Alasan Pembicaraan Damai AS & Iran di Swiss Mendadak Batal, Harga Minyak Dunia Kini Naik Lagi
Listusista Anggeng Rasmi June 20, 2026 11:44 AM

TRIBUNNEWSMAKER.COM - Harga minyak dunia kembali menunjukkan penguatan pada Jumat (19/6/2026) setelah agenda pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran yang sedianya digelar di Swiss mendadak dibatalkan.

Keputusan yang datang secara tiba-tiba itu langsung memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap masa depan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Para investor menilai batalnya perundingan tersebut menjadi sinyal bahwa jalan menuju perdamaian permanen masih dipenuhi ketidakpastian.

Situasi ini membuat pasar energi global kembali diliputi ketegangan dan mendorong harga minyak bergerak naik.

Mengutip CNBC, perkembangan terbaru tersebut menunjukkan bahwa upaya mengubah kesepakatan sementara antara Washington dan Teheran menjadi perjanjian damai yang lebih permanen masih menghadapi tantangan besar.

Kekhawatiran terhadap potensi gangguan pasokan energi global kembali mencuat seiring munculnya ketidakjelasan arah negosiasi kedua negara.

Akibatnya, pelaku pasar memilih mengambil langkah antisipatif dengan meningkatkan aktivitas perdagangan di sektor energi.

Data perdagangan menunjukkan kontrak berjangka minyak mentah Brent yang menjadi acuan internasional naik 0,8 persen menjadi 80,48 dollar AS per barel pada pukul 11.41 waktu setempat.

Baca juga: Kesepakatan Damai AS-Iran Guncang Pasar Energi Global, Harga Minyak Dunia Turun dari Level Tertinggi

KONFLIK TIMUR TENGAH - AS dan Iran kembali berunding di Swiss, hasil perdamaian ditentukan pada Jumat mendatang terbaru (Dok./Hasil Buatan AI)

Sementara itu, kontrak berjangka West Texas Intermediate (WTI) juga mencatat kenaikan hampir 1 persen hingga menyentuh level 77,35 dollar AS per barel.

Kenaikan tersebut terjadi setelah sebelumnya harga minyak sempat mengalami tekanan akibat kabar gencatan senjata antara Israel dan kelompok Hezbollah yang didukung Iran.

Namun optimisme pasar yang sempat muncul kembali memudar setelah kabar pembatalan perundingan damai mencuat.

Kementerian Luar Negeri Swiss mengonfirmasi bahwa pembicaraan AS-Iran yang dijadwalkan berlangsung di kawasan Bürgenstock pada Jumat tidak akan terlaksana sesuai rencana.

Pembatalan itu langsung menjadi perhatian dunia karena pertemuan tersebut sebelumnya diharapkan menjadi langkah penting menuju penyelesaian konflik yang lebih luas. Kondisi ini memperlihatkan bahwa dinamika geopolitik masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak global.

Dengan ketidakpastian yang terus berlangsung, pasar kini menanti perkembangan selanjutnya sambil bersiap menghadapi kemungkinan gejolak baru di sektor energi internasional.

Ada Persoalan Logistik

Gedung Putih juga mengonfirmasi bahwa Wakil Presiden AS, JD Vance, tidak lagi melakukan perjalanan ke Swiss karena masih adanya persoalan logistik yang belum terselesaikan terkait negosiasi tersebut.

Sehari sebelumnya, Vance mengatakan kapal tanker yang mengangkut lebih dari 12 juta barrel minyak berhasil melintasi Selat Hormuz dalam semalam.

“Orang-orang Iran, untuk malam kedua berturut-turut, tidak menembaki kapal-kapal di Selat Hormuz,” kata Vance kepada wartawan.

“Sejauh ini, mereka menghormati bagian komitmen mereka," lanjutnya.

PETINGGI IRAN - Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref berbicara selama Forum Ekonomi Kaspia ketiga di Teheran pada 18 Februari 2025. Pejabat senior Iran pada Senin (18/8/2025)
PETINGGI IRAN - Wakil Presiden Pertama Iran Mohammad Reza Aref berbicara selama Forum Ekonomi Kaspia ketiga di Teheran pada 18 Februari 2025. Pejabat senior Iran pada Senin (18/8/2025) (Dok./Kompas.com)

Baca juga: Mojtaba Khamenei Tegaskan Iran Tak Berada dalam Tekanan saat Sepakat Damai, Sindir Trump: Putus Asa

Secara terpisah, Sekretaris Jenderal OPEC, Haitham Al Ghais, mengatakan dalam wawancara eksklusif bahwa organisasi tersebut tidak memperkirakan permintaan minyak akan mencapai puncaknya dalam waktu dekat.

Ia juga menolak proyeksi dari International Energy Agency yang memperkirakan akan terjadi surplus pasokan di masa depan.

“Kami fokus pada fundamental dan tidak memasukkan terlalu banyak kemungkinan dalam proyeksi kami, melainkan berfokus pada angka-angka aktual,” ujarnya.

Analis PVM Oil Associates, Tamas Varga, mengatakan pembukaan kembali secara bersyarat Selat Hormuz yang strategis, dicabutnya status force majeure oleh Kuwait, serta berakhirnya blokade angkatan laut AS telah meyakinkan investor bahwa gangguan pasokan yang sempat mendorong harga minyak melampaui US$120 per barel kini benar-benar telah berakhir.

“Gencatan senjata selama 60 hari merupakan langkah yang jelas ke arah yang tepat.

Namun, bahkan jika kesepakatan ini bertahan, aksi jual baru-baru ini mungkin tidak berkelanjutan dalam jangka pendek," kata Varga.

Sementara itu, analis pasar Axi, Tiago Lacerda, memperkirakan harga minyak akan bergerak di kisaran 75 dollar AS hingga 82 dollar AS per barrel dalam waktu dekat.

Menurutnya, harga Brent saat ini telah turun sekitar 36 persen dibandingkan puncaknya selama konflik berlangsung.

“Perhatian dengan cepat beralih pada apakah pembukaan kembali jalur fisik benar-benar akan terjadi," ujar Lacerda.

"Sejumlah perusahaan pelayaran besar masih belum melanjutkan pelayaran mereka dan tarif asuransi tetap tinggi, yang menunjukkan pasar masih berhati-hati terhadap kecepatan normalisasi,” lanjutnya.

(Tribunnewsmaker.com/ Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.