Laporan wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM - Rabu (1/4/2026) pagi, suasana di kandang sapi perah milik Rendy di Dukuh Wangan, Desa Wisata Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tampak lebih sibuk dari biasanya.
Pemuda berusia 24 tahun ini bersiap menyambut kedatangan rombongan peserta Program Local Hero binaan PT PLN Power Unit Pembangkitan Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur.
Kedatangan rombongan tersebut bertujuan mempelajari perawatan sapi perah agar menghasilkan susu secara maksimal hingga pengolahan susu menjadi berbagai produk unggulan Desa Banyuanyar.
Kembali ke Rendy, meski masih berusia muda dan bergelut dengan pekerjaan identik dengan lingkungan kotor, tak pernah gengsi menekuni usaha peternakan sapi perah warisan keluarga.
Rendy saat ditemui Tribunnews.com mengaku, sudah terjun ke dunia sapi perah sejak tujuh tahun lalu. Ia mengawali usahanya dengan merawat tiga ekor sapi hingga berhasil berkembang menjadi tiga belas ekor.
“Sehari-hari saya beraktivitas di tempat pemerahan susu dan perawatan sapi,” ucapnya.
Penghobi burung kicau melanjutkan, untuk susu segarnya dulu dijual ke pengepul dengan harga Rp7.000 per liter, dengan kemampuan produksi 70 liter per hari.
Dirasa hasilnya tidak maksimal, Rendy kemudian memutuskan bergabung dengan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Omah Susu Cowboy di desanya.
Selain dihargai lebih tinggi Rp8.500 per liter, peternak juga mendapatkan pemasukan tambahan dengan mengolah susu menjadi produk bernilai ekonomis lainnya.
“Manfaat yang saya rasakan sebagai anggota, saya didorong untuk meningkatkan nilai jual susu. Omzetnya rata-rata Rp3 juta per bulan,” urai dia.
Hasil yang diperoleh Rendy dari usaha peternakan ternyata tidak kalah dengan pekerjaan kantoran. Bahkan, bisa melampaui Upah Minimum Kabupaten (UMK) Boyolali sebesar Rp2.537.949. Karena itu, ia mengajak generasi muda untuk tidak ragu terjun ke dunia peternakan.
“Banyak masih enggan karena menganggap pekerjaannya kotor. Padahal mereka belum tahu potensi dan hasilnya seperti apa. Semoga semakin banyak anak muda mau mengikuti jejak saya,” ujarnya.
Ketua Omah Susu Cowboy Desa Banyuanyar, Parmono menjelaskan, sejak dari zaman penjajahan Belanda, Dukuh Wangan memang menjadi sentra penghasil susu. Saat ini, peternakan sapi dikelola oleh Kelompok Tani Sumber Widodo.
Pada tahun 2018, muncullah ide dari Kepala Desa Komarudin untuk membentuk desa wisata berbasis pemberdayaan UMKM.
“Awal-awal kita diberi pelatihan oleh BUMDes untuk membuat yogurt dari hasil susu sapi milik kita sendiri,” katanya kepada Tribunnews.com.
Tiga tahun berselang, tepatnya pada 9 September 2021, Omah Susu Cowboy akhirnya resmi dikukuhkan. Sebanyak 20 peternak menjadi anggotanya yang merawat sapi sebanyak 80 ekor.
Nama Omah Cowboy sendiri merupakan perpaduan kata Omah bermakna rumah, Cow yang berarti sapi, dan Boy yang diambil dari nama Boyolali, sebagai identitas daerah penghasil susu yang menjadi kebanggaan masyarakat setempat.
Parmono mengenang, dulu para peternak bekerja sendiri-sendiri dengan memerah susu dan menjualnya ke tengkulak. Akibatnya, hasil yang didapatkan tidak maksimal.
Setelah terbentuknya Omah Susu Cowboy, mereka bisa menambah nilai jual susu lewat berbagai produk olahan, seperti permen susu, stik susu, pai susu, tahu susu, sampai susu bubuk.
“Untuk kapasitas produksi kami bisa 500-600 liter per hari. Untuk selanjutnya kita olah menjadi bermacam-macam produk mengandung susu,” urainya.
Sebagai peternak sekaligus pengurus, Parmono langsung merasakan dampak peningkatan ekonomi dari kegiatan Omah Susu Cowboy.
“Pendapatan kami bisa naik 60 persen. Misalnya susu segar yang biasanya dijual Rp8.500 per liter, kalau sudah diolah menjadi yogurt bisa naik menjadi Rp12.000 per botol ukuran 250 ml. Itu belum dikalikan satu liter susu segar bisa menjadi 3-4 botol yogurt,” lanjut dia.
Sedangkan harga produk lainnya, stik susu Rp15.000 per bungkus ukuran 250 gram, pai susu berisi 6 keping Rp20.000, puding susu Rp3.000 per buah, dan tahu susu isi 8 potong dibanderol Rp20.000.
Keberhasilan Omah Susu Cowboy meningkatkan kesejahteraan anggotanya tidak lepas dari peran Bank Rakyat Indonesia (BRI) lewat Desa BRILiaN, program pemberdayaan dan inkubasi desa.
