TRIBUNAMBON.COM - Tim Peneliti Jurusan Teknik Mesin Politeknik Negeri Ambon (POLNAM) berhasil memanfaatkan buangan hasil pengolahan sagu (Ela) menjadi material peredam suara.
Kepada TribunAmbon.com, Graciadiana I Huka, ST., MT selaku ketua tim menjelaskan, serat pada ela sagu cukup kuat yang setelah dimodifikasi kimia dengan Natrium Hidroksida (NaOH), menghasilkan material komposit dengan kemampuan mereduksi suara.
Setelah diuji, material ini mampu mereduksi intensitas suara hingga 9,8 desibel (dB), atau membuat ruangan 50 persen lebih tenang.
"Serat 3 cm membentuk anyaman tiga dimensi kompleks yang menaikkan nilai tortuositas (jalur interior berbelok-belok), sehingga gelombang suara terperangkap di dalam interior papan," jelasnya.
Selain itu, material komposit ini bisa dikembangkan berkelanjutan untuk kebutuhan interior dan sejenisnya.
Menurutnya, inovasi ini merupakan salah satu upaya mitigasi pencemaran lingkungan mengingat limbah sagu (Ela) cukup tinggi di wilayah Provinsi Maluku.
Diketahui, provinsi berjuluk bumi Raja-Raja ini memiliki potensi hutan sagu seluas 36.462 hektare, dan jika diolah terlebih untuk industri, maka limbah sagu juga tak sedikit
Lanjutnya, dampak ekologi limbah sagu sangat serius karena karakteristik ampas sagu mentah bersifat sangat asam (pH 4,2–4,6).
Saat menumpuk di air, kadar oksigen terlarut merosot tajam dan mengancam biota perairan, sementara di darat, cairan hasil pembusukan (lindi) berpotensi mencemari cadangan air tanah warga.
Manfaat lingkungan lainnya yakni memecahkan masalah kelembapan tropis dengan menekan laju penyerapan air hingga 0,296 % , sehingga aman dari risiko pembengkakan struktural.
Bahkan, jika inovasi sampai ke tahap hilirisasi, akan sangat mendukung arsitektur hijau dan Ekonomi Sirkular berkelanjutan melalui tiga keunggulan strategis;
"Kami berharap adanya penelitian ini dapat mengubah citra empulur sagu yang sering kali dianggap sebagai limbah atau hasil sampingan pertanian berwujud rendah, menjadi bahan baku akustik premium serta menjadi batu loncatan untuk menciptakan Bio-Acoustic Board yang berbasis kearifan lokal, berperforma tinggi, ekonomis, dan berkelanjutan," tandasnya.
Untuk diketahui, penelitian ini dilakukan bersama Nevada J. M. Nanulaitta, ST., MT., dan Josef Matheus, SST., MT. (*)