TRIBUNLOMBOK.COM - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) terus memperkuat upaya perlindungan bagi Pekerja Migran Indonesia (PMI), tidak hanya bagi para pekerja yang berada di luar negeri, tetapi juga untuk keluarga yang ditinggalkan di kampung halaman.
Komitmen tersebut ditegaskan Gubernur NTB, Lalu Muhamad Iqbal, saat berdialog dengan ratusan PMI asal NTB yang bekerja di perkebunan kelapa sawit milik SD Guthrie di Pulau Carey, Selangor, Malaysia belum lama ini. Berdasarkan data yang dihimpun, sekitar 13 ribu PMI asal NTB bekerja di kawasan perkebunan tersebut
Dalam kesempatan itu, Iqbal mengungkapkan bahwa Pemprov NTB tengah menyiapkan konsep Sekolah Rakyat Terintegrasi yang dikhususkan bagi anak-anak PMI.
Program tersebut dirancang untuk menjamin akses pendidikan yang layak sekaligus memberikan pembinaan karakter dan dukungan sosial bagi anak-anak yang orang tuanya bekerja di luar negeri.
"Kami ingin memastikan bahwa anak-anak PMI tetap memperoleh pendidikan yang berkualitas, lingkungan belajar yang aman, dan pendampingan yang memadai. Keberhasilan pekerja migran tidak hanya diukur dari pendapatan yang diperoleh, tetapi juga dari masa depan keluarganya," ujar Iqbal, Jumat (19/6/2026).
Menurutnya, perhatian terhadap keluarga PMI menjadi bagian penting dari strategi pembangunan sumber daya manusia di NTB. Karena itu, pemerintah daerah berupaya memastikan anak-anak pekerja migran tetap mendapatkan pendampingan yang memadai selama orang tua mereka merantau.
Baca juga: Gubernur NTB Temui Ribuan PMI di Malaysia, Siapkan Skema KUR dan Literasi Keuangan
Selain membahas program pendidikan, Iqbal juga meminta manajemen SD Guthrie membuka jalur koordinasi atau kantor perwakilan di Pulau Lombok. Langkah tersebut dinilai dapat memperkuat komunikasi dan mempercepat penyelesaian berbagai persoalan yang berkaitan dengan PMI asal NTB.
"Kami menitipkan seluruh PMI asal NTB kepada manajemen SD Guthrie agar senantiasa mendapatkan pembinaan, perlindungan, dan perlakuan yang baik sesuai ketentuan yang berlaku," imbuhnya.
Dialog antara gubernur dan para pekerja migran berlangsung hangat dan interaktif. Sejumlah PMI memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyampaikan aspirasi dan masukan terkait peningkatan kualitas calon pekerja migran sebelum diberangkatkan ke luar negeri.
Salah seorang PMI mengusulkan agar pemerintah memperkuat pembekalan mental, kedisiplinan, dan etos kerja bagi calon pekerja migran agar lebih siap menghadapi tantangan di negara tujuan.
"Kami berharap calon PMI ke depan mendapatkan lebih banyak pembekalan tentang disiplin kerja dan tanggung jawab, sehingga ketika tiba di Malaysia mereka lebih siap menghadapi tantangan pekerjaan," usul salah satu pekerja di lokasi.
Usulan tersebut mendapat perhatian dari Pemerintah Provinsi NTB sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas dan daya saing pekerja migran asal daerah.
(*)