Takir Plontang Tradisi Warga Jawa di Wonomulyo Polman Peringati 1 Muharram Ngumpul dan Doa Bersama
Ilham Mulyawan June 19, 2026 08:47 PM

TRIBUN-SULBAR.COM, POLMAN - Warga suku Jawa di Dusun Ponorogo, desa Bumiayu, Kecamatan Wonomulyo kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar) memiliki tradisi unik dalam memperingati tahun baru islam atau bulan Muharram, Jumat (19/6/2026).

 

Mereka menggelar tradisi Baria'an atau Takir Plontang yakni berkumpul bersama warga kampung di tengah jalan sambil berdoa menolak bala.

Baca juga: Sering Gasak Kotak Amal Masjid, Pemuda di Mamuju Diringkus dengan Motor Curian

Baca juga: MBG di Sulbar Telah Habiskan Rp220 Miliar, Pasokan Bahan Baku Masih Andalkan Luar Daerah

 

Tradisi unik ini dalam rangka memperingati setiap awal tahun baru islam 1 muharram 1448 Hijiryah. 

 

Warga setempat menggelar acara yang diberi nama Bari'an atau Takir Plontang yakni menggelar tikar di jalan.

 

Sembari makan bersama di tengah jalan atau setiap perempatan kampung setempat.

 

Sebelum acara digelar, warga wajib membawa makanan dari rumahnya masing-masing. 

 

Uniknya, jumlah makanan yang dibawa harus sesuai dengan jumlah anggota keluarga yang ada dirumah.

 

Menu yang dihidangkan ini terdiri dari makanan sehari hari seperti nasi putih, nasi kuning, tahu, tempe, telur, ayam dan beberapa menu lainnya.

 

Warga nampak berkumpul dan duduk bersila diatas tikar yang telah digelar di tengah jalan. 

 

Tokoh agama setempat Giat menyebut kegiatan ini diawali dengan do'a bersama menolak bala oleh sesepuh tokoh agama setempat.

 

“Sembari memohon do'a kepada sang pencipta agar selalu diberikan keberkahan di bulan Muharram ini,” kata Giat kepada wartawan.

 

Usai berdoa, warga lalu berebut makanan dana dibagikan kepada warga dan tamu undangan lainnya. 

 

Warga pun dengan suka cita bergembira menyantap menu makanan yang telah disediakan. 

 

Uniknya, makanan yang dihidangkan bukan ditaruh di piring, tetapi menggunakan sebuah wadah yang terbuat dari daun pisang atau janur kelapa yang disebut Takir. 

 

Sejumlah warga juga membawa pulang makanan ke rumahnya untuk dibagikan kepada keluarganya sebagai simbol bisa memperoleh keberkahan dari acara tersebut.

 

Giat mengatakan, acara ini disebut dengana sebutan Bari'an atau takir plontang yang digelar setiap pekan pertama hingga 10 Muharam.

 

Disebutkan tradisi ini telah dilakukan oleh warga suku jawa sejak ratusan tahun lalu sejak dari dari nenek moyang mereka terdahulu. 

 

“Warga berharap semoga mendapat berkah, keselamatan dan kebaikan di awal tahun baru islam 1448 hijriyah ini,” ungkapnya.(*)

 

Laporan Wartawan Tribun-Sulbar.com, Fahrun Ramli 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.