Siapa Kliwon Alwawan, Nasabah Bank Hadiahi Umroh untuk Nenek Juru Parkir Penyelamat Rp3,6 M
Evan Saputra June 20, 2026 02:03 PM

BANGKAPOS.COM -- Sosok Kliwon Alwawan menjadi sorotan setelah memberikan hadiah umroh kepada Kusmiah (61), seorang juru parkir yang juga berjualan kopi di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Brebes, Jawa Tengah.

Hadiah tersebut diberikan sebagai bentuk rasa terima kasih atas keberanian Kusmiah yang berhasil menggagalkan aksi pencurian uang tunai senilai Rp3,6 miliar milik Kliwon.

Peristiwa itu terjadi pada Senin (15/6/2026). Saat itu, Kliwon baru saja mengambil uang dalam jumlah besar dari sebuah bank di Kabupaten Brebes.

Usai keluar dari bank, ia mulai merasa ada yang tidak beres karena melihat sejumlah pengendara sepeda motor yang terus mengikuti kendaraannya.

Baca juga: Harga Emas Antam Hari Ini Sabtu 20 Juli 2026 Terpantau Turun, Cek Juga Ketentuan Buybacak

Merasa dibuntuti, Kliwon kemudian mengarahkan mobilnya ke kantor Bank BTN yang lokasinya tidak jauh dari tempat pengambilan uang.

Ia bermaksud memastikan kondisi sekitar sekaligus mencari tempat yang dianggap lebih aman.

Namun ketika Kliwon masuk ke dalam gedung bank, para pelaku yang diduga sudah mengawasi pergerakannya langsung menjalankan aksinya.

Salah satu pelaku memecahkan kaca samping mobil Pajero Sport hitam milik korban, lalu mengambil kantong plastik berisi uang tunai yang tersimpan di dalam kendaraan.

Aksi tersebut ternyata diketahui oleh Kusmiah yang saat itu sedang menjaga area parkir di sekitar lokasi.

Tanpa ragu, perempuan lanjut usia itu berteriak meminta pertolongan warga.

Teriakan tersebut membuat suasana mendadak ramai dan menarik perhatian orang-orang di sekitar lokasi.

Para pelaku yang panik akhirnya gagal membawa kabur seluruh uang yang sempat mereka ambil.

Sejumlah uang bahkan sempat berhamburan di jalan sebelum akhirnya berhasil diamankan kembali. Setelah itu, para pelaku melarikan diri menggunakan sepeda motor.

Mendengar keributan tersebut, Kliwon segera keluar dari dalam bank dan mendapati kaca mobilnya sudah pecah serta uang miliknya berserakan.

"Saya tadi dari BCA kemudian ke BTN, ambil uang Rp3,6 miliar," ujarnya saat ditemui Tribunjateng.com di Mapolres Brebes saat hendak melakukan pelaporan.

"Saya melihat ada orang memecah kaca mobil, lalu mengambil bungkusan plastik dari dalam mobil. Saya langsung teriak, pencuri... pencuri...," imbuhnya.

Saksi lain bernama Jari yang juga berprofesi sebagai juru parkir mengaku sempat menaruh curiga kepada seorang pria yang berada di atas sepeda motor Vario putih.

"Saya sempat tanya menunggu siapa, Mas. Tapi belum sempat dijawab, dia langsung kabur setelah mendengar teriakan maling dari warga," ungkap Jari.

Tidak lama berselang, petugas Unit Reaksi Cepat (URC) Satreskrim Polres Brebes tiba di lokasi untuk melakukan olah TKP dan meminta keterangan dari korban maupun para saksi.

Baca juga: Jadi Agen BRILink, Pemuda Sungaiselan Ini Kini Jadi Pilihan Warga Bertransaksi Keuangan

Sempat Diberi Uang Rp100 Ribu

Sebagai ungkapan terima kasih, Kliwon awalnya memberikan uang sebesar Rp100 ribu kepada Kusmiah setelah uang miliaran rupiah miliknya berhasil diselamatkan.

Namun, Kusmiah tidak menikmati uang tersebut seorang diri. Ia membagikannya kepada tiga orang lain yang turut membantu saat kejadian, yakni dua rekan sesama juru parkir dan seorang pengemudi ojek online.

Masing-masing menerima bagian sebesar Rp25 ribu.

"Dikasih Rp 100 ribu dibagi empat. Farid, Wawan, Udin, terus saya," kata Kusmiah dikutip dari Kompas.com.

Bagi Kusmiah, tindakannya saat itu bukan dilakukan demi mendapatkan hadiah atau imbalan. Ia hanya berusaha membantu ketika melihat aksi kejahatan terjadi di depan matanya.

Beri Hadiah Umroh
 
Tak hanya memberikan uang Rp 100 ribu, Kliwon ternyata memberikan hadiah perjalanan Umron untuk Kusmiah. 