Parmono mengaku mendapatkan pendampingan khusus dari tim BRI agar membuat produk susu naik kelas.
“Kami dari BRI mendapatkan pelatihan digital marketing, agar produk olahan susu bisa dipasarkan lewat Facebook, WhatsApp, dan Shopee,” tuturnya.
Perjuangan Omah Susu Cowboy beserta 17 UMKM lain di Desa Banyuanyar mengembangkan potensi desa menjadi destinasi wisata pada akhirnya berbuah manis.
Desa Banyuanyar masuk daftar 15 desa terbaik se-Indonesia dalam ajang Desa BRILiaN 2024. Prestasi ini membuat desa semakin banyak dikunjungi dari berbagai instansi hingga lima kali dalam sebulan. Dari aktivitas wisata tersebut, omzet yang bisa dikantongi mencapai Rp1,5 juta dalam sekali kunjungan.
Produk olahan susu dari Omah Susu Cowboy tak hanya laris diburu wisatawan yang datang ke Desa Banyuanyar. Berbagai produk tersebut juga telah merambah pasar di Boyolali dan sejumlah daerah sekitar. Bahkan, pesanan rutin sering datang untuk memenuhi kebutuhan aneka acara, mulai dari pertemuan warga hingga kegiatan berbagai instansi.
Parmono di akhir wawancara berharap usaha olahan susu dari Desa Banyuanyar semakin baik.
“Di tahun-tahun yang akan datang, produk susu dari desa kami bisa berkembang lebih baik dan lebih pesat lagi,” tandasnya.
Dihubungi terpisah, Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin, mengakui sejak lama memang desanya dikenal sebagai sentra produksi kopi dan susu sapi segar salah satu yang terbaik di Kabupaten Boyolali.
Potensi tersebut kemudian dikembangkan melalui Desa Wisata Edukasi Kampung Susu dan Kopi (Kampus Kopi) yang resmi diluncurkan sejak Kamis (27/10/2022).
Sektor UMKM olahan susu dan kopi menjadi ujung tombak dalam menarik kunjungan wisatawan.
"Pondasi utama adalah kampung-kampung UMKM. Ketika UMKM itu jalan, maka wisata jalan," kata Komarudin kepada Tribunnews.com.
Hanya butuh satu tahun, Desa Banyuanyar langsung berhasil meraih penghargaan juara 3 Desa Wisata tingkat Jawa Tengah.
Komarudin melanjutkan, pihaknya lalu memberanikan diri mendaftar program Desa BRILiaN yang diinisiasi BRI.
Ia mengakui tidak mudah suatu desa bisa mengikuti program ini, karena rekomendasi hanya bisa diberikan oleh pimpinan cabang BRI.
"Alhamdulillah 2024 awal, melalui BRI Unit Ampel kami diberikan rekomendasi maju. Dari 22 kecamatan di Boyolali, mengerucutlah Desa Banyuanyar," ujar Komarudin.
Selanjutnya selama 6 bulan, Desa Banyuanyar disibukkan dengan pemenuhan syarat administrasi dan bimbingan melibatkan tim BRI.
Total terdapat ribuan desa di seluruh Indonesia yang mendaftar. Akhirnya Desa Banyuanyar masuk 15 besar Desa BRILiaN 2024 untuk mendapatkan apresiasi berupa dana Corporate Social Responsibility (CSR).
"CSR dimanfaatkan membangun fasilitas penunjang desa wisata," ungkapnya.
Komarudin juga memaknai Desa BRILiaN bukan hanya sekadar ajang pembuktian siapa yang terbaik.
"Program ini untuk berlomba-lomba dalam kebaikan menggali potensi terbaik masing-masing desa," tegasnya.
Social Entrepreneurship & Incubation Division Head PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Evi Sulistiawati menjelaskan, objek pemberdayaan program Desa BRILiaN tidak hanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), namun turut menyentuh pelaku UMKM di desa.
"Mereka adalah penggiat produk unggulan, kita menyebutnya Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan)," kata Evi dalam keterangannya.
Terkait pemberdayaan Desa BRILiaN, mencakup empat pilar. Pertama, ada BUMDes dan Koperasi Desa jadi motor penggerak ekonomi desa. Kedua, digitalisasi yang merupakan implementasi produk dan aktivitas digital di desa. Ketiga, sustainability atau keberlanjutan dalam membangun desa. Dan keempat, kreatif dalam menciptakan inovasi desa.
"Program Desa BRILiaN ada untuk mendukung Asta Cita pemerintahan yang menekankan pembangunan dari desa mencapai pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan," kata Evi.
Sejak diluncurkan pada 2020, program Desa BRILiaN telah diikuti 5.245 desa yang berkomitmen mengembangkan potensi dan perekonomian desanya.
Di tahun 2026, BRI menargetkan akan lahir lagi 1.000 peserta Desa BRILiaN di penjuru Indonesia.
"Semoga pelaksanaan program Desa BRILiaN mampu memberikan kontribusi nyata dan positif bagi kebangkitan ekonomi masyarakat desa," tutupnya. (*)