Laporan Wartawan TribunAmbon.com, Jenderal Louis
AMBON, TRIBUNAMBON.COM - Rivalitas antarpendukung tim nasional dalam ajang Piala Dunia 2026 tak terelakkan.
Perang komentar di media sosial, saling ejek saat nonton bareng hingga adu argumen soal tim terbaik menjadi pemandangan yang mewarnai pesta sepak bola terbesar di dunia.
Namun, di Kota Ambon, fanatisme terhadap tim nasional dunia justru berjalan berdampingan dengan nilai-nilai persaudaraan yang telah lama mengakar di masyarakat.
Hal itu diungkapkan Krisna Soselisa, mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada (UGM),
Baca juga: KAMMI Malteng Soroti Rendahnya Kehadiran Legislator, Minta Badan Kehormatan Bertindak Tegas
Baca juga: Jamaah Haji Kloter Pertama Tiba di Ambon, 387 Orang Kembali dengan Selamat dari Tanah Suci
Menurut Krisna, Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar turnamen sepak bola, tetapi juga ruang sosial yang memperlihatkan bagaimana masyarakat membangun identitas melalui tim yang mereka dukung.
"Pilihan tim menjadi pilihan identitas yang bebas, bisa karena kekaguman pada pemain, gaya bermain, atau romantisme sejarah. Justru karena bebas dipilih, identitas itu menjadi penting untuk dipertontonkan. Saat nonton bareng digelar, garis 'katong' dan 'dorang' pun terbentuk, lengkap dengan sorak, ejekan, dan canda yang saling bersahutan," ungkap Krisna, Jumat (19/6/2026).
Ia menjelaskan, fenomena tersebut terlihat jelas di Ambon selama Piala Dunia 2026.
Meski berlangsung di Amerika Serikat, Kanada dan Meksiko sebagai tuan rumah, euforia turnamen turut terasa hingga Maluku.
Ribuan warga Ambon mengenakan jersey berbagai negara seperti Belanda, Argentina, Brasil, Inggris, Jerman, Portugal hingga Spanyol saat mengikuti Ambon Color Fun Walk 2026 yang menjadi bagian dari perayaan HUT ke-451 Kota Ambon.
Di sisi lain, nonton bareng juga digelar di berbagai lokasi, sementara para pejabat daerah turut menunjukkan dukungan kepada tim favorit masing-masing.
Menurut Krisna, antusiasme itu menunjukkan bahwa dukungan terhadap tim nasional dunia tidak dibangun atas dasar kewarganegaraan, melainkan karena kedekatan emosional terhadap pemain, gaya bermain maupun sejarah sebuah negara sepak bola.
Fenomena tersebut kemudian melahirkan fan war, yakni persaingan antarpendukung yang tidak hanya terjadi di dunia nyata, tetapi juga berkembang pesat di media sosial.
"Fan war pada akhirnya bukan soal mencari kebenaran objektif di lapangan hijau, melainkan soal mempertahankan harga diri kolektif para pendukungnya," tulisnya.
Krisna mengutip teori identitas sosial yang menjelaskan bahwa ketika seseorang mengidentifikasi dirinya sebagai bagian dari kelompok pendukung sebuah tim, secara alami muncul dorongan untuk mempertahankan citra positif kelompoknya, bahkan dengan merendahkan kelompok lain.
Di era digital, lanjutnya, algoritma media sosial turut memperbesar polarisasi tersebut.
Konten berupa sindiran, meme hingga video provokatif lebih mudah menarik perhatian dibandingkan konten yang bersifat netral sehingga fan war semakin meluas.
Meski demikian, Krisna menilai Ambon memiliki modal budaya yang mampu menjaga rivalitas tetap berada dalam batas yang sehat.
"Di sinilah Ambon menunjukkan sesuatu yang berbeda. Kota ini punya modal budaya yang tidak dimiliki banyak tempat lain, yakni pela gandong dan filosofi hidup orang basudara, keyakinan bahwa semua warga pada dasarnya adalah satu keluarga besar," tulisnya.
Menurut dia, nilai tersebut terbukti tetap hidup selama Piala Dunia 2026.
Pendukung berbagai tim nasional dapat duduk bersama dalam satu lokasi nonton bareng, saling melontarkan candaan dan ejekan, tetapi tetap menjaga hubungan baik.
"Rivalitas di Ambon dirayakan sebagai bumbu kebersamaan, bukan alasan untuk saling menjauh. Di tempat lain fan war bisa berakhir pada pemblokiran akun atau permusuhan nyata, tetapi di Ambon lebih sering berakhir di meja makan yang sama," ujar Krisna dalam tulisannya.
Ia menilai tantangan terbesar ke depan justru datang dari derasnya arus media sosial.
Generasi muda yang aktif dalam fan war sebagian besar tidak mengalami langsung konflik sosial di Maluku sehingga nilai orang basudara hanya mereka warisi melalui keluarga dan pendidikan.
Karena itu, Krisna menegaskan pengalaman Ambon selama Piala Dunia 2026 menunjukkan budaya populer global tidak harus bertentangan dengan budaya lokal.
"Cerita Ambon selama Piala Dunia 2026 memberi jawaban sementara yang menjanjikan. Budaya populer global dan budaya lokal ternyata tidak harus berhadap-hadapan. Rivalitas boleh berisik, tapi basudara tetap punya tempat di atas segalanya dan itu layak dirawat, jauh setelah peluit panjang turnamen ini berakhir," pungkasnya.(*)