Guru SLB di Bandung Dilatih Gunakan Instrumen Khusus untuk Menilai Perilaku Siswa Autisme
Muhamad Syarif Abdussalam June 20, 2026 09:11 PM

Laporan Wartawan Tribun Jabar, Nappisah

TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Fakultas Kedokteran Universitas Islam Bandung (Unisba) melatih guru Sekolah Luar Biasa (SLB) se-Kota Bandung menggunakan instrumen penilaian perilaku yang lebih terstruktur untuk siswa dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA). 

Langkah ini dilakukan karena penilaian perilaku selama ini masih banyak mengandalkan observasi dan wawancara sehingga berpotensi kurang objektif.

"Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh masih ditemukannya perilaku bermasalah (aberrant behavior) pada siswa SLB, khususnya peserta didik dengan Gangguan Spektrum Autisme (GSA), yang dapat memengaruhi proses pembelajaran di sekolah," katanya, Ketua pelaksana kegiatan, Gemah Nuripah, Sabtu (19/6/2026). 

Dikatakannya, kondisi tersebut dapat memengaruhi proses belajar mengajar di sekolah.

"Penilaian perilaku siswa menjadi bagian penting dalam menentukan strategi pendidikan maupun kebutuhan terapi yang sesuai bagi anak." 

Karena itu, kata dia, guru perlu memiliki kemampuan melakukan asesmen perilaku secara lebih sistematis.

Dalam kegiatan tersebut, peserta diperkenalkan dengan penggunaan kuesioner Aberrant Behaviour Checklist–Community (ABC-C), yaitu instrumen yang digunakan untuk menilai berbagai aspek perilaku siswa secara lebih objektif.

"Kuesioner ini dapat membantu guru mengidentifikasi kondisi perilaku siswa berdasarkan sejumlah indikator yang terukur," ujarnya.

Dia menuturkan, pelatihan diikuti pengawas sekolah, kepala sekolah, dan guru SLB se-Kota Bandung. Sejumlah mahasiswa Fakultas Kedokteran Unisba juga mengikuti kegiatan secara hybrid.

Materi yang disampaikan antara lain; karakteristik perilaku anak dengan Gangguan Spektrum Autisme, strategi penanganan di lingkungan pendidikan, serta praktik pengisian kuesioner ABC-C.

Instrumen tersebut mencakup penilaian terhadap sejumlah aspek perilaku, antara lain iritabilitas, kecenderungan menarik diri, hiperaktivitas, gangguan komunikasi, hingga perilaku stereotipik yang kerap ditemukan pada anak dengan autisme.

Dia menjelaskan, asesmen perilaku sebaiknya dilakukan sejak awal proses pembelajaran untuk memetakan kebutuhan siswa. Penilaian juga perlu dilakukan pada akhir periode pembelajaran guna mengevaluasi perkembangan yang telah dicapai.

"Melalui pelatihan ini, guru diharapkan memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru dalam melakukan asesmen perilaku, sehingga dapat memberikan layanan pendidikan yang semakin optimal dan tepat bagi peserta didik berkebutuhan khusus, khususnya anak dengan Gangguan Spektrum Autisme," katanya. 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.