Gelombang Protes Mahasiswa Ditandingi Ribuan Pendukung MBG, Gelar Unjuk Kekuatan di Malang
Sinta Manilasari June 20, 2026 01:03 PM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Aksi dari para mahasiswa yang menuntut untuk dihentikannya program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini mendapatkan aksi tandingan.

Mengutip informasi dari Kompas.com, aksi tandingan salah satunya terjadi di Kota Malang, Jawa Timur.

Aksi tandingan ini berasal dari para perwakilan pengusaha.

Mereka terdiri dari perwakilan pengusaha, relawan, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, peternak, hingga mitra pelaksana program di Malang Raya.

Baca juga: Kecopetan saat di Pura, Bangli, Turis AS Iba dan Justru Beri Uang Usai Mengetahui Pelaku Tuna Wicara

Gelombang tandingan dari perwakilan para pengusaha ini dilakukan pada Sabtu (20/6/2026).

Ribuan orang yang mengatasnamakan perwakilan pengusaha, sukarelawan, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), petani, peternak, hingga mitra pelaksana program MBG di wilayah Malang Raya turun ke jalan untuk menyatakan dukungan terhadap program tersebut.

simpatisan MBG turun ke jalan apel akbar dan senam bersama di Balai Kota Malang pada Sabtu (20/6/2026). (KOMPAS.com/ PUTU AYU PRATAMA SUGIYO)
simpatisan MBG turun ke jalan apel akbar dan senam bersama di Balai Kota Malang pada Sabtu (20/6/2026). (KOMPAS.com/ PUTU AYU PRATAMA SUGIYO) (Kompas.com)

Aksi ini menjadi semacam gerakan tandingan terhadap demonstrasi yang sebelumnya dilakukan kelompok mahasiswa. Jika massa mahasiswa identik mengenakan pakaian serba hitam saat menyampaikan aspirasi, para pendukung MBG tampil kompak dengan busana serba putih.

Di lokasi kegiatan, sejumlah poster bertuliskan “Prabowo Baik” terlihat dibawa oleh peserta aksi dan tersebar di sekitar kawasan bundaran Balai Kota Malang.

Selain itu, sebuah panggung besar lengkap dengan sistem pengeras suara dipasang di area antara Gedung DPRD dan Balai Kota Malang sebagai pusat kegiatan massa.

Di sisi kiri panggung, tepat di depan gedung DPRD, tampak sebuah spanduk berukuran besar dengan tulisan bernada provokatif yang berbunyi “USIR MAHASEWA YANG MENGAKU MAHASISWA DARI BUMI AREMA” berwarna merah mencolok.

Pelaku Ekosistem MBG Resah

Koordinator Apel Akbar, Gandung Panjalu, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lahir dari keresahan para pelaku yang terlibat dalam ekosistem MBG.

Menurutnya, berbagai aksi penolakan terhadap program tersebut dalam beberapa waktu terakhir menimbulkan kekhawatiran di kalangan petani, pelaku UMKM, peternak, dan pedagang.

"Kegiatan ini berawal dari keresahan pelaku-pelaku petani, UMKM, kemudian para peternak, pedagang sayur, yang terimbas eskalasi politik akhir-akhir ini, menguat di publik tentang program strategis nasional yang digagas oleh Presiden Prabowo," ujar Gandung saat ditemui di lokasi acara, Sabtu (20/6/2026).

Ia menambahkan, kegiatan yang dikemas dalam bentuk Apel Akbar dan senam bersama simpatisan MBG Malang Raya sengaja dirancang sebagai aktivitas yang membawa pesan positif kepada masyarakat.

Menurut Gandung, gerakan tersebut diharapkan dapat mengembalikan fokus publik terhadap manfaat program MBG yang dinilai telah memberikan dampak ekonomi bagi berbagai lapisan masyarakat di Malang Raya.

"Kegiatan yang menggaungkan energi positif ini agar program MBG ini bisa berjalan dengan dukungan masyarakat, dan target capaian penerima manfaat bisa meningkat sampai 82 juta seperti instruksi dari Pak Presiden Prabowo," katanya.

Sementara itu, salah satu penggagas kegiatan, Raden Djoni Sudjatmoko, menyebut apel akbar tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah yang dianggap mampu memberikan stimulus ekonomi nyata bagi masyarakat di tingkat bawah.

Menurut Djoni, MBG tidak hanya berfungsi sebagai program penyediaan makanan bergizi bagi masyarakat, tetapi juga menjadi penggerak roda perekonomian rakyat dari sektor paling dasar.

"Kalau sebuah negara ingin berkembang dan membangun, tentu membutuhkan energi positif. Kami melihat MBG ini bukan hanya program pemberian makanan bergizi, tetapi juga menggerakkan ekonomi rakyat dari bawah," ujar Djoni.

Ia menjelaskan bahwa manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima langsung, seperti para siswa sekolah.

Dampaknya juga menjalar ke sektor hulu, mulai dari petani, peternak ayam petelur, pedagang sayur, hingga pelaku UMKM katering yang terlibat dalam rantai pasok program tersebut.

Menurut Djoni, kebutuhan bahan pangan yang harus dipenuhi setiap hari melalui program MBG menciptakan permintaan yang lebih stabil sehingga memberikan kepastian pasar bagi berbagai pelaku usaha dan sektor pertanian.

"Permintaan bahan pangan menjadi lebih stabil karena kebutuhan gizi harus dipenuhi setiap hari. Petani, peternak ayam petelur, pedagang sayur, semuanya mendapatkan kepastian pasar. Ini yang selama ini dirasakan langsung oleh masyarakat," tuturnya.

Di sisi lain, Djoni menilai berbagai persoalan teknis yang sempat muncul dalam pelaksanaan MBG, termasuk beberapa kasus keracunan makanan di sejumlah daerah, tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghentikan program secara keseluruhan.

Ia menegaskan bahwa proses evaluasi dan perbaikan terus dilakukan secara berkelanjutan, baik dari aspek kebersihan dapur, pengawasan distribusi, maupun penguatan standar operasional prosedur (SOP) di tingkat Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG).

"Kalau ada kekurangan tentu harus diperbaiki. Tetapi yang sudah berjalan baik jangan sampai dihentikan. Di lapangan, perbaikan terus dilakukan dan tingkat kesalahan sudah semakin minim," kata Djoni. (Kompas.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.