TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Muhammad Tegar Ananta, pelajar asal Jambi, mencatatkan prestasi membanggakan setelah diterima di empat perguruan tinggi ternama di dunia, yakni di Inggris, Australia, Semarang, dan Kairo, Mesir.
Tak hanya itu, Tegar juga masih menunggu hasil seleksi dari salah satu kampus di Arab Saudi.
Kesuksesan Tegar tersebut menarik perhatian publik dan menjadi inspirasi bagi banyak generasi muda yang bercita-cita menembus kampus-kampus bergengsi di tingkat nasional maupun internasional.
Lalu, apa rahasia dan perjuangan Tegar hingga berhasil meraih pencapaian tersebut?
Berikut petikan wawancara bersama Tegar, bersama Host Tribun Jambi, Duanto Asto Sudrajat:
Tribun Jambi: Tegar, sekarang sedang berada di mana?
Tegar: Sekarang saya sedang berada di Palembang untuk mempersiapkan ujian.
Tribun Jambi: Ujian apa yang sedang dipersiapkan? Bisa dijelaskan kepada Tribun Jambi?
Tegar: Ujian kenaikan sebagai salah satu persyaratan untuk berangkat ke Mesir.
Tribun Jambi: Ke Mesir berarti sudah dipastikan berangkat ke Kairo, tepatnya ke Universitas Al-Azhar?
Tegar: Iya, insyaallah ke Al-Azhar.
Tribun Jambi: Kapan rencananya berangkat ke Mesir?
Tegar: Sekitar bulan Agustus.
Perjuangan Diterima di Kampus Internasional
Tribun Jambi: Berarti Agustus nanti sudah berada di Kairo. Bang Tegar, boleh diceritakan perjalanan hingga bisa diterima di empat kampus tersebut?
Tegar: Awalnya sebelum pendaftaran SNBP. Saat itu saya tidak mengambil jalur SNBP karena berpikir ingin fokus ke Timur Tengah. Namun kemudian saya merasa kalau hanya fokus ke satu tujuan cukup berisiko. Kalau tidak lulus bagaimana? Akhirnya saya memberanikan diri untuk mencoba beberapa jalur sekaligus. Saat jadwal SNBT berlangsung, saya juga mendaftar ke Mesir, Arab Saudi, dan ULBI. Alhamdulillah, saya lulus di empat kampus dan dua lainnya masih menunggu hasil.
Tribun Jambi: Saat itu pendaftarannya bersamaan dengan SNBT?
Tegar: Iya, bersamaan dengan SNBT.
Tribun Jambi: Kampus mana saja yang didaftarkan?
Tegar: Pertama di Kairo.
Tribun Jambi: Kairo satu.
Tegar: Kemudian DLI Deakin Lancaster University.
Tribun Jambi: Ya, Lancaster yang kedua.
Tegar: Lalu ULBI.
Tribun Jambi: ULBI.
Tegar: Kemudian Study in Saudi untuk Madinah dan Al-Qassimiyah.
Tribun Jambi: Kemudian yang satu lagi, UNNES melalui jalur prestasi?
Tegar: Iya, melalui jalur tes MT.
Tribun Jambi: Kapan mulai menerima kabar diterima di empat kampus tersebut?
Tegar: Waktunya berbeda-beda.
Tribun Jambi: Berbeda-beda?
Tegar: Iya. Yang pertama keluar hasilnya ULBI. Setelah itu sekitar seminggu kemudian hasil Kairo keluar. Kemudian DLI, lalu SNBT.
Tribun Jambi: Dalam rentang waktu berapa lama informasi itu diterima?
Tegar: Sekitar satu bulan.
Tribun Jambi: Berarti sekitar bulan Mei?
Tegar: Iya, mendekati masa kelulusan.
Tribun Jambi: Saat mengetahui diterima di empat kampus, apa yang ada di pikiran Tegar?
Tegar: Sebenarnya ketika mendengar lulus Mesir saja saya sudah sangat bersyukur karena sudah memiliki tujuan yang jelas. Namun ketika kemudian dinyatakan lulus di Deakin Lancaster dan lainnya, saya sempat bimbang. Tetapi sampai sekarang tetap memilih Mesir, insyaallah.
Tribun Jambi: Saya dengar sempat meminta pertimbangan dari orang tua?
Tegar: Iya.
Reaksi Orang Tua
Tribun Jambi: Ketika menerima informasi itu, siapa yang pertama mengetahui? Tegar sendiri atau orang tua?
Tegar: Saya sendiri. Informasinya saya cari melalui email.
