Tak Pernah Padam, Rumah Mbah Sarnuh di Sukabumi Tetap Terang Tanpa Listrik dari PLN Bertahun-tahun
Vivi Febrianti June 20, 2026 12:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Pemadaman listrik bergilir di kawasan perkotaan Sukabumi belakangan menjadi perhatian warga karena berdampak pada aktivitas rumah tangga hingga layanan publik.

Namun, di pelosok Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, dua rumah dan satu mushala milik Sarnuh tetap terang meski tidak bergantung pada pasokan listrik dari PLN.

Warga yang akrab disapa Mbah Sarnuh itu memanfaatkan aliran air di sekitar tempat tinggalnya sebagai sumber energi mandiri.

Melalui kincir air sederhana yang terhubung dengan dinamo, aliran air diubah menjadi energi listrik, lalu disalurkan ke rumah dan mushala melalui jaringan kabel.

“Jadi itu kan air maju menggerakkan kincir, ada gesekan di dalam kumparan, jadi itu tenaga listrik yang kemudian dialirkan ke rumah,” kata Mbah Sarnuh saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Minggu (14/6/2026) siang.

Mbah Sarnuh mulai menetap di Desa Sukamulya, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, pada 1998.

Saat pertama kali tinggal di kawasan tersebut, ia membuka lahan untuk bertani dan hanya mengandalkan lampu petromaks sebagai penerangan pada malam hari.

Kondisi itu berlangsung selama bertahun-tahun hingga ia mulai mencari cara lain setelah minyak tanah semakin sulit didapat.

“Tahun 1998 masih menggunakan lampu petromaks dengan bahan bakar minyak tanah, dari situ kan minyak tanah susah didapat,” tutur Mbah Sarnuh dikutip dari Kompas.com (18/6/2026).

Pilihan menggunakan mesin diesel juga tidak dianggap cocok karena membutuhkan solar atau bensin secara terus-menerus.

“Jadi cari alternatif, kalau misal pakai diesel kan harus ada solar atau bensin, saya kan bukan orang bergaji,” ujarnya.

Pada 2007, Mbah Sarnuh sempat ditawari pemasangan listrik PLN. Namun, biaya pembelian kabel menjadi pertimbangan besar karena jarak rumahnya cukup jauh dari jaringan listrik yang tersedia.

“Terus sempat ditawarin pasang listrik dari PLN itu tahun 2007, tapi harus beli kabel dengan panjang 32 rol, 1 rol kabel itu Rp 100.000, jadi Rp 3,2 juta kalau mau pasang listrik,” kata Mbah Sarnuh.

Ia juga khawatir harus mengeluarkan biaya tambahan apabila kabel mengalami kerusakan atau dicuri.

“Kalau ada yang sabotase kabel kan harus punya uang lagi,” ucapnya.

Memilih membuat listrik sendiri

Kesulitan mendapatkan minyak tanah dan mahalnya biaya pemasangan listrik membuat Mbah Sarnuh mencari solusi sendiri. 

Ia kemudian pergi ke Kota Sukabumi untuk membeli dinamo dan sejumlah peralatan pendukung.

Biaya yang dikeluarkan saat itu sekitar Rp 3,2 juta atau setara dengan biaya pembelian kabel jika ia memasang listrik dari PLN.

“Saya akhirnya pergi ke Kota Sukabumi untuk beli dinamo dan alat lainnya, dengan harganya yang sama Rp 3,2 juta sudah bisa dapat listrik dan itu sampai sekarang tidak mengeluarkan biaya lagi,” ujar Mbah Sarnuh.

Sejak menggunakan kincir air dan dinamo, Mbah Sarnuh mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam memenuhi kebutuhan listrik sehari-hari.

Sistem tersebut tetap dapat digunakan, termasuk saat musim kemarau.

Listrik yang dihasilkan juga bisa diatur sesuai kebutuhan.

“Listrik di sini mah bisa diatur besar kecil volume yang diinginkan,” kata Mbah Sarnuh.

Menurut dia, perawatan yang dilakukan selama ini relatif sederhana.

“Kalau kendala mah enggak ada, paling hanya ganti lampu saja karena usianya mungkin,” ujarnya.

Kini, Mbah Sarnuh menikmati masa tuanya dengan bertani di sekitar rumahnya.

Ia tinggal bersama sang istri, sementara anak-anaknya telah menjalani kehidupan masing-masing.

Aktivitas bertaninya juga lebih ringan karena pembeli kerap datang langsung ke rumah untuk mengambil hasil panen.

“Di sini juga sambil bertani dan sekarang enggak usah turun ke bawah untuk jual hasilnya, suka sudah ada yang beli dan datang ke sini untuk langsung diangkut,” kata Mbah Sarnuh.

Kediaman Mbah Sarnuh dapat dicapai dengan berjalan kaki sekitar satu jam dari area parkir dekat tempat wisata Vila Kaca Pasir Datar.

Akses menuju rumahnya berupa jalan menanjak dan berbatu, sehingga sulit dilalui sepeda motor biasa.

Selain itu, di sepanjang perjalanan hanya terlihat beberapa sepeda motor yang sudah dimodifikasi seperti motor trail untuk mengangkut sayuran.

(Sumber: KOMPAS.com/ Riki Achmad Saepulloh | Editor: Icha Rastika)

Sumber: Kompas.com

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.