Laporan wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan
TRIBUNNEWS.COM - “Saya kapok jadi orang miskin.”
Kalimat sederhana itu meluncur dari lisan Ratidjo Hardjo Suwarno saat mengawali kisah perjalanan hidupnya. Singkat, tetapi menyimpan tekad kuat untuk mengubah nasib dengan tangan sendiri.
Kakek berusia 82 tahun ini dikenal sebagai sosok di balik kesuksesan Restoran Jejamuran di Dusun Niron, Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Dalam perbincangan di Restoran Jejamuran, pada Selasa (14/4/2026) siang, ia mengenang masa-masa sulit yang pernah dilaluinya.
Ketika pertama kali merintis, produk olahan jamur yang ia tawarkan tidak diterima masyarakat. Kala itu, jamur masih lekat dengan stigma sebagai bahan pangan beracun dan berbahaya.
Kini, jamur yang dulu dipandang sebelah mata telah bertransformasi menjadi aneka hidangan lezat yang diburu ribuan pengunjung dari orang biasa hingga Wakil Presiden Indonesia. Bagaimana kisah selengkapnya?
Lahir dari keluarga tidak mampu membuat Ratidjo kecil terpaksa membantu perekonomian keluarga dengan menjadi laden tukang sejak usia sekolah. Ia bertugas mencampurkan pasir dengan semen demi sesuap nasi.
Pekerjaan tersebut ia lakoni hingga lulus Sekolah Teknik Menengah (STM) pada 1965. Pria kelahiran 16 April 1944 ini kemudian bekerja di perusahaan batik. Lantaran dijalankan setengah hati, dirinya tidak bertahan lama dan memutuskan keluar di tahun 1966.
“Awalnya yang penting saya kerja dapat uang, padahal saya sama sekali tidak tertarik di dunia industri batik,” kenangnya.
Titik balik kehidupan Ratidjo terjadi pada 1968. Ia menemukan passion ketika mulai bekerja di PT Dieng Djaya, Wonosobo, Jawa Tengah, perusahaan yang bergerak di bidang budidaya jamur kancing.
Kakek 10 orang cucu itu mengaku jatuh cinta dengan tanaman jamur. Baginya, jamur merupakan tanaman yang paling jujur.
“Karena jamur enggak bisa bohong. Kalau dia sakit pasti ada tanda-tandanya. Akhirnya saya paham, sesuatu yang dilakukan dengan hati hasilnya luar biasa. Menanam jamur harus dengan hati dan rasa,” lanjut dia.
Meski bukan dari latar belakang pertanian, Ratidjo tidak pernah membiarkan keterbatasan menghalangi langkahnya. Kecintaannya pada jamur justru menjadi bahan bakar untuk terus belajar.
Saat perusahaan mendatangkan pakar pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan petani jamur asal Taiwan, Ratidjo melihatnya sebagai peluang emas.
Ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk menimba ilmu tentang budidaya jamur, bekal yang kelak mengantarkannya pada kesuksesan.
Perusahaan kemudian mempercayai Ratidjo untuk menanam jamur kancing di wilayah Bandung, Jawa Barat, serta membudidayakan jamur merang di Desa Margorejo, Kabupaten Sleman, Jogja, antara 1980–1985.
Puncak karier korporat diraihnya pada warsa 1993. Dirinya dipercaya memimpin perusahaan pengalengan jamur PT Tuwuh Agung, Kabupaten Kulon Progo.
Berbekal pengalamannya dalam pengolahan jamur, Ratidjo pada akhirnya memberanikan diri keluar dari perusahaan demi mendirikan Resto Jejamuran di usianya tepat 54 tahun.
Baru memulai, Ratidjo harus dihadapkan dengan tantangan berat. Masyarakat awam memiliki stigma negatif jamu yang dianggap beracun.
Kala itu, mereka hanya bisa menikmati jamur satu tahun sekali ketika musim hujan tiba. Jamur tumbuh subur di pekarangan rumah. Padahal, tak semua jamur aman untuk dikonsumsi.
Ratidjo lantas memutar otak mencari cara meyakinkan masyarakat. Bersama sang istri, keduanya mengolah jamur hasil budidaya menjadi kuliner lezat.
Olahan jamur kemudian dibagikan secara gratis demi bisa menghapus stigma negatif.
