MBG di Bondowoso Dihentikan Selama Libur Sekolah, Relawan Cari Kerja Tambahan
Haorrahman June 19, 2026 07:57 PM

 

TRIBUNJATIMTIMUR.COM, Bondowoso - Penyaluran Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Bondowoso dihentikan selama masa libur sekolah. Penghentian berlangsung sekitar tiga pekan hingga kegiatan belajar mengajar kembali dimulai pada 13 Juli 2026.

Kebijakan tersebut tidak hanya berlaku di Bondowoso, tetapi juga disebut diterapkan di berbagai daerah di Indonesia yang menjalankan program MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Koordinator SPPG Bondowoso, Mila Afriana Agustina, menjelaskan bahwa penghentian distribusi mengikuti jadwal libur sekolah para siswa penerima manfaat.

"Betul Mbak, mengikuti jadwal libur sekolah, kalau tidak salah 2-3 minggu ya," kata Mila saat dikonfirmasi, Jumat (19/6/2026).

Menurut Mila, sebagian besar relawan yang bertugas di dapur SPPG juga ikut diliburkan selama masa penghentian distribusi. Namun, sejumlah petugas inti tetap menjalankan tugasnya.

"Relawan libur, kecuali keamanan. Kalau Kepala, PK, dan PG tetap bertugas," tegasnya.

Baca juga: Mahasiswa Lumajang Demo di Depan DPRD, Tolak Kenaikan Harga Pertamax dan Evaluasi MBG

Berbenah

Terkait informasi mengenai rencana audit dari Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap seluruh SPPG, Mila mengaku masih menunggu petunjuk lebih lanjut dari pimpinan.

Mila menyebut masa libur ini menjadi momentum bagi setiap dapur SPPG untuk melakukan pembenahan dan persiapan sebelum distribusi kembali berjalan.

Saat ini, terdapat 80 dapur SPPG yang telah beroperasi di Bondowoso. Selain itu, empat dapur tambahan disebut sudah siap untuk mulai beroperasi.

Pemilik dapur SPPG di Desa Tegal Pasir, Kecamatan Jambesari Darus Sholah, Lina Tripuspita Sudarmo Putri, membenarkan MBG dihentikan selama masa liburan sekolah.

Di dapur yang dikelolanya, distribusi terakhir dilakukan, Rabu (17/6/2026). Sementara aktivitas operasional dihentikan mulai Kamis keesokan harinya. Ia menyebut salah satu kendala yang dihadapi adalah pencairan anggaran yang belum dilakukan.

Baca juga: Jadi yang Pertama, Pemkab Pasuruan Beri Kantor dan Mobil Operasional untuk Satgas MBG

Karena itu, pihaknya telah mengumpulkan seluruh karyawan dan relawan untuk menyampaikan kondisi tersebut.

"Tiga minggu tidak akan beroperasi, se-Indonesia itu tidak ada (distribusi)," ujarnya.

Menurut Lina, penghentian sementara ini menimbulkan kekhawatiran di kalangan relawan yang selama ini menggantungkan penghasilan dari pekerjaan di dapur SPPG.

"Teman-teman relawan banyak yang sedih juga, karena banyak yang menggantungkan pekerjaan dari sana," katanya.

Meski demikian, ia berharap program dapat kembali berjalan normal setelah masa libur berakhir.

"Kita legowo ya, saya harap bisa bekerja seperti biasanya lagi," tambahnya.

Baca juga: Nanik S Deyang Terseret dalam Kasus Dugaan Korupsi MBG, Eks Wakil Kepala Ucap Terima Kasih

Cari Pekerjaan Tambahan

Dampak penghentian distribusi juga dirasakan para relawan di lapangan. AB, salah seorang relawan SPPG di Kecamatan Grujugan, mengaku harus mencari pekerjaan tambahan selama tiga pekan ke depan.

Ia menjelaskan bahwa pada masa libur sebelumnya masih terdapat distribusi untuk kelompok B3 yang meliputi balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Namun kali ini seluruh aktivitas distribusi dihentikan.

Kondisi tersebut membuatnya harus mencari sumber pendapatan lain untuk memenuhi kebutuhan keluarga.

"Terpaksa cari tambahan kerja lain dulu," ungkapnya.

Sementara Wahyudi, orang tua siswa di Desa Kejawan, Kecamatan Grujugan, menilai penghentian sementara program MBG selama libur sekolah tidak menjadi persoalan selama memang merupakan kebijakan resmi dari pemerintah pusat.

"Kalau bukan ketentuan lalu tidak dibagi, baru itu diprotes. Kalau memang sudah ketentuan ya tidak apa-apa," katanya.

Namun, ia berharap masa jeda distribusi dimanfaatkan untuk melakukan evaluasi dan peningkatan kualitas makanan yang diterima siswa.

Menurutnya, di sekolah anaknya masih ditemukan buah yang kualitas maupun ukurannya dinilai kurang sesuai harapan, seperti pisang berukuran kecil atau jeruk yang terlalu kecil untuk porsi siswa.

"Jangan hanya pas waktu diunggah saja, di medsos saja gambarnya begini, padahal di lapangan tidak sesuai ekspektasi," ujarnya.



© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.