Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Albert Aquinaldo
TRIBUNFLORES.COM, ENDE - Sehari setelah kunjungan kerja Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka ke Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur, suara kritik terhadap pemerintah justru muncul dari pelosok daerah tersebut.
Warga Dusun Detukou, Desa Tou Barat, Kecamatan Kotabaru, Kabupaten Ende, memilih turun langsung membuka akses jalan secara swadaya dan manual karena mengaku sudah terlalu lama menunggu realisasi pembangunan dari pemerintah.
Dengan menggunakan peralatan sederhana seperti cangkul, sekop, dan alat seadanya lainnya, warga bergotong royong membuka jalan tanah yang menghubungkan Dusun Boto dengan Dusun Detukou.
Kaum pria bertugas menggali dan membuka badan jalan, sementara para ibu memikul batu untuk mendukung pekerjaan tersebut.
Baca juga: Penjual Bensin Eceran di Maumere Mengeluh, Pertalite Sulit Didapat dari SPBU
Kegiatan itu dilaksanakan setiap hari Jumat atas inisiatif masyarakat bersama pengurus Komunitas Umat Basis (KUB) dan Lingkungan.
Salah seorang warga, Antonius Bata, dalam sebuah video yang diterima TribunFlores.com, Jumat (19/6/2026) malam, menyampaikan kritik keras terhadap pemerintah yang dinilai kurang memperhatikan kondisi masyarakat di wilayah tersebut.
“Daerah kami ini yang tahu itu hanya dari Gereja, pemerintah hampir-hampir tidak tahu. Makanya kami buat keputusan seperti ini. Ini bukan kami mau mengolok pemerintah, tetapi pemerintah kurang perhatikan. Yang kerja di sini, ketua RT dan RW pun tidak ada. Semua ini murni dari KUB, Lingkungan, dan tokoh-tokoh umat,” tegas Antonius.
Menurutnya, warga sudah terlalu lama menantikan pembangunan infrastruktur dasar, khususnya jalan yang menjadi akses utama menuju kampung mereka.
Ia berharap pemerintah mulai dari tingkat desa, kecamatan hingga kabupaten dapat memberikan perhatian serius terhadap kondisi masyarakat di Dusun Detukou.
“Karena selama ini pemerintah hampir-hampir tidak kenal kami maka kami buat seperti ini. Kita tahu pembangunan di wilayah Indonesia sudah mau 80 tahun lebih merdeka, tetapi kami di Detukou ini belum merdeka. Kami sengsara setengah mati. Kami jalan kaki lebih dari enam kilometer dari jalan raya ke kampung,” ujarnya.
Antonius juga menyoroti dampak minimnya infrastruktur terhadap kualitas pendidikan masyarakat. Menurutnya, jumlah warga yang berhasil menamatkan pendidikan hingga tingkat SMA masih sangat sedikit.
Kondisi tersebut, kata dia, merupakan dampak dari keterisolasian wilayah yang telah berlangsung puluhan tahun akibat keterbatasan akses jalan.
Sementara itu, warga lainnya, Romantiana Gepe, mengatakan masyarakat sebenarnya telah berulang kali menyampaikan usulan pembangunan jalan kepada pemerintah desa dari masa ke masa. Namun hingga kini belum ada realisasi yang dirasakan warga.
“Pokoknya dari masa ke masa, dari kepala desa yang sebelum-sebelumnya juga kami pernah usulkan, tapi tidak pernah dilaksanakan,” ungkap Romantiana saat dihubungi melalui telepon seluler, Jumat (19/6/2026) malam.
Ia menjelaskan, kondisi jalan menuju Dusun Detukou masih berupa jalan tanah.
Pada masa pemerintahan kepala desa sebelumnya memang pernah dibangun jalan rabat beton sepanjang sekitar dua kilometer dari total panjang akses sekitar enam kilometer menuju kampung tersebut.
Namun pembangunan itu tidak tuntas hingga mencapai Dusun Detukou.
Dusun Detukou sendiri dihuni sekitar 80 kepala keluarga.
Di wilayah tersebut terdapat fasilitas kesehatan berupa Posyandu.
Selain itu, pernah direncanakan pembangunan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), namun program tersebut tidak berlanjut.
Kesulitan akses jalan juga berdampak langsung terhadap dunia pendidikan.
Anak-anak dari Dusun Detukou harus berjalan kaki sejauh sekitar enam hingga tujuh kilometer setiap hari untuk bersekolah di Dusun Boto.
“Kalau musim panas masih bisa pakai motor, tapi kalau sudah musim hujan sama sekali tidak bisa. Motor juga tidak bisa masuk. Jadi semua warga di sini yang mau ke pasar atau ke kota harus jalan kaki. Mau belanja barang apa pun harus dipikul,” jelasnya.
Menurut Romantiana, masyarakat akhirnya merasa jenuh menunggu janji pembangunan yang tidak kunjung terealisasi.
Karena itu, tokoh masyarakat dan tokoh agama mengambil inisiatif untuk memperbaiki jalan secara mandiri.
“Karena terlalu lama, setiap kali usulan itu pemerintah tidak pernah perhatikan, makanya tokoh masyarakat dan tokoh agama ambil kebijakan sendiri memperbaiki jalan-jalan yang rusak ini,” katanya.
Ia menambahkan, kegiatan swadaya tersebut sudah dilakukan sebanyak tiga kali setiap hari Jumat.
Namun karena dikerjakan secara manual, hingga kini warga baru berhasil membuka akses jalan sepanjang belasan meter.
Masyarakat berharap pemerintah desa, kecamatan, maupun Kabupaten Ende dapat memberikan perhatian terhadap kebutuhan infrastruktur dasar di Dusun Detukou.
“Kami tidak minta yang lain-lain, cukup jalan saja dulu. Soalnya kendala kami di sini itu jalan dan jaringan. Jaringan juga susah. Ini kami telepon sambil berdiri di atas bukit, karena di kampung tidak ada jaringan,” tutup Romantiana. (Bet)