Kisah Kereta Trem di Hong Kong yang Menjadi Jalur Trem Terbesar dunia
Alfa Pratomo June 20, 2026 02:34 PM

Trem Ding Ding Hong Kong (Hong Kong Tramways) menjadi moda transportasi paling ramah lingkungan di kota ini. Ia juga menjadi semacam antitesis kehidupan kota yang begitu gegas dan cepat.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari Online.com - Sejarah dunia mencatat, Hong Kong adalah kota yang menjadi titik temu antara budaya timur dan barat.

Transformasi Hong Kong sangat luar biasa. Ia berubah dari sebuah desa nelayan kecil sepi menjadi salah satu pusat keuangan terbesar di dunia (statusnya adalahDaerah Administratif Khusus dari Republik Rakyat Tiongkok).

Sejarah Hong Kong dapat dibagi menjadi beberapa periode penting. Sebelum kedatangan bangsa Eropa, wilayah ini dihuni oleh komunitas nelayan dan petani kecil dan sudah menjadi bagian dari China sejak era Dinasti Qin (214 SM).

Selama berabad-abad, Hong Kong juga berfungsi sebagai pelabuhan perdagangan komersial dan tempat produksi garam bagi dinasti-dinasti berikutnya. Seperti Dinasti Song dan Dinasti Ming.

Titik balik sejarah Hong Kong terjadi pada abad ke-19 saat terjadi ketegangan dagang antara Inggris dan Dinasti Qing. Juga saat Perang Dunia II ketika Jepang melakukan okupasi.

Selama Perang Dunia II,kedamaian Hong Kong terusik. Hanya beberapa jam setelah menyerang Pearl Harbor pada Desember 1941, Jepang meluncurkan serangan ke Hong Kong.

Inggris menyerah, dan Hong Kong berada di bawah pendudukan militer Jepang selama tiga tahun delapan bulan. Periode ini dipenuhi penderitaan, kelaparan, dan hiperinflasi sebelum akhirnya Inggris kembali mengambil kendali setelah Jepang kalah pada tahun 1945.

Setelah PD II dan setelah Partai Komunis menguasai Tiongkok daratan pada 1949, jutaan pengungsi dari Tiongkok--yang berhaluan nasionalis--kabur ke Hong Kong. Para imigran ini membawa modal, keterampilan, dan tenaga kerja murah.

Hong Kong pun bertransformasi menjadi pusat industri manufaktur (terutama tekstil dan elektronik) hingga akhirnya berevolusi menjadi hub keuangan dan perdagangan global yang modern.

Kini Hong Kong menjadi kota metropolitan yang berkembang laksana sangat pesat. Gedung-gedung pencakar langit dibangun di setiap sudut kota.

Di tengah kepungan gedung pencakar langit berlapis kaca, gemerlap lampu neon, dan deru kereta bawah tanah (MTR) yang super cepat, ada satu suara yang menarik yang terdengar. “Ding... ding!” begitu bunyinya.

Itu adalah suara lonceng ganda yang khas. Suara bersumber dari Hong Kong Tramways atau kereta trem Hong Kong.

Karena suaranya yang khas itu, masyarakat setempat menyebut moda transportasi ini sebagai "Ding Ding". Bayangkan saja, di tengah salah satu kota paling futuristik dan sibuk di dunia, ada trem tingkat (double-decker) bertenaga listrik melaju santai membelah Pulau Hong Kong, seolah kapsul waktu berjalan yang menghubungkan masa lalu dan masa kini.

Cerita trem Ding Ding Hongkong bisa ditarik sejak masa penjajahan Inggris. Pada 30 Juli 1904, jaringan trem resmi beroperasi untuk pertama kalinya.

Itu artinya, jauh sebelum adaMTR (kereta subway) dibangun membelah perut bumi Hong Kong atau bus-bus modern menguasai jalanan, trem adalah tulang punggung transportasi publik di sana. Awalnya, armada trem didatangkan langsung dari Inggris dalam bentuk rakitan. Trem generasi pertama ini adalah trem dek tunggal (single-deck).

Pada 1912, trem Hongkong berevolusi. Karena melonjaknya jumlah penumpang, pada tahun itu, Hong Kong Tramways memperkenalkan desain dua tingkat (double-decker).

Versi awal dek atas ini sempat menggunakan atap terbuka. Tapi karena cuaca Hong Kong yang kerap dilanda hujan badai dan sirkulasi udara yang panas, desainnya diubah menjadi tertutup seperti yang kita lihat hari ini.

