Limbah dan Sampah Ancam Habitat Pesut di Sungai Sesayap Tana Tidung
Miftah Aulia Anggraini June 20, 2026 08:08 AM

TRIBUNKALTIM.CO, TANA TIDUNG – Ancaman terhadap kelestarian pesut di Sungai Sesayap, Kabupaten Tana Tidung (KTT), Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara), semakin mengkhawatirkan. 

Pencemaran akibat limbah perusahaan, sampah rumah tangga, hingga praktik penangkapan ikan yang merusak dinilai menjadi faktor utama yang dapat mengancam keberlangsungan habitat mamalia air tawar tersebut.

Kepala Bidang Perikanan Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DPPP) Kabupaten Tana Tidung, Herni, mengingatkan bahwa jika kondisi lingkungan perairan terus memburuk, generasi mendatang bisa kehilangan kesempatan untuk menyaksikan langsung pesut yang hidup di Sungai Sesayap.

“Untung-untungan nanti anak saya yang kedua bisa melihat pesut yang ada di sini. Bahkan anak saya yang kecil saja tidak pernah lihat pesut di sini,” ujar Herni kepada TribunKaltara.com, Kamis (19/6/2026).

Baca juga: Viral! Momen Pesut Mahakam Muncul di Perairan Kukar Kaltim

Menurutnya, keberadaan pesut di Sungai Sesayap kini semakin jarang terlihat dibandingkan beberapa tahun lalu.

Padahal, sungai tersebut merupakan salah satu habitat dari satu-satunya jenis lumba-lumba air tawar yang keberadaannya terus menghadapi berbagai ancaman.

Herni menilai pencemaran perairan menjadi salah satu persoalan yang harus segera ditangani.

Karena itu, ia mengimbau perusahaan yang beroperasi di wilayah tersebut untuk tidak membuang limbah langsung ke sungai tanpa melalui proses pengolahan sesuai ketentuan.

Baca juga: Raperda Perlindungan Pesut Mahakam Kukar Mandek Sejak 2022, Ketua DPRD Pastikan Tetap Jadi Prioritas

“Himbauan yang pertama, perusahaan jangan membuang limbah secara langsung sebelum difilter atau mengikuti kaidah yang berlaku,” ujarnya.

Selain itu, masyarakat juga diminta menghentikan kebiasaan membuang sampah ke sungai.

Sampah plastik, botol bekas, hingga limbah minyak dinilai dapat menurunkan kualitas air dan mengganggu kehidupan biota perairan, termasuk pesut.

“Untuk masyarakat jangan membuang sampah sembarangan lagi di sungai. Bekas minyak, botol-botol oli itu kan biasa main lempar saja,” katanya.

Baca juga: KLH Tutup Dua Perusahaan di Kukar, Mengancam Populasi Pesut Mahakam

Ia juga menyoroti limbah bahan bakar dari aktivitas transportasi sungai yang sering kali luput dari perhatian.

“Biasanya speedboat saat mengisi bensin atau solar itu bisa saja tercecer. Hal-hal kecil seperti itu kalau terus terjadi juga berpengaruh terhadap perairan kita,” jelasnya.

Tak hanya pencemaran, praktik destructive fishing atau penangkapan ikan menggunakan racun dan setrum juga disebut menjadi ancaman serius bagi keseimbangan ekosistem Sungai Sesayap.

Cara-cara tersebut tidak hanya membunuh ikan target, tetapi juga merusak rantai makanan yang menjadi sumber kehidupan berbagai biota perairan.

Baca juga: Fakta Video Wanita Ajak Joget Mamalia, Bukan Pesut Mahakam, Jejak Digital Bukan dari Kaltim

“Imbauan keras untuk masyarakat jangan melakukan destructive fishing menggunakan racun dan setrum. Itu sangat berpengaruh terhadap sumber makanan dan sumber daya alam yang ada di perairan, khususnya Sungai Sesayap,” tegasnya.

Herni mengungkapkan, apabila ancaman-ancaman tersebut tidak dihentikan, bukan tidak mungkin pesut hanya akan menjadi cerita bagi generasi mendatang.

“Paling mereka dengar sejarah saja, tapi tidak pernah menyaksikan secara langsung kalau ikan pesut itu berenang di sungai. Padahal salah satu habitatnya ada di Sungai Sesayap,” katanya.

Ia menambahkan, selama ini masyarakat lebih mengenal pesut sebagai satwa yang hidup di Sungai Mahakam, Kalimantan Timur.

Baca juga: Momen Langka Pesut Mahakam Terekam Drone di Sungai Mahakam, Sempat Terjadi Insiden Mendebarkan

Padahal, Sungai Sesayap juga menjadi habitat penting yang harus dijaga bersama.

“Orang-orang tahunya pesut hanya ada di Mahakam saja. Makanya sekarang memang harus kita jaga jangan sampai ikan tersebut punah,” tegasnya.

Karena itu, Herni mengajak seluruh elemen masyarakat untuk ikut menjaga kebersihan sungai dan mengubah kebiasaan lama membuang sampah ke perairan.

Edukasi sejak dini kepada anak-anak juga dinilai penting agar kesadaran menjaga lingkungan dapat tumbuh sejak usia muda.

“Minimal dari sejak dini kita bisa mengingatkan anak, jangan buang sampah sembarangan. Edukasi sejak dini itu penting supaya mereka paham tidak boleh membuang sampah atau limbah apa pun ke perairan,” ujarnya.

Baca juga: Viral Patung Pesut Mahakam di Kukar, Ikon Desa yang Bermodal Rp 350 Ribu

Menurut Herni, saat ini pemerintah telah menyediakan fasilitas pengelolaan sampah sehingga tidak ada lagi alasan menjadikan sungai sebagai tempat pembuangan.

“Dulu mungkin karena tidak ada tempat sampah. Kalau sekarang sudah ada tempat sampah dan pemerintah juga sudah menyediakan sarana pembuangan sampai ke TPA,” katanya.

Ia berharap kebiasaan membuang sampah ke sungai dapat dihentikan demi menjaga kualitas lingkungan dan memastikan pesut tetap dapat hidup di Sungai Sesayap untuk dinikmati generasi mendatang.

“Minimal kita sebagai orang tua jangan membuang sampah sembarangan sehingga tidak dicontoh oleh anak-anak. Stop kebiasaan lama itu, jangan sampai nanti mereka mengulang kebiasaan buruk yang dulu sering dilakukan,” pungkasnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.