“Hampir 3 tahun saya sosialisasi. Orang-orang tidak mau beli produk jamur saya, karena takut keracunan, takut mati. Tapi, setelah saya bilang gratis, mereka enggak jadi takut mati," katanya sambil tertawa.
Perjuangan mengenalkan jamur dari rumah ke rumah akhirnya membuahkan hasil. Ratidjo memantapkan diri mendirikan Resto Jejamuran di tahun 2006.
Mendirikan rumah makan juga tidak semudah membalikkan telapak tangan. Hanya ada uang Rp200 ribu di dompet Ratidjo.
“Saya pergi ke pasar loak beli meja kursi bekas untuk melengkapi rumah makan,” katanya.
Ratidjo mengakui tidak mudah baginya mendapatkan kepercayaan bank untuk mengajukan pinjaman mengembangkan usahanya.
Agribisnis yang memiliki risiko gagal besar kerap menjadi penghalang bank menyuntikkan modal.
Akan tetapi, kata menyerah sudah tidak ada di kamus Ratidjo. Ia berhasil menyakinkan Bank Rakyat Indonesia (BRI) hingga mendapat bantuan usaha Rp25 juta.
“Ternyata untuk bisa dipercaya bank itu perlu perjuangan. Di sisi lain, saya juga berkomitmen bisa mengembalikan,” tegasnya.
Hubungan Resto Jejamuran dan BRI lalu berlanjut dengan proses pendampingan.
“Saya sama BRI itu saling membutuhkan supaya sama-sama hidup. Enggak mungkin BRI membiarkan saya. BRI yang membimbing saya,” tambah Ratidjo.
Modal tersebut kemudian digunakan untuk membangun berbagai fasilitas penunjang operasional resto dan pengembangan bisnis di sektor pertanian budidaya jamur seluas 2,5 hektare.
Pelan tapi pasti, Ratidjo mulai bisa menikmati hasilnya. Resto Jejamuran menjelma menjadi ikon kuliner Jogja yang pernah mencatatkan kunjungan terbanyak 3.000 orang dalam satu hari.
“Termasuk pernah ke sini tiga Wakil Presiden, ada Bapak Jusuf Kalla, Bapak Boediono, dan Bapak Try Sutrisno,” katanya dengan bangga.
Kesuksesan Resto Jejamuran juga mengantarkan Ratidjo meraih predikat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terbaik se-Jogja pada 2009.
Tidak sampai di situ, dia juga diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di 2009 dan Presiden Joko Widodo di 2014 ke Istana Negara untuk menerima penghargaan.
Ratidjo ikut memberdayakan 250 karyawan dalam menjalankan operasional sehari-hari Resto Jejamuran.
Sedangkan kunci kelezatan olahan jamur ada di tangan In-daryati, istri dari Ratidjo. Ia berhasil menghadirkan menu sederhana, namun dengan cita rasa istimewa.
“Menu-menu di Jejamuran sebetulnya tidak asing, makanan yang biasa ditemui, seperti tongseng tapi dari jamur, gudeg berbahan jamur. Tapi, kenapa didatangi ribuan orang? Karena kami unik, satu-satunya di Indonesia,” tutup dia.
Pemimpin BRI Cabang Sleman, Akhmad Amri Abadan memberikan apresiasinya atas keberhasilan dan konsistensi Resto Jejamuran dalam mengembangkan usaha kuliner yang tidak hanya menjadi ikon wisata kuliner di Sleman, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.
“BRI Branch Office Sleman merasa bangga dapat menjadi bagian dari perjalanan dan perkembangan usaha Resto Jejamuran. Kami melihat bahwa keberhasilan yang diraih saat ini merupakan hasil dari komitmen yang kuat dalam menjaga kualitas, berinovasi serta memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan,” katanya kepada Tribunnews.com, Rabu (17/6/2026).
Ke depan, lanjut Akhmad, pihaknya berharap Resto Jejamuran dapat terus tumbuh dan berkembang, memperluas jangkauan usahanya, serta menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya untuk naik kelas dan semakin berdaya saing.
BRI juga berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan dunia usaha melalui berbagai layanan perbankan dan solusi keuangan inovatif, sehingga para pelaku usaha dapat mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan.
“Semoga sinergi yang telah terjalin antara BRI dan Resto Jejamuran dapat terus diperkuat, memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, serta turut mendukung kemajuan perekonomian Kabupaten Sleman dan Daerah Istimewa Yogyakarta secara umum,” harap Akhmad.