WARTAKOTALIVE.COM, DEPOK - Ketua Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Ari Prayitno mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai hantavirus, penyakit yang ditularkan tikus dan dapat memicu gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal.
Meski kasus pada anak tergolong jarang, risiko penularan tetap perlu diantisipasi, terutama di lingkungan dengan sanitasi yang buruk.
Menurut Ari, hantavirus merupakan merupakan kelompok virus RNA dari famili Hantaviridae yang secara alami hidup pada tikus maupun hewan pengerat lainnya.
Hewan yang terinfeksi umumnya tidak menunjukkan gejala, tetapi tetap berpeluang menyebarkan virus melalui urine, air liur, dan kotorannya.
Baca juga: Dinkes Kabupaten Bekasi Tingkatkan Kewaspadaan Hantavirus, Perkuat Deteksi Dini
Sementara itu, meskipun kasus Hantavirus pada anak masih tergolong jarang, penyakit ini tetap perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan gangguan kesehatan serius, terutama pada paru-paru dan ginjal.
“Hantavirus bukan penyakit baru. Namun masyarakat perlu tahu cara penularan dan gejalanya karena pada kondisi tertentu infeksi dapat berkembang menjadi penyakit berat, khususnya bila terlambat dikenali,” kata Ari, Jumat (19/6/2026).
Penularan juga dapat terjadi ketika seseorang menyentuh benda yang telah tercemar kemudian menyentuh mata, hidung, atau mulut, serta melalui gigitan tikus meskipun kasus tersebut lebih jarang ditemukan.
Baca juga: Horor Hantavirus Intai Jabar dan Jakarta, Pemkab Bekasi Terbitkan Status Waspada!
Aktivitas membersihkan gudang, ruangan tertutup, atau area yang lama tidak digunakan tanpa alat pelindung juga dapat meningkatkan risiko paparan.
Sementara itu, penularan antar manusia sendiri sangat jarang terjadi.
Ari menambahkan bahwa anak-anak juga berisiko terinfeksi Hantavirus, terutama bila berada di lingkungan dengan populasi tikus yang tinggi atau sering bermain di area dengan sanitasi kurang baik.
Risiko dapat meningkat pada anak yang bermain di gudang, kebun, rumah kosong, maupun lingkungan pasca banjir.
"Anak memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan sering bermain di berbagai tempat tanpa memahami risiko paparan lingkungan. Karena itu pengawasan orang tua menjadi penting, terutama saat anak bermain di area yang berpotensi terpapar tikus," jelasnya.
Baca juga: 4 Kasus Hantavirus Muncul di Jakarta! Kenali Tipe, Gejala, dan Taktik Jitu Cegah Penularannya
Apabila terinfeksi, Hantavirus dapat menimbulkan dua jenis penyakit utama.
Pertama adalah Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang mengakibatkan gangguan utama pada ginjal dan pembuluh darah.
Kasus HFRS banyak ditemukan di kawasan Asia dan Eropa, termasuk Indonesia. Jenis kedua adalah Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang sistem pernapasan, dengan banyak temuan kasus di kawasan Amerika.
Gejala Hantavirus di fase awal sering kali menyerupai penyakit infeksi lain seperti flu sehingga dapat sulit dikenali.
Anak yang disinyalir terinfeksi dapat mengalami demam tinggi, sakit kepala, nyeri otot, tubuh lemas, mual, muntah, hingga penurunan nafsu makan.
Pada kondisi yang lebih berat, dapat muncul batuk, sesak napas, nyeri perut, perdarahan seperti mimisan, gangguan fungsi ginjal yang ditandai berkurangnya jumlah urine, hingga penurunan kesadaran.
"Gejala awal Hantavirus sering tidak spesifik. Namun bila anak mengalami demam disertai riwayat paparan tikus atau berada di lingkungan yang berisiko, orang tua perlu lebih waspada dan segera memeriksakan anak ke fasilitas kesehatan," ungkapnya.
Lebih jauh, Ari juga menjelaskan bahwa infeksi Hantavirus dapat menjadi berbahaya karena menyerang lapisan pembuluh darah sehingga menyebabkan kebocoran cairan ke jaringan tubuh, termasuk paru-paru.
Kondisi tersebut dapat menimbulkan sesak napas berat, penurunan tekanan darah, syok, hingga gangguan fungsi ginjal.
Untuk menegakkan diagnosis, dokter akan mempertimbangkan riwayat paparan, kondisi lingkungan tempat tinggal, serta aktivitas pasien.
Pemeriksaan laboratorium seperti tes darah, antibodi, maupun PCR dapat dilakukan untuk mendeteksi virus.
Hingga saat ini, belum tersedia terapi antivirus spesifik yang efektif untuk semua jenis Hantavirus, sehingga penanganan berfokus pada terapi suportif sesuai kondisi pasien.
Pencegahan menjadi langkah utama dalam menurunkan risiko infeksi.
Masyarakat diimbau menjaga kebersihan rumah, mengendalikan populasi tikus, menyimpan makanan dengan aman, serta menggunakan masker dan sarung tangan saat membersihkan area berdebu.
Kebiasaan sederhana seperti mencuci tangan setelah beraktivitas juga berperan besar dalam menekan risiko penularan.
Ari menekankan bahwa kesadaran masyarakat adalah kunci esensial dalam pencegahan penularan Hantavirus.
“Langkah sederhana seperti menjaga kebersihan rumah dan menghindari kontak dengan tikus sebenarnya sangat membantu dalam mencegah penularan. Bila anak mengalami demam dengan riwayat paparan tikus, segera periksakan ke fasilitas kesehatan,” ujarnya.
Dengan pengawasan orang tua, kebersihan lingkungan, dan kewaspadaan bersama, risiko Hantavirus dapat ditekan sejak dini.
UI melalui para akademisinya terus berkomitmen memberikan edukasi kesehatan berbasis temuan riset agar masyarakat lebih siap menghadapi ancaman penyakit menular. (m38)