Tradisi Turun Sungai Desa Tengguli Sambas Simbol Rasa Syukur Sambut Tahun Baru Islam
Try Juliansyah June 20, 2026 12:32 AM

TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, SAMBAS - Tradisi berobat kampung di Desa Tengguli, Kecamatan Sajad, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, dikemas meriah melalui Festival Turun Sungai, Jumat 19 Juni 2026.

Rangkaian festival itu ditandai ritual doa bersama memohon keselamatan. Lomba sampan anak-anak, lomba perahu bidar dan lomba perahu hias menyemarakkan agenda ini.

Tokoh adat Desa Tengguli, Ahmadi Samsudi menjelaskan, pelaksanaan Festival Turun Sungai Berobat Kampung dikelola langsung Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Tengguli.

"Dalam tradisi ini, karena kegiatan ini dilimpahkan kepada LPM untuk mengelola dan melaksanakan kegiatan ini, makanya saya selaku anggota LPM sekaligus memimpin dalam acara Festival Turun Sungai Tahun Baru 1 Muharram 1448 ini," jelas Ahmadi Samsudi, yang juga anggota LPM Desa Tengguli.

Upaya Lestarikan Budaya

Ahmadi Samsudi menjelaskan, kegiatan rutin Festival Turun Sungai sebagai upaya melestarikan budaya turun sungai yang diwariskan turun temurun.

Dia bilang setiap menyambut tahun baru Islam warga Desa Tengguli setiap tahun selalu berkumpul di sungai.

Menurut dia, tradisi berobat kampung adalah suatu momen yang harus dijaga dan dirawat sebagai budaya adat budaya Melayu.

Baca juga: 30 Perahu Hias Meriahkan Festival Turun Sungai di Sambas, Tradisi Berobat Kampung Tetap Lestari

Terutama adat budaya Melayu Sambas yang bernuansa Islami.

"Namun kami turun di sungai ini, pertama itu memeriahkan, sangat suka sekali dengan kami, dengan kita semua ini diberi nikmat, sampai saat ini kita masih dapat berada di sini dan dapat berkumpul bersama-sama merayakannya, berarti kita masih diberi kesehatan dan panjang umur," jelasnya.

Dia menjelaskan, perahu hias ditampilkan agar tradisi budaya ini kian semarak.

Pihaknya mengajak warga untuk menampilkan kreativitas perahu hias dengan nuansa islami.

"Untuk itu sukanya kami menurunkan sampan-sampan atau perahu-perahu hias untuk lebih menyemarakkan kegiatan ini di sungai. Dalam kegiatan ini bentuk-bentuk perahu hias yang kami turunkan itu yang merupakan cirinya adat budaya Sambas yang bernuansa Islami," katanya.

Dia mengatakan, perahu hias menyusur sungai dari ujung desa hingga ke pangkal desa kemudian dinilai oleh dewan juri yang telah dibentuk panitia.

"Itulah, setelah itu nanti kami nilai untuk lebih menggairahkan lagi masyarakat, untuk lebih ke depan. Kami nilai kemudiannya, setelah itu nanti selesai kita iring-iringan berjalan di sungai bersama-sama sampai di finish ini, kita akan melaksanakan azan," katanya.

Setelah seluruh perahu hias mencapai finish akan dikumandangkan azan sebagai simbol pentingnya mengingat salat lima waktu.
 
"Walaupun azan itu merupakan syukuran, mengingat kita kepada sholat lima waktu yang lebih penting. Kemudian berdoa untuk keselamatan kita di depan dan mengucapkan selamat tahun baru hijrah 1 Muharram 1448," katanya.

Dia menjelaskan, makna tradisi ini supaya masyarakat Desa Tengguli terus meminta pertolongan dan memohon kelapangan rezeki.

"Doa kita bersama, memohon keselamatan Allah SWT ke depan. Mudah-mudahan kita diberikan rezeki yang banyak, panjang umur, badan sehat, dan memudahkan segala urusan. Itulah niat kami," katanya.

"Tahun ini ada 30 perahu, karena di Desa Tengguli ini ada 30 RT. Masing-masing RT menurunkan 1 perahu hias," ucapnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.