Beri Makan Maggot Pakai Sisa Dapur MBG, Reza Raup Belasan Juta
Daniel Ari Purnomo June 20, 2026 09:26 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, BREBES - Di tengah melonjaknya harga pakan ikan di pasaran, seorang pemuda bernama M Reza memilih jalur kreatif dengan membudidayakan maggot.

Ia menjadikan larva lalat hitam ini sebagai pakan alternatif yang sarat protein untuk ikan lele peliharaannya.

Saat ditemui Tribunjateng.com pada Rabu (17/6/2026) di kediamannya yang berlokasi di Desa Pulosari, Kecamatan Brebes, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Reza menceritakan kisah awal mula perjalanannya.

Baca juga: TPST Sumpiuh Bayumas, dari Kelola Sampah hingga Maggot untuk Perikanan dan Peternakan

Ia mengaku bahwa langkah budidaya maggot ini murni berawal dari rasa penasaran yang kuat serta keinginan untuk mencoba inovasi baru di sektor perikanan.

Pada saat pertama kali terjun ke bidang ini, Reza berinisiatif membeli bibit maggot secara daring. Langkah tersebut menjadi gerbang awalnya untuk mengenal lebih dekat proses budidaya pakan alternatif yang belum banyak ditekuni oleh warga di sekitarnya.

Menurut penuturan Reza, pada awalnya ia sekadar mencoba-coba tanpa dibekali pengalaman khusus maupun latar belakang akademis mumpuni dalam mengembangkan budidaya maggot. Ketertarikan yang mendalam terhadap hewan pengurai ini rupanya sudah muncul ketika dirinya masih duduk di bangku kelas IX Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Pada masa-masa awal tersebut, Reza masih mendapatkan bimbingan dan pendampingan penuh dari kedua orangtuanya dalam menjalankan operasional budidaya.

"Awal belajar maggot waktu itu saat saya masih kelas IX SMP masih di dampingi orang tua, saat itu kurang lebih tahun 2000an," ujarnya mengenang masa lalu.

Berbekal semangat belajar yang tinggi dan ketekunan yang tak kenal lelah, Reza terus mendalami berbagai teknik pembiakan maggot dari waktu ke waktu. Seiring dengan bertambahnya jam terbang, ia perlahan mulai memahami siklus hidup lalat Black Soldier Fly (BSF) secara utuh beserta tata cara pengelolaannya secara mandiri.

Kini, usaha budidaya maggot yang telah dirintisnya sejak usia remaja tersebut sudah mampu dijalankan sendiri secara profesional, tanpa memerlukan lagi pendampingan langsung dari sang orangtua.

Dalam proses budidayanya sehari-hari, Reza memulai tahapan dari perawatan telur maggot yang kemudian perlahan memasuki masa penetasan.

"Dari pertama Telur ke penetasan tiga hari, hingga menetas menjadi larva maggot. Kemudian setelah menetas hingga lalat dewasa 40 hari itu nanti di taruh di tempat pengolahan bibit Maggot. Setelah 3 minggu nanti dipindah ke kandang lalat. Sementara di kandang lalat membutuhkan waktu 45 hari hingga bertelur kembali," paparnya menjelaskan masalah teknis secara terperinci.

Berkat sistem budidaya yang tertata rapi tersebut, Reza dapat terus menjaga keberlanjutan siklus produksi maggot sepanjang waktu tanpa pernah kehabisan stok. Namun, ia juga membeberkan fakta unik mengenai siklus hidup serangga yang satu ini.

"Tapi kalo lalat Maggot ini jadi hanya bisa berkembang biak sekali, kalo yang jantan jika sudah membuahi maka akan mati, begitu juga denga yang betina, ketika sudah bertelur juga akan mati," ungkapnya.

Berbeda dengan konsep sebagian peternak lalat pembudidaya lainnya di luar sana, hasil panen maggot milik Reza sama sekali tidak dijual bebas ke pasaran. Seluruh hasil panen produksi larva tersebut secara eksklusif dimanfaatkan sendiri olehnya sebagai asupan pakan utama bagi ikan lele yang ia budidayakan.

"Dari hasil maggot tidak dijual, buat sendiri untuk pakan ikan lele. Karena menghemat pakan pelet, karena sekarang harga pelet naik menjadi Rp 11 ribu per kantong (50Kg)," tuturnya. Mengingat harga pakan pabrikan yang kini melambung hingga belasan ribu rupiah per kilogramnya, langkah substitusi ini dinilai sangat brilian.

Pemuda sukses asal Brebes ini menyebut bahwa penggunaan maggot sebagai pakan ternak lele dinilai jauh lebih menguntungkan secara hitung-hitungan bisnis, dibandingkan jika ia harus terus mengandalkan pakan pelet pabrikan secara penuh.

Reza mengaku dapat menekan biaya operasional secara drastis lantaran kebutuhan asupan gizi lele peliharaannya sebagian besar sudah berhasil dipenuhi dari maggot hasil budidayanya sendiri. Menurut pandangannya, harga pelet ikan saat ini terus mengalami eskalasi kenaikan sehingga kerap mencekik dan membebani biaya produksi para peternak lokal.

"Harga peletnya saat ini ngelunjak naik terus, makanya pake maggot," ungkapnya santai sambil berkelakar.

Untuk memenuhi kebutuhan pakan bagi ribuan maggot miliknya setiap hari, Reza pada awalnya mengaku rutin mengumpulkan sisa-sisa sayuran yang dibuang dari area Pasar Induk Brebes. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya peluang, sumber pakan untuk maggotnya kini beralih dengan memanfaatkan limbah organik yang lebih bernutrisi dan lebih mudah didapat.

Ia kini secara rutin mengambil dan mengelola limbah dapur dari program pemerintah, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG), yang ada di wilayahnya.

"Untuk pakan maggot dulu ngambil sisa sayur di pasar induk Brebes kemudian sekarang ambil di limbah dapur MBG. Sehari 6 kg sisa nasi lauk bakso ayam daging, tinggal ngambil di dapur SPPG aja," katanya menguraikan rutinitas barunya mencari pakan.

Reza menilai bahwa penggunaan pakan maggot terbukti jauh lebih efektif, kaya akan protein, dan tentunya sangat ekonomis dibandingkan pelet pabrikan, terutama di tengah gempuran tren lonjakan harga pakan ikan yang tak terbendung.

Sementara itu, dari hasil budidaya ikan lele yang tersebar luas di 10 kolam miliknya, Reza mengaku sukses meraup perputaran uang dan keuntungan yang sangat fantastis.

"Panennya 2 bulan sekali, nanti ada yang nebas bakul partai besar. Sekali panen ya bisa belasan juta rupiahlah," tutupnya sambil tetap merahasiakan secara pasti nominal keuntungan bersih yang didapatkannya setiap kali panen raya. (Pet)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.