TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Menjadi pemandu acara atau Master of Ceremony (MC) sering kali dipandang sebelah mata sebagai profesi yang hanya mengandalkan modal kelancaran berbicara di atas panggung.
Namun, bagi pria asli Yogyakarta, Gundhissos atau yang akrab disapa Mas Gundhi, profesi ini adalah sebuah seni membaca manusia, mengasah mental, sekaligus jalan hidup yang menghidupi.
Memulai karier dari bawah sejak masa kuliah, Gundhi kini tumbuh menjadi salah satu sosok MC senior yang disegani di Yogyakarta. Di balik pembawaannya yang jenaka, ia memiliki prinsip kerja yang mendalam serta dedikasi tinggi terhadap profesinya.
Perjalanan karier Gundhi di dunia cuap-cuap tidak terjadi dalam semalam. Semua bermula sekitar tahun 2005 atau 2006, saat ia masih berstatus sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM).
Awalnya, ia hanya sekadar bermain dan berkumpul dengan teman-teman di lingkungan kampus. Dari lingkaran pertemanan terdekat itulah, benih kepercayaan mulai tumbuh. Gundhi mulai diminta untuk memandu acara di berbagai fakultas, mulai dari Sastra, Hukum, Filsafat, Teknik, hingga Pertanian.
Lama-kelamaan, jejaringnya meluas ke luar UGM. Pekerjaan sampingan yang awalnya dilakukan untuk mengisi waktu luang ini lambat laun menjelma menjadi sumber penghasilan utama yang sangat membantu masa mudanya.
“Kuliah itu kewajiban utamanya adalah belajar. Nah, pekerjaan sampingan saya waktu itu adalah menjadi MC. Ternyata hasilnya bisa untuk membiayai sekolah," kenang Gundhi.
Pada awal-awal merintis karier, Gundhi mengaku sepenuhnya menggunakan metode learning by doing atau belajar sambil berjalan.
Tanpa bekal pelatihan khusus, ia langsung terjun ke lapangan, mencoba berbagai panggung, menghadapi evaluasi, hingga tak jarang mendapat teguran keras dari penyelenggara acara. Pengalaman "nabrak-nabrak" itulah yang justru membentuk mental baja dalam dirinya.
Namun, ia sadar bahwa jam terbang di ranah kasual dan acara outdoor yang non-formal saja tidak cukup. Untuk merambah acara-acara formal yang sarat aturan, protokoler, dan teori khusus, Gundhi memutuskan untuk mengambil langkah berani.
Pada kisaran tahun 2011 atau 2012, ia memilih masuk ke sekolah MC formal yang dikelola oleh praktisi legendaris Yogyakarta, Lucy Laksita. Langkah inilah yang berhasil mengawinkan kemampuan humor kasualnya dengan etika panggung yang profesional.
Bagi Gundhi, seorang MC bukan sekadar mesin yang membacakan susunan acara, melainkan harus memiliki sense of humor dan kepekaan sosial yang tinggi.
Baginya, rasa humor bukan sekadar materi lawakan kering di atas panggung, melainkan alat komunikasi penting untuk mencairkan suasana dan membangun kedekatan dengan klien maupun audiens, baik di depan maupun di belakang panggung.
Lebih dari itu, ketangguhan seorang MC diuji dari kemampuannya membaca situasi dan karakter psikologis massa.
Gundhi menceritakan pengalamannya saat memandu acara roadshow sebuah perusahaan pembiayaan di wilayah Pantura. Karakter penonton yang reaktif di daerah yang bersuhu panas menuntutnya ekstra waspada agar acara tidak berakhir ricuh saat hiburan musik dimulai.
“Selain itu kita juga harus bisa membaca karakter orang. Misalnya, oh Bapak ini tingkat ekonominya di level ini, berarti dia punya referensi komunikasi atau selera humor yang seperti ini. Kita harus pintar-pintar membaca situasi,"jelasnya mengenai pentingnya penyesuaian gaya bicara.
Ia juga menekankan bahwa kegagalan sebuah acara sering kali bersifat kolektif. Gundhi pernah mengalami fase di mana konsep acara meleset total karena koordinasi yang keliru antara pihak penyelenggara dengan selera nyata penonton di lapangan. Dari sana ia belajar bahwa MC adalah bagian dari satu kesatuan tim.
Melihat perkembangan industri saat ini, Gundhi menilai profesi MC di Yogyakarta sudah berkembang sangat pesat menjadi ranah bisnis yang menjanjikan.
Jika dulu seorang MC dituntut menjadi generalis yang bisa membawakan semua acara, kini industri sudah terbagi ke dalam berbagai spesialisasi yang ketat, mulai dari MC pernikahan, konser musik, acara olahraga, hingga pertemuan korporat (MICE).
Kepada para MC muda yang ingin terjun ke industri ini, ia menitipkan pesan sederhana namun krusial: jalani saja terlebih dahulu dan mulailah jeli melihat kekosongan peluang.
Gundhi dengan bijak mengatakan bahwa kesalahan yang dibuat MC muda saat ini adalah hal yang wajar sebagai bagian dari proses belajar, hal yang sama yang juga ia lakukan di masa lalu.
Ketika ditanya mengenai target personalnya di dunia hiburan, Gundhi memberikan jawaban yang kontemplatif. Ia tidak lagi mengejar popularitas semata atau sekadar menjadi MC dengan bayaran termahal, melainkan ingin dikenal sebagai sosok MC yang berbudaya.
"Kalau kita hanya berhenti pada urusan mencari uang, asal kita mau bekerja kita pasti akan dapat pekerjaan dan menghasilkan uang. Namun di dalam profesi ini ada etika kerja, ada SOP, dan ada cara untuk mengembangkan diri dengan menyerap kebijaksanaan dari nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat," pungkas Gundhi menutup perbincangan. (nto)