TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Gamelan Gombloh berkolaborasi dengan Limelight Agency, tim mahasiswa semester VI Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FISIP UAJY), akan menyelenggarakan diskusi budaya bertajuk "Jejak Nada Nusantara: Gamelan Gombloh" pada Minggu, 21 Juni 2026, pukul 16.30–18.30 WIB, di Gayam 16, Yogyakarta.
Kegiatan ini merupakan ruang edukasi sekaligus apresiasi budaya yang mengajak masyarakat untuk mengenal lebih dekat perjalanan seni gamelan, mulai dari filosofi, proses pembuatannya, perkembangan musik gamelan hingga perannya sebagai bagian dari identitas budaya Indonesia.
Melalui konsep diskusi interaktif, acara ini diharapkan mampu menjadi wadah bertemunya akademisi, pelaku seni, mahasiswa, komunitas kreatif, serta masyarakat umum dalam memperkuat kepedulian terhadap pelestarian budaya Nusantara.
Untuk memberikan wawasan yang komprehensif, Jejak Nada Nusantara menghadirkan dua tokoh yang telah lama berkecimpung dalam dunia gamelan.
Sudaryanto, seorang composer Gamelan Yogyakarta, akan hadir sebagai tamu khusus untuk berbagi pengalaman mengenai perjalanan berkarya, perkembangan komposisi gamelan kontemporer, serta bagaimana gamelan terus berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai tradisinya.
Sementara itu, Gito Siswoyo, seorang perajin gamelan, akan mengulas proses pembuatan gamelan secara tradisional, filosofi di balik setiap instrumen, pemilihan material, hingga tantangan dalam menjaga keberlangsungan kerajinan gamelan di era modern.
Melalui penyelenggaraan Jejak Nada Nusantara, Gamelan Gombloh berharap masyarakat tidak hanya mengenal gamelan sebagai pertunjukan seni, tetapi juga memahami nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya.
Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata dalam mendekatkan warisan budaya Indonesia kepada generasi muda sekaligus memperkuat kolaborasi antara dunia akademik, pelaku budaya, dan masyarakat dalam menjaga keberlangsungan seni tradisional.
Gamelan Gombloh mengacu pada sosok Mbah Gombloh (Gito Siswoyo), perajin alat musik gamelan legendaris di Bantul, DI Yogyakarta.
Mbah Gombloh sudah aktif sebagai perajin alat musik gamelan sejak puluhan tahun yang lalu.
Bahkan, tempat produksi itu tidak pernah pindah dan selalu berada di RT 5, Padukuhan Bibis, Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul.
"Setiap hari saya membuat gamelan dan dibantu sama karyawan saya," katanya, belum lama ini.
Walau kini Ia tak lagi muda, namun semangat untuk berkarya dan melestarikan warisan budaya yang diakui resmi oleh UNESCO itu masih terus membara di dalam hatinya.
Usut punya usut, sebelum menekuni usaha tersebut, Mbah Gombloh ternyata memiliki rasa cinta dengan musik yang sangat mendalam.
Bahkan, sejak 1976, dia sempat bekerja di salah satu pembuat alat musik gamelan di Kabupaten Bantul.
Hal itu kemudian mengahantarkannya untuk berani berkarya dan menjadi perajin gamelan yang eksis hingga saat ini.
"Jadi setelah ikut kerja di tempat orang lain, saya mulai berani membuat gamelan dan menjualnya. Saya mulai jalankan usaha ini sejak 1983," urainya.
Menurutnya, membuat gamelan menjadi salah satu hobi yang menghasilkan nilai jual tinggi.
Sebab, harga alat musik tradisional yang dia buat bisa mencapai lebih dari setengah miliar rupiah.
Untuk harga jual gamelan dari bahan material besi, bisa Rp35 juta-Rp75 juta. Sedangkan dari bahan kuningan bisa mencapai Rp175 juta-Rp200 juta. Dan untuk satu set gamelan perunggu lengkap itu bisa sampai Rp350 juta-Rp700 juta.
Katanya, semakin tinggi harga jual, maka semakin tinggi pula kualitas dan kuantitas bahan serta suara gamelan tersebut.
Ditambahkan, hasil karya Mbah Gombloh juga kerap dicari oleh konsumen dari berbagai wilayah. Tidak hanya dari kalangan domestik, katanya, gamelan tersebut juga ada yang dibeli oleh konsumen dari mancanegara.
Namun, baginya tidak mudah untuk membuat alat musik tradisional tersebut.
Setidaknya dibutuhkan waktu, tenaga dan kesabaran yang cukup untuk membuat gamelan itu.
"Misalnya untuk satu set gamelan. Produksinya itu bisa sampai sebulan. Kadang juga saya datangkan ahli musik tradisional untuk menyelaraskan nada yang dipesan sama konsumen itu," jelasnya.