Tribun Jambi: Lalu setelah disampaikan kepada ayah dan ibu, bagaimana respons mereka?
Tegar: Kalau SNBT memang saya komunikasikan sejak awal kepada mereka, apakah daftar atau tidak. Namun untuk kampus luar negeri, saya tidak memberi tahu saat proses pendaftaran. Saya memberi tahu setelah dinyatakan lulus.
Tribun Jambi: Jadi langsung memberi tahu setelah lulus?
Tegar: Iya.
Tribun Jambi: Bagaimana ekspresi mereka?
Tegar: Mereka sempat kaget. Saat saya memberi tahu lulus di Kairo, mereka senang.
Tribun Jambi: Padahal kampus itu menjadi incaran banyak orang dari seluruh dunia.
Tegar: Iya.
Tribun Jambi: Apakah mengetahui tingkat persaingan masuk ke sana?
Tegar: Kurang tahu.
Tribun Jambi: Tahu berapa jumlah pendaftar dan yang diterima?
Tegar: Tidak tahu juga. Saya benar-benar menjalaninya saja.
Tribun Jambi: Apakah mengetahui bahwa saat ini Timur Tengah sedang mengalami konflik?
Tegar: Tahu. Saya sempat memikirkannya dan bertanya kepada kakak-kakak kelas yang sudah berangkat dan kuliah di sana. Menurut mereka, Mesir aman. Selama ini kondisinya aman.
Tribun Jambi: Saya sempat berkomunikasi dengan mahasiswa asal Kerinci yang ada di sana.
Tegar: Iya.
Tribun Jambi: Mungkin sudah pernah berkomunikasi juga?
Tegar: Belum.
Tribun Jambi: Namanya Bang Iqbal.
Tegar: Belum tahu.
Tribun Jambi: Nanti saya informasikan. Dari informasi yang saya terima, kondisi di sana masih aman. Namun sempat khawatir?
Tegar: Sempat khawatir. Apalagi saat itu kabar konflik muncul bersamaan dengan pengumuman kelulusan. Jadi ketika mendengar kabar lulus, sekaligus mendengar informasi situasi yang sedang kurang baik.
Tegar: Sering.
Tribun Jambi: Berarti terus memantau?
Tegar: Iya, terus memantau isu-isu Timur Tengah.
Merancang Masa Depan Sejak Kelas 9
Tribun Jambi: Banyak orang ingin kuliah di Mesir, Inggris, atau Australia, tetapi belum tahu caranya. Bisa diceritakan langkah-langkah yang dilakukan sejak kelas 1, kelas 2, hingga kelas 3 SMA?
Tegar: Awalnya ketika kelas 9 MTs. Dulu saya mondok di Bogor. Namun saya melihat jalur kuliah ke Mesir dari sana belum terlalu banyak, sehingga relasinya juga masih terbatas. Saya berpikir jalur SNBP dan SNBT dari pondok tersebut cukup sulit jika ingin diarahkan ke Timur Tengah. Karena itu saya mencari sekolah lain yang memiliki banyak alumni ke Timur Tengah dan juga banyak yang lulus melalui SNBP maupun SNBT.
Setelah mencari informasi, saya menemukan Pondok Pesantren Raudhatul Ulum. Di sana sudah banyak alumni yang kuliah ke Madinah, Mesir, dan berbagai kampus lainnya. Banyak juga yang diterima di UNSRI, UI, UGM, dan Universitas Brawijaya.
Tribun Jambi: Jadi memang relasi di pondok tersebut cukup banyak?
Tegar: Iya, relasinya banyak dan para santri juga dibantu.
Tribun Jambi: Berarti sejak kelas 9 sudah merencanakan ingin kuliah di Timur Tengah?
Tegar: Iya. Dari awal memang ingin ke Timur Tengah.
Tribun Jambi: Lalu memutuskan sekolah di Palembang?
Tegar: Iya, akhirnya memutuskan ke Palembang.
Tribun Jambi: Bagaimana proses saat kelas 10?
Tegar: Saat kelas 10 masuk pondok. Di sana ada pilihan kelas, yaitu kelas Timur Tengah dan kelas umum. Saya langsung memilih kelas Timur Tengah sebagai persiapan kuliah di Timur Tengah.
Tribun Jambi: Jadi sejak kelas 10 sudah diarahkan?
Tegar: Iya.
Tribun Jambi: Lalu saat kelas 11?
Tegar: Kelas 11 lebih fokus memperdalam bahasa, terutama bahasa Arab dan bahasa Inggris.
