TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Pemerintah masih belum menetapkan jadwal maupun lokasi pelaksanaan uji coba sistem pembayaran tol nirhenti dan nirsentuh atau Multi Lane Free Flow (MLFF).
Saat ini, pemerintah masih melakukan pendetailan teknis guna memastikan sistem tersebut dapat diterapkan secara optimal pada ekosistem jalan tol di Indonesia sebelum diimplementasikan lebih luas.
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembiayaan Infrastruktur Kementerian Pekerjaan Umum Ni Komang Rasminiati mengatakan, tahapan yang tengah berlangsung difokuskan pada penyusunan skenario pengujian agar seluruh aspek teknis dapat dievaluasi secara menyeluruh.
"Tahap ini kita lagi melakukan pendetailan penyiapan untuk rencana uji coba terhadap sistem ini, apakah bisa diaplikasikan terhadap ekosistem jalan tol di Indonesia," kata Komang, dikutip Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, pemerintah tidak hanya mengkaji kesiapan teknologi, tetapi juga menilai aspek regulasi dan operasional sebelum memutuskan pelaksanaan uji coba.
Baca juga: Jelang Libur Sekolah, Jasa Marga Terapkan Standar Penanganan dari Potensi Kerusakan Jalan Tol
Penyusunan skenario uji coba menjadi langkah penting sebelum pemerintah menentukan kelanjutan implementasi MLFF secara nasional.
Melalui proses tersebut, pemerintah ingin memastikan teknologi pembayaran tanpa berhenti dapat berjalan sesuai karakteristik lalu lintas dan infrastruktur jalan tol di Indonesia, sekaligus meminimalkan potensi kendala saat diterapkan.
MLFF merupakan bagian dari agenda modernisasi sistem transaksi jalan tol yang mulai dikembangkan sejak 2018.
Sistem ini dirancang menggantikan pembayaran berbasis kartu elektronik dengan teknologi yang memungkinkan kendaraan tetap melaju tanpa berhenti atau memperlambat kecepatan secara signifikan di gerbang tol.
Apabila berhasil diterapkan, MLFF diharapkan mampu mengurangi antrean kendaraan, meningkatkan efisiensi perjalanan, serta mempercepat transformasi digital layanan jalan tol nasional.
Guru Besar Universitas Gadjah Mada sekaligus pengamat transportasi Danang Parikesit menilai penerapan teknologi baru seperti MLFF harus dibarengi dengan kemampuan badan usaha jalan tol dalam memenuhi Standar Pelayanan Minimum (SPM).
Menurutnya, terdapat sejumlah faktor eksternal yang dapat memengaruhi pencapaian standar tersebut, termasuk keberadaan kendaraan over dimension over load (ODOL) yang berpotensi mempercepat kerusakan jalan tol.
"SPM harus dipenuhi apabila kapasitas badan usaha jalan tol memungkinkan mereka mengelola variabel-variabel yang memengaruhi pemenuhannya.
Selama badan usaha tidak mampu melarang kendaraan ODOL masuk ke jalan tol dan kendaraan tersebut menyebabkan kerusakan dini, maka mereka dapat memiliki alasan tidak dapat memenuhi SPM," ujar Danang.
Ia menambahkan, penerapan MLFF akan memengaruhi berbagai aspek operasional, mulai dari proses transaksi di gerbang tol hingga pengelolaan layanan pendukung seperti kawasan istirahat.
Karena itu, pengujian yang menyeluruh dinilai penting agar sistem baru tidak menimbulkan persoalan dalam operasional jalan tol.
*Roatex Siap Ikuti Keputusan Pemerintah
Sementara itu, PT Roatex Indonesia Toll System (RITS) menyatakan siap mendukung seluruh tahapan yang sedang disiapkan pemerintah.
Direktur PT RITS Renaldi Utomo mengatakan perusahaan saat ini membantu pemerintah menyusun berbagai skenario teknis pengujian, baik untuk kondisi normal maupun berbagai kemungkinan kendala yang dapat muncul di lapangan.
Menurut Renaldi, koordinasi antara pemerintah dan investor berjalan dengan baik. Sebagai mitra pemerintah, RITS mendukung pendekatan yang mengutamakan pengujian sebelum implementasi dilakukan secara lebih luas.
Meski belum ada kepastian mengenai waktu dan lokasi uji coba, Bali yang sejak awal diproyeksikan sebagai lokasi percontohan masih menjadi salah satu opsi, meski pengujian juga dapat dilakukan di ruas tol lain.
"Kami menunggu arahan pemerintah. Dari 2022 sampai sekarang kami selalu mengikuti arahan yang diberikan pemerintah," kata Renaldi.
Ia juga menegaskan bahwa kontrak kerja sama RITS sejak diterbitkannya surat perintah kerja pada 15 Maret 2022 tetap mengacu pada konsep akhir MLFF.
Namun, pada masa transisi, penggunaan barrier atau palang gerbang tol masih dimungkinkan sebelum sistem nirhenti diterapkan sepenuhnya.
"Kami memang sudah sepakat bahwa dalam proses transisi ini masih mempergunakan barrier. Jadi ada konsep transisi dan ada konsep akhir sesuai desain MLFF. Keputusan akhirnya tentu berada di pemerintah dan kami mendukung," ujar Renaldi.
ANTRE DI TOL - Kendaraan mengantre di gerbang tol. Pemerintah masih mematangkan skenario uji coba sistem Multi Lane Free Flow (MLFF) sebelum diterapkan secara lebih luas. (HO/IST)