Empati di Tengah Algoritma
suhendri June 20, 2026 09:38 PM

Oleh: Lukman Hakim - Mahasiswa Magister Ekonomi Syariah IAIN SAS Babel 

“Kita tidak sedang berbicara tentang perang antara manusia dan AI, melainkan sedang menghadapi perlombaan antara empati dan algoritma.”

INDONESIA sedang berdiri di sebuah persimpangan sejarah yang tidak pernah dialami oleh generasi-generasi sebelumnya. Kita tidak lagi sedang membicarakan masa depan yang akan datang puluhan tahun lagi. Masa depan itu sudah hadir dan sedang duduk di ruang tamu rumah kita. Ia masuk melalui telepon genggam yang kita pegang setiap hari,  menyelinap melalui media sosial yang kita buka sejak bangun tidur, atau hadir melalui algoritma yang diam-diam mengatur apa yang kita lihat, sukai, benci, dan bahkan apa yang akhirnya kita percayai.

Kita sedang memasuki sebuah peradaban baru. Peradaban yang tidak lagi menjadikan barang sebagai komoditas utama, melainkan manusia itu sendiri. Jika dahulu perusahaan-perusahaan raksasa berlomba memproduksi televisi, kulkas, kendaraan, atau telepon genggam, kini yang diperebutkan adalah perhatian manusia. Makin lama seseorang bertahan di depan layar, maka makin besar pula keuntungan yang mereka peroleh. Makin sulit seseorang melepaskan diri dari gawai, maka makin besar pula nilai ekonomi yang tercipta, dan akhirnya tanpa kita sadari, manusia sedang menjadi produk yang diperdagangkan.

Fenomena ini menjadi tantangan besar bagi Indonesia. Data menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 7,5 jam setiap hari di depan layar -data berdasarkan komdigi.go.id-. Waktu yang seharusnya digunakan untuk berdialog, membaca, merenung, atau membangun relasi sosial, perlahan tergantikan oleh aktivitas menggulir layar tanpa tujuan yang jelas. Aktivitas ini tampak sederhana, tetapi dampaknya tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Persoalannya bukan terletak pada teknologi. Persoalannya adalah ketika manusia kehilangan kemampuan mengendalikan teknologi. Ketika algoritma lebih mengenal manusia daripada manusia mengenal dirinya sendiri. Ketika perhatian manusia menjadi barang dagangan. Ketika emosi lebih mudah dikendalikan oleh notifikasi daripada oleh akal sehat.

Di sinilah kita perlu merenungkan kembali gagasan yang disampaikan oleh Prof. Dr. M. Arskal Salim GP dalam kuliah umum di Pascasarjana IAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung pada 16 Juni 2026. Beliau mengingatkan bahwa pendidikan Islam sedang menghadapi tantangan besar berupa digitalisasi, disinformasi, algoritma media sosial, dan kecerdasan buatan. Transformasi pendidikan Islam bukan lagi sebuah pilihan, melainkan sebuah keharusan.

Pernyataan tersebut sesungguhnya bukan hanya ditujukan kepada perguruan tinggi keagamaan Islam. Pesan itu ditujukan kepada seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Sebab, kita tidak sedang menghadapi perubahan biasa. Kita sedang menghadapi perubahan peradaban. Ketika Indonesia memasuki usia seratus tahun kemerdekaan pada tahun 2045, generasi Alpha akan memasuki usia produktif dan menjadi pemimpin bangsa. Generasi Beta akan mulai tumbuh sebagai generasi yang sejak lahir bersentuhan dengan kecerdasan buatan. Sementara generasi Z akan menjadi pengambil kebijakan di berbagai sektor kehidupan.

Pertanyaannya, apakah mereka siap? Pertanyaan ini sesungguhnya tidak hanya ditujukan kepada generasi Z, Alpha, dan Beta. Pertanyaan ini juga ditujukan kepada generasi sebelumnya. baby boomer, generasi X, dan milenial juga harus bersiap menghadapi perubahan tersebut. Selama ini, kita sering kali menempatkan generasi muda sebagai objek yang harus beradaptasi. Padahal, generasi sebelumnya pun memiliki tanggung jawab yang sama. Tidak adil apabila kita menuntut generasi muda memahami pola komunikasi generasi tua, tetapi kita sendiri menolak memahami cara berpikir mereka.

Di sinilah konflik antar generasi sering terjadi. Generasi baby boomer dibesarkan oleh budaya kesopanan yang kuat. Mereka terbiasa menghormati struktur dan otoritas. Generasi X tumbuh dengan kemandirian dan disiplin. Generasi milenial mulai mengenal teknologi dan fleksibilitas. Generasi Z tumbuh bersama internet. Generasi Alpha lahir bersama layar digital. Sementara generasi Beta akan tumbuh bersama kecerdasan buatan.

Masing-masing dibesarkan oleh dunia yang berbeda. Dengan demikian, jangan heran jika mereka berbicara dengan bahasa yang sama tetapi memiliki makna yang benar-benar berbeda berbeda. Generasi tua sering menganggap generasi muda kurang sopan. Di sisi lain, generasi muda menanggap generasi tua terlalu kaku. Padahal, sesungguhnya mereka hanya dibentuk oleh lingkungan pada masanya.

Sehingga kemudian, persoalannya menjadi rumit ketika algoritma masuk ke dalam kehidupan manusia. Algoritma bekerja dengan cara yang sangat sederhana, yaitu memberikan apa yang ingin kita lihat, mendengar apa yang ingin kita dengar, dan menguatkan apa yang sudah kita yakini. Persolaan ini kemudian melahirkan output manusia yang seolah hidup di dalam ruang gema yang sempit. Mereka hanya berinteraksi dengan orang-orang yang memiliki pandangan yang sama dan jelas, kehilangan kesempatan untuk belajar memahami perbedaan.

