingga perguruan tinggi.
"Pengen jadi pengusaha makanan yang sukses. Kalau bisa sampai kuliah," katanya dengan senyum malu-malu.
Di tengah maraknya anak-anak seusianya yang menghabiskan waktu dengan bermain gawai atau media sosial, Adi memilih bangun sebelum subuh untuk bekerja.
Perjuangannya menjadi gambaran tentang keteguhan seorang remaja yang berusaha mengubah masa depan melalui kerja keras dan pendidikan.(*)