TRIBUNJAKARTA.COM, TANAH ABANG - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax ternyata berdampak pada pengendara ojek online.
Pasalnya, demi mengejar waktu dan menghindari antrean yang mengular, sebagian pengemudi ojol terpaksa beralih menggunakan Pertamax meski harus mengorbankan pendapatan harian mereka.
Hal itu dirasakan betul oleh Eri (50), seorang pengendara ojol yang sehari-hari mengandalkan motornya untuk mencari nafkah.
Eri mengaku kini memilih mengisi kendaraannya dengan Pertamax demi efisiensi waktu, lantaran antrean Pertalite di SPBU sudah tidak masuk akal.
"Kalau untuk sekarang ini kita pakai Pertamax,. Karena Pertalite pertama antriannya sudah enggak bisa diuber," ujar Eri saat ditemui TribunJakarta.com di sekitar gedung DPR RI, Jumat (19/6/2026).
"Kalau dulu kan Pertalite antriannya masih oke lah. Sekarang semenjak Pertamax naik, orang pada beralih ke Pertalite, antriannya gila," tambahnya.
Eri menjelaskan, sebagai pengemudi ojol yang membawa penumpang maupun paket, waktu adalah hal yang sangat berharga.
Konsumen tidak akan mau menunggu lama hanya karena ojol harus mengantre BBM berjam-jam.
Namun, pilihan ini dilematis.
Di satu sisi harga BBM membumbung tinggi, namun di sisi lain tarif ojol yang mereka terima tidak kunjung mengalami penyesuaian.
"Di satu sisi BBM naik, tapi tarif juga enggak naik. Saya biasa isi full tank motor itu kalau dulu Rp 35 ribu, sekarang pakai Pertamax bisa Rp 52 ribu sampai Rp 55 ribu," keluhnya.
Selisih harga yang cukup signifikan itu jelas berdampak langsung pada kantong para driver.
Eri menyebut, jika dipaksakan menggunakan Pertamax, pendapatan bersih yang dibawa pulang ke rumah otomatis berkurang drastis.
"Kalau (pakai) Pertamax nutup sih nutup, cuman jadi berkurang porsinya. Pendapatan bisa berkurang sekitar 15 persenan," kata Eri.
Menurut pantauannya, fenomena antrean Pertalite ini terjadi hampir sepanjang hari, bahkan hingga malam hari.
Banyak pemilik kendaraan mewah yang sebelumnya menggunakan Pertamax, kini ikut berburu Pertalite.
Kondisi ini kian memperparah nasib para driver ojol, khususnya mereka yang konsumsi harian BBM-nya sangat tinggi.
Eri sendiri dalam sehari bisa dua kali isi penuh BBM.
Pasalnya, dalam sehari rata-rata menempuh jarak hingga 300 kilometer demi mengejar target.
"Sehari kita bisa 300 kilo, itu dua kali full tank. Apalagi kalau kita bawa penumpang yang beratnya 50 kilo atau 60 kilo, itu beda sama bawa paket," ujarnya.
Baca juga: Ada Penyakit Bawaan, Roy Suryo dan Dokter Tifa Jalani Rawat Inap di RS Polri Kramat Jati
Baca juga: Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap Polisi, Rismon Sianipar: Metodologi Mereka Tidak Ilmiah
Baca juga: Pekan Depan, Polda Metro Jaya Limpahkan Roy Suryo dan Dokter Tifa ke Kejaksaan