Trem Hongkong telah melewati berbagai era krusial. Mulai dari masa pendudukan Jepang (di mana operasional sempat terhenti karena krisis listrik), pemogokan massal pasca-Perang Dunia II, hingga momen pengembalian kedaulatan Hong Kong dari Inggris ke China pada 1997.

Julukan "Ding Ding" lahir dari kearifan lokal yang organik. Sebelum era klakson elektronik, masinis trem menginjak pedal lonceng berbahan kuningan untuk memperingatkan pejalan kaki yang menyeberang rel. Bunyi “ding-ding” yang nyaring ini menjadi ritme harian kota.

Bagi warga Hong Kong, suara ini adalah nostalgia masa kecil. Sementara bagi para komuter, suara ini adalah penanda bahwa perjalanan mereka akan sampai ke tempat tujuan.

Melihat peta transportasi Hong Kong modern seperti kereta bawah tanah MTR, keberadaan Ding Ding sekilas terasa tidak masuk akal. Di kota yang menganggap waktu adalah uang dan segalanya bergerak dalam kecepatan tinggi, trem ini hanya melaju dengan kecepatan rata-rata 10–20 km/jam, jauh berbeda dengan laju MTR.

Namun, alih-alih punah, Ding Ding justru menjadi ikon kota yang tak tergantikan. Alasan utamanya, kereta trem Hong Kong adalah transportasi paling ekonomis.

Di salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi di dunia, tarif kereta tram Ding Ding luar biasa murahnya -- dibanding moda transportasi lainnya. Hanya dengan beberapa dolar Hong Kong (flat jauh-dekat) kita bisa melintasi kota dengan moda transportasi warisan Inggris ini.

Hal ini menjadikan trem Ding Ding menjadi moda transportasi ramah kantong terutama untuk lansia, pelajar, dan pekerja kelas menengah ke bawah -- juta untuk para pelancong. Satu lagi, menaiki trem Ding Ding di lantai dua dan duduk dekat jendela yang sengaja dibuka, kita akan mendapatkan pengalaman perjalanan yang sangat berkesan.

Dengan cara seperti itu, kita bisa merasakan embusan angin, mencium aroma makanan dari restoran lokal yang dilewati, dan melihat papan reklame raksasa yang seolah bisa disentuh dengan tangan. Pengalaman ini menjadi semacam antitesis dari MTR yang dingin dan tergesa-gesa dan serba cepat.

Meskipun terkesan kuno, jalur trem Ding Ding membentang sepanjang 16 kilometer di sepanjang pantai utara Pulau Hong Kong (dari Kennedy Town hingga Shau Kei Wan). Jalur ini melewati distrik-distrik penting seperti Central (pusat bisnis), Wan Chai (area komersial), dan Causeway Bay (surga belanja).

Salah satu fakta unik yang jarang diketahui orang adalah trem Ding Sing dicatat dan diakui oleh Guinness World Records sebagai moda transportasi kereta trem tingkat (double-deck) fungsional terbesar di dunia yang masih beroperasi hingga saat ini.

Yang juga istimewa, Trem Ding Ding Hongkong tergolong ramah lingkungan karena100% bertenaga listrik. Hal ini membuat moda transportasi ini menjadi salah satu yang paling ramah lingkungan di Hong Kong sejak 1904.

Meskipun eksteriornya mempertahankan nuansa retro (beberapa berbahan rangka kayu), teknologi internalnya terus diperbarui. Termasuk sistem pembayaran digital (memakai Octopus card) dan pelacakan rute berbasis aplikasi.

Hari ini, trem Ding Ding bukan lagi sekadar alat untuk berpindah dari poin A ke poin B. Trem hongkong ini adalah ruang budaya bergerak.

Di luar perannya sebagai komuter harian, trem ini sering disewa untuk pesta privat, menjadi latar belakang film-film sinematik (seperti karya sutradara Wong Kar-wai), dan menjadi kanvas berjalan bagi iklan-iklan seni yang estetis. Ketika senja tiba di Hong Kong, dan lampu-lampu gedung pencakar langit mulai menyala, perhatikanlah rel baja yang membelah jalanan aspal. Di sana, ada sebuah kotak hijau tua berlampu kuning hangat akan lewat dengan perlahan. Itulah trem Ding Ding Hong Kong.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.