Sejarah Hari Bidan Nasional yang Diperingati Setiap 24 Juni
Novaldi Hibaturrahman June 20, 2026 04:45 PM

TRIBUNSUMSEL.COM - Hari Bidan Nasional diperingati pada tanggal 24 Juni setiap tahunnya.

Adapun tahun ini, Hari Bidan Nasional memasuki usia peringatan ke-75 tahun, tepat pada Rabu 24 Juni 2026.

Lantas bagaimana sejarah diperingatinya Hari Bidan Nasional setiap tanggal 24 Juni ini?

Asal-Usul Nama "Bidan"

Istilah Bidan dikutip dari http://bppsdmk.kemkes.go.id, berasal dari kata “Widwan” berasal dari Bahasa Sanksekerta yang berarti “Cakap” (Klinkert, 1892).

Di samping itu terdapat istilah “Membidan” yang artinya mengadakan sedekah bagi penolong persalinan yang minta diri setelah bayi berumur 40 hari.

Sedangkan dalam Bahasa Inggris “Midwife” berarti with woman as birth, the renewal of life continues through the ages. “With Woman” maksudnya adalah pada saat mendampingi perempuan selama proses persalinan.

Pada saat memberikan pelayanan kebidanan, seorang bidan harus mempunyai rasa empati, keterbukaan, menumbuhkan rasa saling percaya (trust), bidan harus mengetahui pikiran dan perasaan serta proses yang dialami ibu dan keluarganya.

Menurut WHO Bidan adalah seseorang yang telah diakui secara reguler dalam program pendidikan kebidanan sebagaimana yang diakui yuridis, di mana ia ditempatkan dan telah menyelesaikan pendidikan kebidanan dan telah mendapatkan kualifikasi serta terdaftardisahkan dan mendapatkan ijin melaksanakan praktik kebidanan.

Sejarah Hari Bidan Nasional

Mengutip laman Dinas Kesehatan Provinsi NTB, National Midwife Day atau Hari Bidan Nasional bertujuan untuk memberi kesadaran masyarakan tentang mulianya seorang bidan.

Latar belakang Hari Bidan Nasional tak lepas dari berdirinya Ikatan Bidan Indonesia (IBI) atas hasil konferensi bidan pertama pada 24 Juni 1951.

Saat itu, sejumlah bidan senior di Jakarta mendidikan IBI dengan misi menggalang persatuan dan persaudaraan antar sesama bidan.

Mengutip dari buku Sejarah Kesehatan Nasional Indonesia, konferensi pertama ini berhasil meletakkan landasan yang kuat serta arah yang dirasa perlu yaitu mendirikan organisasi profesi IBI, berbentuk kesatuan, bersifat nasional, dengan azas Pancasila dan UUD 1945.

Dalam konferensi IBI pertama juga dirumuskan tujuan organisasi IBI dan kesepakatan untuk menjadikan IBI sebagai satu-satunya wadah organisasi bagi Bidan di seluruh Indonesia.

Pada tanggal 15 Oktober 1954 IBI akhirnya disahkan menjadi organisasi berbadan hukum serta terdaftar dalam Lembaga Negara.

Tujuan Konferensi Ikatan Bidan Indonesia, antara lain:

1. Menggalang persatuan dan persaudaaran antar sesama bidan dan kaum wanita pada umumnya dalam memperkokoh persatuan Indonesia.

2. Membina pengetahuan serta keterampilan anggota dalam profesi kebidanan, khususnya dalam pelayanan Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dan kesejahteraan keluarga.

3. Membantu pemerintah dalam pembangunan nasional, terutama dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.

4. Meningkatkan martabat dan kedudukan bidan dalam masyarakat.

Melansir laman PKBI DIY, Ikatan Bidan Indonesia berada di dalam naungan organisasi wanita bernama Kongres Wanita Indonesia (KOWANI).

Pada 1956, IBI resmi menjadi anggota International of Midwaves (ICM).

Dimana, Ikatan Bidan Indonesia aktif dalam berbagai pada kegiatan internasional, khususnya kongres ICM serta kongres ICM Regional Asia Pasific (ASPAC).

Melansir laman IBI, saat ini, IBI telah memiliki setidaknya 361356 anggota yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia dengan 34 Pengurus Daerah di tingkat provinsi.

Baca juga: Hari Yoga Internasional: Sejarah, Asal-usul Yoga, Manfaat Kesehatan hingga Tren yang Mendunia

Baca juga: Sejarah Hari Jadi Kota Palembang Diperingati Tanggal 17 Juni 2026, Makna Julukan Venesia dari Timur

Baca juga: Hari Media Sosial Indonesia Diperingati 10 Juni, Sejarah, Perkembangan dan Tantangan di Era Digital

Ikuti dan bergabung di saluran WhatsApp Tribunsumsel

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.