Tribun Jambi: Kemudian kelas 12?
Tegar: Kelas 12 fokus mematangkan persiapan tes, termasuk berbagai tips dan strategi.
Tribun Jambi: Berapa lama fokus mempersiapkan tes?
Tegar: Sekitar enam bulan. Setiap hari belajar materi yang akan diujikan.
Bimbingan Menuju Al-Azhar
Tribun Jambi: Apakah ada bimbingan intensif tambahan?
Tegar: Ada. Sebelum berangkat, kami dibantu oleh sebuah lembaga. Di tempat saya namanya Lembaga El Fajar. Lembaga tersebut memberikan pembelajaran intensif sebelum keberangkatan.
Tribun Jambi: Berarti ada bimbingan khusus sebelum berangkat?
Tegar: Iya.
Tribun Jambi: Bagaimana proses pendaftarannya? Apakah dilakukan secara online atau ada yang membantu?
Tegar: Daftar mandiri, tetapi dilakukan bersama-sama.
Tribun Jambi: Untuk kampus lain selain Al-Azhar juga mandiri?
Tegar: Iya, mandiri juga. Banyak yang mengira santri tidak boleh memegang HP. Namun di pondok saya, Raudhatul Ulum, pihak pondok memfasilitasi kebutuhan tersebut.
Tribun Jambi: Maksudnya menyediakan waktu untuk mengakses perangkat elektronik?
Tegar: Iya. Misalnya ketika ada kebutuhan persiapan atau mencari informasi, kami bisa meminta izin.
Tribun Jambi: Berarti Tegar memanfaatkan waktu tersebut untuk mencari informasi kampus?
Tegar: Iya.
Tribun Jambi: Dari enam kampus yang didaftarkan, empat sudah diterima dan dua masih menunggu. Kalau dua kampus yang ditunggu itu juga menerima, pilihan akhirnya ke mana?
Tegar: Kalau diterima, saya akan memilih Madinah.
Tribun Jambi: Meninggalkan Al-Azhar?
Tegar: Iya.
Tribun Jambi: Kenapa memilih Madinah?
Tegar: Karena beasiswanya penuh.
Tribun Jambi: Kalau Mesir?
Tegar: Mesir mendapat beasiswa pendidikan, tetapi biaya hidup ditanggung sendiri.
Tribun Jambi: Jadi kuliahnya gratis?
Tegar: Iya, kuliahnya gratis.
Tribun Jambi: Berapa perkiraan biaya hidup di sana?
Tegar: Sekitar Rp1 juta sudah cukup. Bahkan menurut informasi yang saya dapat, Rp1,5 juta per bulan sudah sangat cukup di Kairo.
Tribun Jambi: Kalau di Madinah?
Tegar: Semua ditanggung. Kuliah gratis, diberi uang untuk kebutuhan hidup, uang buku, dan fasilitas kesehatan.
Tribun Jambi: Pengumuman Madinah keluar bulan Juli?
Tegar: Iya.
Persiapan Hidup di Luar Negeri
Tribun Jambi: Apa yang sedang dipersiapkan sekarang untuk hidup beberapa tahun di luar negeri?
Tegar: Yang paling penting adalah keseriusan dalam belajar. Di Mesir tidak ada sistem absensi yang ketat, jadi semuanya bergantung pada diri sendiri. Mau serius atau tidak, tergantung masing-masing. Cepat atau lambat menyelesaikan studi juga tergantung pada diri sendiri.
Tribun Jambi: Selain mental dan keseriusan?
Tegar: Tidak ada persiapan khusus. Mungkin hanya pakaian dan kebutuhan pribadi.
Tribun Jambi: Bimbingan yang diberikan lembaga tadi seperti apa?
Tegar: Lebih kepada memperdalam bahasa agar siap berkomunikasi dengan masyarakat di sana. Untuk pelajaran akademik, kurang lebih sama seperti belajar sehari-hari.
Pesan untuk Generasi Muda
Tribun Jambi: Sebagai penutup, apa pesan untuk teman-teman di Jambi yang ingin meraih prestasi dan kuliah di luar negeri seperti Tegar?
Tegar: Saran saya, semuanya harus dicoba. If you never try, you never know. Kalau tidak mencoba, kita tidak akan pernah tahu hasilnya. Coba saja semua peluang yang ada. Dan itu sudah terbukti.
Baca juga: Tegar Lolos Seleksi 4 Universitas Besar Dunia dan Negeri, dari Al Azhar hingga Lancaster University