Laporan Wartawan Tribuncirebon.com, Eki Yulianto
TRIBUNCIREBON.COM, CIREBON- Tumpukan sampah yang menggunung di Tempat Pembuangan Sementara (TPS) Jalan Soekarno, Kecamatan Talun, Kabupaten Cirebon, ternyata bukan hanya berasal dari warga sekitar.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cirebon mengungkapkan, banyak sampah dari luar wilayah yang ikut dibuang ke lokasi tersebut sehingga membuat kapasitas pengangkutan tidak lagi mampu mengimbangi volume yang masuk setiap hari.
Kondisi itu terlihat jelas dari pantauan di lokasi.
Tumpukan sampah rumah tangga memanjang di pinggir jalan hingga menyandar ke bangunan semi permanen di area TPS.
Bahkan kontainer sampah yang tersedia sudah penuh hingga sampah meluber dan berserakan di sekitarnya.
Sekretaris Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Cirebon, Sugeng Wahyudi mengatakan, pihaknya sebenarnya telah menghitung kapasitas pengangkutan yang dibutuhkan di kawasan Talun.
Namun, perhitungan tersebut meleset karena sampah yang masuk tidak hanya berasal dari masyarakat setempat.
Baca juga: Persib Ekspansi Eredivisie Cari Pengganti Barba, Tak Tanggung Sosok yang Diincar Eks Ajak Rp13,04 M
"Kita itu tadi, proses pengangkutan ini kan butuh waktu cepat. Kemudian jumlah sampah sendiri, kayak di Talun itu, setelah kita telusuri harusnya kita mampu dua kali angkut. Tapi karena yang masuk ke situ tidak hanya warga situ, akhirnya bertumpuk," ujar Sugeng saat diwawancarai media, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya keberadaan sampah liar turut memperburuk kondisi pelayanan pengangkutan sampah.
Banyak warga yang membuang sampah di lokasi yang sebenarnya bukan TPS resmi, sehingga sampah-sampah tersebut tidak masuk dalam perencanaan pengangkutan DLH.
"Sampah liar ini kan tidak tercatat di kita. Kemarin di Kedawung, kemudian di depan APUD, sekarang kita geser ke Ciwaringin. Artinya di situ tidak ada TPS, tapi masyarakat buang di situ," ucapnya.
Sugeng mengakui persoalan sampah liar menjadi dilema bagi pemerintah daerah.
Jika dibiarkan tumpukan sampah akan mengganggu estetika lingkungan dan menimbulkan bau tidak sedap.
Namun jika langsung dibersihkan masyarakat justru berpotensi menganggap lokasi tersebut sebagai tempat pembuangan yang diperbolehkan.
"Satu sisi sampah liar kalau kita tangani, mindset masyarakat jadi berpikir, 'Oh, di situ juga nanti dibereskan'. Tapi kalau tidak kita bereskan, ya estetika dan baunya akan menjadi masalah," jelas dia.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, DLH tengah memetakan berbagai titik pembuangan sampah liar sekaligus mencari strategi yang efektif untuk mengubah perilaku masyarakat.
Bahkan, Sugeng mengungkapkan, muncul sejumlah ide unik dalam diskusi internal maupun bersama masyarakat, mulai dari pemasangan pesan moral hingga kalimat yang dapat memberikan efek jera.
Baca juga: Marc Klok Wakili Persib dan Indonesia, Terpilih Undangan FIFA Player Executive Programme 2026
"Sampai kita terpikir, gimana sih kalau kita tulis aja di tempat sampah liar itu kata-kata 'Kebersihan adalah sebagian dari iman', terus di bawahnya 'Mau enggak kalau rezeki Anda enggak berkah karena buang sampah sembarangan?'," katanya.
Dari hasil pengamatan langsung yang kerap dilakukannya saat bersepeda maupun mengendarai motor, Sugeng melihat banyak kendaraan yang datang membawa sampah ke kawasan Talun.
Tidak hanya sepeda motor, tetapi juga becak motor atau betor.
"Setelah kita konfirmasi ke teman-teman Talun, memang tidak hanya dari situ. Jadi yang sudah kita hitung, kita set, itu cukuplah dengan tiga dump truck, tapi akhirnya tidak mampu," ujarnya.
Ia juga membantah isu yang sempat beredar bahwa penumpukan sampah terjadi karena armada pengangkut kehabisan solar.
Menurutnya, persoalan tersebut hanya terkait keterlambatan administrasi pencairan anggaran dan tidak berlangsung lama.
"Pas mulai ramai itu, besoknya sudah operasional normal. Jadi tidak terlalu wah untuk urusan itu. Kita yang menjadi kendala utama itu di volume. Volume sampah meningkat ini berpengaruh terhadap tingkat pelayanan kita," ucap Sugeng.
DLH mencatat Kabupaten Cirebon dengan jumlah penduduk sekitar 2,4 juta jiwa berpotensi menghasilkan sampah rumah tangga hingga 1.200 ton per hari.
Angka tersebut belum termasuk sampah dari rumah sakit, hotel, restoran dan kafe.
"Kalau Kabupaten Cirebon ada 2,4 juta orang, berarti ada 1.200 ton per hari. Itu baru sampah rumah tangga, belum lagi dari rumah sakit, Horeka, hotel, restoran, dan kafe," jelas dia.
Besarnya volume sampah itu membuat petugas kebersihan harus bekerja tanpa henti.
Sugeng menggambarkan pekerjaan pengelolaan sampah sebagai pekerjaan yang tidak pernah benar-benar selesai karena sampah terus muncul setiap hari.
"Kita 24 jam, Mas. Umur kerjaan kita ini 24 jam. Jangan-jangan tidak sampai 24 jam, setelah kita berangkat, sudah datang lagi sampahnya," katanya.
Baca juga: Novel Pidi Baiq “Dan Bandung” Diangkat ke Layar Lebar, Hadirkan Romansa Remaja
Ke depan DLH berencana mendorong sektor hotel, restoran dan kafe agar mampu mengelola sampah organiknya secara mandiri melalui komposting maupun budidaya maggot.
Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi beban pengangkutan sampah yang selama ini ditangani pemerintah daerah.
Selain itu, wacana penguatan pengawasan terhadap pelaku pembuangan sampah sembarangan juga terus dibahas.
Salah satunya dengan meniru pola pengawasan program Citarum Harum yang melibatkan aparat di lapangan.
Meski demikian, Sugeng menegaskan, bahwa solusi utama tetap berada pada perubahan perilaku masyarakat.
Tanpa kesadaran bersama untuk membuang sampah pada tempatnya, persoalan penumpukan sampah di Talun dan wilayah lain di Kabupaten Cirebon akan terus berulang.
"Karena sampah dari mana pun kumpul di situ. Dan tanggung jawab kita memang harus diangkut. Itu akhirnya berpengaruh terhadap waktu kita dalam melakukan pelayanan," ujarnya. (*)