Laporan Wartawan TribunJatim.com, Danendra Kusuma
TRIBUNJATIM,COM, NGANJUK - Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk mencatat sebanyak 20.239 ekor hewan kurban dipotong selama pelaksanaan Idul Adha 2026.
Data tersebut diperoleh melalui pemantauan dan pendataan di berbagai wilayah Kabupaten Nganjuk dan telah dilaporkan kepada Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sebagai data resmi tahun 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Ida Sohibatin, mengatakan pendataan pemotongan hewan kurban telah selesai dilakukan dan menjadi bahan evaluasi untuk pelaksanaan pengawasan pada tahun-tahun berikutnya.
"Pendataan pemotongan hewan kurban sudah kami tutup dan telah dilaporkan kepada Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur sebagai data resmi Tahun 2026," kata, Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, Ida Sohibatin, Jumat (19/6/2026).
Baca juga: Wakil Bupati Nganjuk Trihandy Turun Langsung Tata Kabel Optik Semrawut, Wujudkan Kota Lebih Asri
Berdasarkan hasil rekapitulasi, jumlah hewan kurban terdiri dari sapi jantan 1.707 ekor, sapi betina tidak produktif 5 ekor, kerbau 4 ekor, kambing 17.059 ekor, dan domba 1.464 ekor.
Kambing masih menjadi hewan kurban yang paling dominan dengan kontribusi sekitar 84,3 persen dari total keseluruhan.
Selain pendataan jumlah pemotongan, Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk juga melakukan pengawasan kesehatan hewan melalui pemeriksaan antemortem dan postmortem.
Pada 2026 tercatat sebanyak 102 titik pemeriksaan yang tersebar di 20 kecamatan dan 284 desa/kelurahan, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
"Data ini menjadi bagian penting untuk evaluasi sekaligus pembanding pelaksanaan pemantauan hewan kurban pada tahun berikutnya," sebutnya.
Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kabupaten Nganjuk, drh. Ery Cahyono, menyatakan pengawasan kesehatan hewan menjadi bagian penting untuk memastikan hewan kurban yang dipotong memenuhi standar kesehatan dan aman dikonsumsi masyarakat.
"Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan kondisi hewan sebelum dipotong dan kualitas daging setelah pemotongan. Kami juga ingin memastikan pelaksanaan kurban berjalan dengan baik, sehat, dan sesuai ketentuan," ujarnya.
Menurut Ery, sektor peternakan masih menjadi salah satu tulang punggung perekonomian di Kabupaten Nganjuk.
Perkembangan usaha peternakan, termasuk tingginya nilai investasi pada komoditas hewan kurban, menunjukkan adanya peluang besar yang dapat dimanfaatkan masyarakat, terutama generasi muda.
Dari sisi ekonomi, nilai transaksi hewan kurban 2026 diperkirakan mencapai Rp 104,45 miliar.
Nilai tersebut berasal dari estimasi transaksi sapi sekitar Rp 40,97 miliar, kambing sekitar Rp 59,71 miliar, domba sekitar Rp 3,66 miliar, dan kerbau sekitar Rp 120 juta.
Data pemotongan hewan kurban 2026 juga menunjukkan tren peningkatan dibandingkan Tahun 2020 yang tercatat sebanyak 12.853 ekor menjadi 20.239 ekor pada Tahun 2026 atau tumbuh sekitar 57,5 persen.
"Peternakan masih menjadi bagian penting dalam menggerakkan perekonomian Kabupaten Nganjuk. Nilai investasi ternak kurban yang terus meningkat menjadi daya tarik bagi peternak milenial untuk mulai mengembangkan usaha peternakan secara lebih serius dan berkelanjutan," tutupnya