TRIBUNBANTEN.COM - Mantan aktris cilik, Paola Serena belakangan menjadi sorotan karena mengunggah momen dirinya bersama teman pria yang mengenakan kebaya saat mengikuti acara Kirab Malam 1 Suro Mangkunegaran di Pura Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah.
Dalam foto-foto yang sempat dibagikan dan viral di media sosial, teman pria Paola Serena tersebut mengenakan kebaya dan sanggul layaknya seorang perempuan.
Bahkan Paola Serena juga sempat menyebut bahwa teman prianya tersebut sudah mendapatkan izin untuk mengenakan kebaya.
Atas unggahannya tersebut, Paola Serena dan teman prianya itu ramai mendapatkan hujatan dari warganet.
Belakangan setelah unggahan Paola Serena viral, pihak Pura Mangkunegaran memberikan klarifikasi.
Membantah memberikan izin pria untuk memakai kebaya, Pura Mangkunegaran menegaskan sudah merilis aturan mengenai panduan ageman atau busana untuk ritual adat 1 Sura.
"Mangkunegaran mengucapkan terima kasih atas antusiasme masyarakat yang begitu besar dalam mengikuti peringatan Malam 1 Sura Be 1960.
Mangkunegaran telah mengeluarkan panduan ageman untuk ritual adat 1 Sura, panitia penyelenggara 1 Sura BE 1960 tidak pernah memberikan izin, dispensasi, ataupun perlakuan khusus kepada pihak mana pun.
Semoga semangat refleksi, ketertiban, dan saling menghormati yang hadir dalam peringatan Malam 1 Sura Be 1960 dapat terus menjadi bagian dari kehidupan bersama serta memperkuat hubungan masyarakat dengan nilai-nilai budaya yang diwariskan lintas generasi," tulis Pura Mangkunegaran melalui Instagram @info.mn pada Kamis, 18 Juni 2026 lalu.
Pada unggahan lain, secara jelas Pura Mangkunegaran telah mengumumkan mengenai panduan ageman untuk masyarakat umum yang akan mengikuti Kirab Malam 1 Suro.
Panduan tersebut memuat secara jelas mengenai aturan ageman untuk pria dan wanita.
Kebaya hitam dan sanggul tradisional ukel untuk wanita, sedangkan beskap krowok hitam dengan blangkon gaya Mangkunegaran untuk pria.
Paola Serena akhirnya meminta maaf atas kegaduhan yang ia timbulkan gara-gara unggahannya tersebut.
"Halo semuanya, sebelumnya tanpa mengurangi rasa hormat, saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya atas kegaduhan yang timbul akibat unggahan saya kemarin bersama seorang teman laki-laki yang mengenakan kebaya dan atribut perempuan dalam acara 1 Suro.
Setelah menyadari bahwa unggahan tersebut dapat dipandang tidak sejalan dengan nilai, aturan, budaya, serta makna yang dijunjung dalam tradisi tersebut, saya segera menghapusnya. Unggahan yang pada awalnya saya bagikan sebagai dokumentasi dan kenangan pribadi ternyata menimbulkan keresahan dan kesalahpahaman, terlebih setelah tanggapan yang saya berikan kepada salah satu komentar mengenai pakaian teman saya.
Tanpa mengurangi ketulusan permintaan maaf ini, saya hanya ingin meluruskan bahwa saya tidak berbohong terkait pernyataan mengenai izin yang saya sampaikan. Saya hanya menyampaikan apa yang saya tau. Terlepas dari hal itu, saya menyadari bahwa saya telah melakukan kesalahan karena kurang peka dan kurang memahami secara mendalam makna, nilaim serta dampak dari tradisi ini bagi banyak pihak.
Saya menerima segala masukan dan kritik yang diberikan dengan cara yang baik dan sopan sebagai pembelajaran berharga bagi diri saya agar dapat lebih bijaksana dan berhati-hati di kemudian hari.
Sekali lagi, dari lubuk hati yang paling dalam, saya memohon maaf atas kekhilafan dan ketidaknyamanan yang telah saya sebabkan.
Terima kasih atas pengertian dan kesempatan yang diberikan kepada saya untuk belajar mandiri menjadi pribadi yang lebih baik," tulis Paola pada Kamis, 18 Juni 2026.
(*)