Sesuai jadwal yang disusun, Kusmiah akan segera berangkat terbang menuju ke Tanah Suci Mekkah pada bulan Agustus 2026 mendatang.

Menurut Kusmiah, ia sama sekali tidak pernah terbersit untuk meminta imbalan apa pun atau pamrih sebagai balas jasa atas aksi heroiknya waktu itu.

Saat itu, Kliwon sengaja datang jauh-jauh dari kediamannya di wilayah Kluwut khusus untuk menemuinya secara langsung di Brebes.

“Pak Kliwon bilang mau silaturahmi sama saya. Terus bilang mau tanda terima kasih, mau ngajak umrah. Saya bilang kalau memang mau ngajak umrah, ya alhamdulillah, matur nuwun sangat,” katanya mengenang ucapan sang nasabah.

Tawaran berangkat ke Arab Saudi tersebut seketika menjadi kejutan yang tak pernah dibayangkan dalam mimpi Kusmiah sebelumnya.

Dengan kondisi keuangan keluarga yang pas-pasan, keinginan terpendam untuk menunaikan ibadah umrah selama ini hanya bisa ia simpan rapat-rapat di dalam lubuk hati.

Meski hari keberangkatan ke Timur Tengah sudah semakin dekat, perempuan yang tercatat telah melakoni profesi sebagai juru parkir jalanan sejak tahun 1995 itu mengaku tidak melakukan persiapan logistik yang mewah atau khusus menjelang keberangkatannya.

Ia hanya memikirkan persiapan pakaian dan perlengkapan sederhana yang dirasa perlu dibawa di dalam tas jinjingnya nanti.

“Pakaian saja buat ganti di sana. Yang penting perlengkapan dari sana sudah dapat dari umrah,” ujarnya pasrah.

Sambil menunggu keberangkatan ke tanah suci, Kusmiah masih konsisten menjajakan seduhan kopi hitam dan minuman ringan kemasan.

Penghasilan harian dari peluh keringatnya itu pun diakui masih jauh dari kata besar. Dari hasil berjualan kopi keliling, ia kadang hanya memperoleh pemasukan bersih sekitar Rp 60.000 per hari.

Sementara dari pekerjaan utamanya sebagai juru parkir resmi, pendapatannya hanya berkisar antara Rp 30.000 hingga Rp 40.000 sehari.

“Kalau umrah sendiri, saya enggak punya duit,” ujar Kusmiah dengan polos saat menceritakan kembali momen haru ketika dirinya menerima tawaran umrah dari Kliwon saat ditemui Kompas.com di kediamannya, Jumat (19/6/2026).

Kusmiah tercatat telah menghabiskan sebagian besar lembaran hidupnya dengan bekerja keras mencari nafkah di pinggir jalanan aspal yang panas.

Ia bahkan mengaku sudah tidak ingat secara pasti berapa total hitungan tahun dirinya menjalani profesi kasar tersebut.

Setiap pagi hari, ia harus rela menempuh perjalanan jauh sejauh belasan kilometer dari rumah tinggalnya menuju pusat roda ekonomi kota untuk mulai bekerja.

Jalur transportasi tersebut ia lalui secara fluktuatif, terkadang menumpang angkutan kota (angkot), berjalan kaki ritmik, atau sesekali menebeng kendaraan motor milik orang lewat yang kebetulan mengenalnya.

“Saya enggak ngerti berapa tahun. Dulu ngertinya markir motor 100 perak, mobil 300. Kalau sekarang kadang dua ribu atau seribu sedikasihnya,” katanya berkisah sembari melempar senyum ramah.

Pekerjaan berat itu seketika langsung menjadi tiang penopang hidup tunggal bagi keluarganya, pasca sang suami tercinta, Darpin, meninggal dunia mendahuluinya sekitar tujuh tahun yang lalu.

Dari hasil pernikahannya dengan mendiang suami, Kusmiah dikaruniai lima orang anak kandung. Namun, garis takdir menentukan satu anaknya telah meninggal dunia terlebih dahulu.

Kini, kehadiran enam orang cucu tercinta menjadi satu-satunya energi dan obat penyemangat utama di masa usia senjanya yang kian menua.

Sosok Kliwon

TIdak banyak informasi tentang sosoknya. Hanya disebutkan dia tinggal di Desa Kluwut, Kecamatan Bulakamba, Brebes. 

Pekerjaan Kliwon juga belum terungkap.

Dia hanya mengaku, kerap mengambil uang dengan jumlah banyak setiap harinya untuk keperluan bisnisnya. 

Namun hari ini, dewi fortuna masih berpihak padanya, setelah uang yang ia bawa di dalam mobil Pajero miliknya hampir raib digasak kawanan maling. (kompas.com/tribun jateng)

(Kompas.com/Tribun Jateng/Surya.co.id/Bangkapos.com)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.