Pesut di Sungai Sesayap Terancam Hilang, DPPP Tana Tidung Ajak Masyarakat Jaga Kelestarian Perairan
Junisah June 19, 2026 08:32 PM

TRIBUNKALTARA.COM, TANA TIDUNG - Keberadaan Ikan Pesut Mahakam di Sungai Sesayap menjadi pengingat pentingnya menjaga kelestarian perairan di Kabupaten Tana Tidung (KTT), Kalimantan Utara (Kaltara).

Pasalnya, jika kerusakan lingkungan terus terjadi akibat pencemaran maupun aktivitas penangkapan ikan yang tidak ramah lingkungan, bukan tidak mungkin generasi mendatang hanya akan mengenal pesut dari cerita dan sejarah tanpa pernah melihatnya secara langsung di habitat aslinya.

Diketahui, Sungai Sesayap di Kabupaten Tana Tidung memang merupakan salah satu habitat dari satu-satunya jenis lumba-lumba air tawar yang keberadaannya semakin terancam.

Jika beruntung, masyarakat yang bermukim di bantaran Sungai Sesayap atau nelayan beberapa kali diperlihatkan dengan pemandangan pesut yang berenang bebas di permukaan sungai.

Baca juga: Pesut Kembali Muncul di Sungai Sesayap Tana Tidung, Sempat Diabadikan Pemancing yang Melintas 

Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Tana Tidung Herni mengatakan, saat ini keberadaan Ikan Pesut Mahakam di Sungai Sesayap semakin jarang terlihat dibandingkan beberapa tahun lalu.

Bahkan, menurutnya anak-anak yang lahir pada masa sekarang belum tentu memiliki kesempatan menyaksikan langsung mamalia air tersebut di perairan Sungai Sesayap.

“Untung-untungan nanti anak saya yang kedua bisa melihat pesut yang ada di sini. Bahkan anak saya yang kecil saja tidak pernah lihat pesut di sini,” ujar Herni kepada TribunKaltara.com, Kamis (19/6/2026).

Ia mengatakan, jika kondisi lingkungan perairan tidak dijaga, generasi mendatang kemungkinan hanya akan mendengar keberadaan pesut dari cerita orang tua maupun catatan sejarah.

“Paling mereka dengar sejarah saja, tapi tidak pernah menyaksikan secara langsung kalau ikan pesut itu berenang di sungai. Padahal salah satu habitatnya ada di Sungai Sesayap,” katanya.

Baca juga: Perairan Tana Tidung Tertekan Aktivitas Ilegal, Rantai Makanan Biota Sungai Sesayap Terancam

Menurut Herni, selama ini masyarakat lebih mengenal pesut sebagai satwa yang hidup di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Padahal, Sungai Sesayap juga menjadi salah satu habitat pesut yang harus dijaga keberlangsungannya.

“Orang-orang tahunya pesut hanya ada di Mahakam saja. Makanya sekarang memang harus kita jaga jangan sampai ikan tersebut punah,” tegasnya.

Ia menjelaskan, ancaman terhadap kelestarian pesut maupun biota perairan lainnya tidak hanya berasal dari aktivitas penangkapan ikan yang merusak, tetapi juga pencemaran lingkungan yang terjadi secara terus-menerus.

Karena itu, Herni mengingatkan perusahaan agar tidak membuang limbah langsung ke perairan tanpa melalui proses pengolahan sesuai ketentuan yang berlaku.

“Himbauan yang pertama, perusahaan jangan membuang limbah secara langsung sebelum difilter atau mengikuti kaidah yang berlaku,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diminta menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai yang hingga kini masih ditemukan di sejumlah lokasi.

Menurutnya, sampah rumah tangga, plastik, botol bekas hingga limbah minyak dapat berdampak terhadap kualitas perairan dan kehidupan biota di dalamnya.

“Untuk masyarakat jangan membuang sampah sembarangan lagi di sungai. Bekas minyak, botol-botol oli itu kan biasa main lempar saja,” katanya.

Herni juga menyoroti limbah bahan bakar dari aktivitas transportasi sungai yang sering kali tidak disadari masyarakat.

KEMUNCULAN PESUT MAHAKAM - Penampakan Pesut Mahakam di Sungai Sesayap, wilayah Desa Limbu Sedulun, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara, Sabtu (11/4/2026). kemunculannya menandakan keberadaan populasinya di Sungai Sesayap.
KEMUNCULAN PESUT MAHAKAM - Penampakan Pesut Mahakam di Sungai Sesayap, wilayah Desa Limbu Sedulun, Kecamatan Sesayap, Kabupaten Tana Tidung, Kaltara, Sabtu (11/4/2026). kemunculannya menandakan keberadaan populasinya di Sungai Sesayap. (TribunKaltara.com/Rismayanti)

“Biasanya speedboat saat mengisi bensin atau solar itu bisa saja tercecer. Hal-hal kecil seperti itu kalau terus terjadi juga berpengaruh terhadap perairan kita,” jelasnya.

Selain pencemaran, ia memberikan perhatian khusus terhadap praktik destructive fishing atau penangkapan ikan menggunakan cara yang tidak ramah lingkungan.

Menurutnya, penggunaan racun maupun setrum menjadi ancaman serius karena dapat merusak ekosistem dan memutus rantai makanan di perairan.

“Himbauan keras untuk masyarakat jangan melakukan destructive fishing menggunakan racun dan setrum. Itu sangat berpengaruh terhadap sumber makanan dan sumber daya alam yang ada di perairan, khususnya Sungai Sesayap,” tegasnya.

Herni menilai upaya menjaga kelestarian sungai tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah, melainkan membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat.

Ia mengajak masyarakat untuk memulai dari hal-hal sederhana, termasuk memberikan edukasi kepada anak-anak sejak dini mengenai pentingnya menjaga lingkungan.

“Minimal dari sejak dini kita bisa mengingatkan anak, jangan buang sampah sembarangan. Edukasi sejak dini itu penting supaya mereka paham tidak boleh membuang sampah atau limbah apa pun ke perairan,” ujarnya.

Menurutnya, kebiasaan lama membuang sampah ke sungai sudah tidak relevan lagi karena saat ini fasilitas pengelolaan sampah telah tersedia.

“Dulu mungkin karena tidak ada tempat sampah. Kalau sekarang sudah ada tempat sampah dan pemerintah juga sudah menyediakan sarana pembuangan sampai ke TPA,” katanya.

Herni berharap masyarakat tidak lagi menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan sampah karena dampaknya akan dirasakan oleh generasi mendatang.

“Minimal kita sebagai orang tua jangan membuang sampah sembarangan sehingga tidak dicontoh oleh anak-anak. Stop kebiasaan lama itu, jangan sampai nanti mereka mengulang kebiasaan buruk yang dulu sering dilakukan,” pungkasnya.

(*)

Penulis : Rismayanti

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.