TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Prestasi membanggakan kembali ditorehkan oleh dunia pendidikan Kalimantan Barat.
Direktur Pascasarjana Universitas Tanjungpura, Nurmainah, mendapat kehormatan mewakili Indonesia untuk menyampaikan pidato dalam seremoni penutupan seminar internasional tentang kebijakan pendidikan yang diselenggarakan oleh East China Normal University di Shanghai, Sabtu 20 Juni 2026.
Kegiatan akademik berskala internasional tersebut diikuti peserta dari berbagai negara, di antaranya Indonesia, Barbados, Botswana, Kamboja, Ethiopia, Fiji, Gambia, Kenya, dan Sierra Leone.
Seminar ini menjadi wadah pertukaran gagasan dan pengalaman terkait pengembangan kebijakan pendidikan di berbagai belahan dunia.
Acara penutupan diawali dengan sambutan dari Associate Dean of the Graduate School ECNU, Yang Fuyi.
Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa seminar tersebut merupakan praktik penting dalam memperkuat kerja sama pendidikan internasional sekaligus mempererat persahabatan antarnegara.
• Panduan SPMB SMP 2026: Syarat, Cara Daftar Online, dan Tahapan Seleksi
Menurutnya, selama mengikuti program, para peserta memperoleh berbagai wawasan mengenai perkembangan Tiongkok, mulai dari perumusan kebijakan pendidikan, tata kelola dan penjaminan mutu pendidikan, hingga inovasi pembelajaran dari jenjang pendidikan dasar sampai perguruan tinggi.
"Ide, pengalaman, dan refleksi yang diperoleh selama program ini diharapkan dapat diterapkan dalam reformasi dan pengelolaan pendidikan di negara masing-masing," ujarnya.
Sambutan berikutnya disampaikan oleh Director of the International Center for Teacher Education ECNU, Peng Liping.
Ia menekankan bahwa pendidikan merupakan fondasi utama bagi pembangunan ekonomi, sosial, ilmu pengetahuan, dan teknologi suatu negara.
Dalam paparannya, Prof Peng Liping mengutip pernyataan mantan Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, Ban Ki-moon, yang menyatakan bahwa negara yang makmur bergantung pada tenaga kerja yang terampil dan berpendidikan.
"Prosperous countries depend on skilled and educated workers. Tanpa dukungan pendidikan, pembangunan suatu negara akan sulit untuk tetap berkelanjutan," katanya.
Pada kesempatan tersebut, Dr Nurmainah menjadi salah satu peserta internasional yang dipercaya menyampaikan pidato penutupan.
Ia menyampaikan apresiasi kepada East China Normal University atas kesempatan yang diberikan kepada peserta dari berbagai negara untuk mengikuti kegiatan akademik tersebut.
Selama tiga pekan pelaksanaan seminar, para peserta memperoleh berbagai pengetahuan baru mengenai kebijakan pendidikan di Tiongkok, termasuk inovasi dalam proses pembelajaran.
Menurut Dr Nurmainah, salah satu materi yang paling menarik adalah penerapan integrasi STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), robotika, dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam sistem pendidikan Tiongkok.
Ia menegaskan bahwa program pascasarjana memiliki posisi yang sangat strategis dalam mendukung pengembangan STEM, robotika, dan kecerdasan buatan di dunia pendidikan.
"Program Pascasarjana tidak hanya menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan riset, tetapi juga motor penggerak inovasi pendidikan yang mampu menghasilkan model pembelajaran, teknologi pendidikan, serta kebijakan berbasis bukti untuk menjawab tantangan era digital," ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi dapat berkontribusi melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia, pengembangan penelitian interdisipliner, serta menjalin kolaborasi dengan sekolah, pemerintah, dan dunia industri dalam mengimplementasikan pembelajaran berbasis STEM dan teknologi digital.
Ia juga menilai penelitian yang dilakukan dosen dan mahasiswa pascasarjana dapat menjadi sumber inovasi untuk menciptakan metode pembelajaran yang lebih efektif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
"Melalui penerapan robotika dan kecerdasan buatan di dalam kurikulum pendidikan, kita tidak hanya mengajarkan keterampilan teknis, tetapi juga membangun kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah yang kompleks, serta literasi digital yang sangat dibutuhkan oleh generasi masa depan," ungkapnya.
• Segudang Prestasi Rachel Machalul Cahya Ayu, Ratu Ganda Putri yang Jago Ganda Campuran
Dr Nurmainah berharap pengalaman dan pengetahuan yang diperoleh selama mengikuti seminar di Shanghai dapat menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan di Indonesia, khususnya di Kalimantan Barat, dalam memperkuat ekosistem pembelajaran berbasis teknologi dan inovasi.
Ia juga menilai bahwa kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Tiongkok memiliki potensi besar dalam mendorong pertukaran budaya, kolaborasi akademik, dan pembelajaran bersama yang saling menguntungkan.
Menurutnya, kemitraan tersebut dapat memperkuat kapasitas pendidikan sekaligus mempercepat adaptasi terhadap perkembangan teknologi global.
Pada akhir pidatonya, Direktur Pascasarjana UNTAN turut menyampaikan apresiasi kepada para narasumber serta Ministry of Commerce of the People's Republic of China yang telah mendukung suksesnya penyelenggaraan seminar internasional tersebut.
Ia juga mengajak seluruh peserta untuk terus menjaga komunikasi dan memperkuat jejaring kerja sama internasional yang telah terjalin selama kegiatan berlangsung. (*)