Di titik inilah empati mulai terkikis. Kita memang tidak kehilangan kecerdasan, namun yang hilang adalah kemampuan untuk memahami manusia lain. Inilah yang perlu menjadi perhatian besar bangsa Indonesia. Sebab, tantangan terbesar masa depan bukanlah kekurangan teknologi, tetapi tantangan terbesar kita adalah kekurangan empati. Kecerdasan buatan akan makin pintar setiap tahun. Mesin akan makin cepat bekerja. Robot akan makin canggih. Namun, tidak ada teknologi yang mampu menggantikan kemampuan manusia untuk memahami kesedihan, merasakan penderitaan, dan mendengarkan dengan hati.

Karena itu, gagasan Prof. Arskal Salim mengenai tajdid, islah, dan ihya' menjadi sangat relevan. Tajdid berarti pembaruan. Kita harus memperbarui cara pandang kita terhadap dunia. Pendidikan tidak boleh lagi hanya berorientasi pada hafalan. Anak-anak tidak boleh hanya dipersiapkan untuk menghafal informasi yang sewaktu-waktu bisa dicari oleh mesin pencari. Mereka harus dipersiapkan untuk berpikir kritis, memecahkan masalah, dan memahami manusia.

Namun, tajdid juga harus dilakukan oleh generasi tua. Mereka harus membuka ruang dialog dengan generasi muda. Mereka harus menyadari bahwa perubahan tidak dapat dihentikan, dan tentu saja dunia tidak akan kembali seperti dahulu.

Selanjutnya adalah islah yang berarti perbaikan. Perbaikan yang dimaksud bukan sekadar memperbaiki kurikulum atau fasilitas pendidikan, namun lebih dari itu perbaikan yang paling penting adalah memperbaiki hubungan antarmanusia.
Kita membutuhkan budaya mendengar yang selama ini mulai hilang. Kita terlalu sibuk berbicara dan terlalu sedikit mendengarkan. Kita terlalu sibuk membalas komentar dan terlalu jarang memahami perasaan orang lain.

Rumah tangga misalnya, mulai menghadapi tantangan baru yang tidak pernah dibayangkan oleh generasi sebelumnya. Ada pasangan yang retak karena kecanduan media sosial. Ada hubungan yang hancur karena kedekatan virtual dengan orang asing. Ada keluarga yang tinggal serumah tetapi hidup di dunia yang berbeda. Fenomena ini tidak boleh diremehkan, sebab keretakan keluarga adalah awal dari keretakan sosial. Apabila keluarga kehilangan empati, masyarakat pun akan kehilangan empati.

Kemudian ada ihya', yaitu menghidupkan kembali nilai-nilai yang mulai redup. Nilai yang dimaksud bukan nostalgia masa lalu. Nilai yang dimaksud adalah menghidupkan kembali kemanusiaan. Kita harus menghidupkan kembali budaya berdialog. Menghidupkan kembali tradisi membaca. Menghidupkan kembali kebiasaan berkumpul bersama keluarga. Menghidupkan kembali kebiasaan saling mendengarkan. Karena sejatinya, kemajuan teknologi tidak akan pernah mampu menggantikan kehangatan manusia.

Di sinilah agama memiliki peran yang sangat besar. Selama ini, agama sering kali dipersempit hanya sebagai ritual. Padahal, agama adalah sekolah besar yang mengajarkan empati. Agama mengajarkan manusia untuk merasakan penderitaan orang lain. Agama mengajarkan manusia untuk mengendalikan diri. Agama pula yang mengajarkan manusia agar tidak menjadi budak dari keinginannya sendiri.

Kemampuan inilah yang akan menjadi pembeda utama antara manusia dan mesin. Kita perlu mengingat kembali apa yang pernah disampaikan oleh Jensen Huang, CEO Nvidia, bahwa dunia sedang mengalami pergeseran paradigma dalam memaknai kecerdasan. Dahulu, kecerdasan identik dengan kemampuan matematika, coding, dan logika.

Kini, kemampuan yang semakin penting adalah empati. Pernyataan ini bukan berarti kemampuan teknis tidak lagi penting. Sebaliknya, kemampuan teknis tetap diperlukan. Namun, dunia membutuhkan sesuatu yang tidak dapat diproduksi oleh mesin dan tentu, dunia membutuhkan manusia yang memiliki hati.

Bayangkan jika Indonesia berhasil melahirkan generasi yang cerdas secara digital tetapi miskin empati. Kita mungkin memiliki banyak ahli teknologi, tetapi juga memiliki masyarakat yang mudah marah, mudah tersinggung, mudah terpecah, dan mudah dimanipulasi. Sebaliknya, bayangkan jika Indonesia berhasil melahirkan generasi yang cerdas, religius, berempati, dan melek digital. Mereka akan mampu menggunakan kecerdasan buatan sebagai alat untuk membangun bangsa, bukan sebagai alat yang mengendalikan bangsa.

Di sinilah harapan Indonesia Emas 2045 sesungguhnya ditentukan. Indonesia Emas bukanlah tentang gedung pencakar langit. Indonesia Emas bukanlah tentang kecanggihan teknologi semata. Indonesia Emas adalah tentang manusia yang mampu mengendalikan teknologi tanpa kehilangan kemanusiaannya.

Karena apabila kita gagal membangun empati, Indonesia Emas bisa berubah menjadi Indonesia Cemas. Kecemasan itu bukan karena kurangnya teknologi. Kecemasan itu lahir karena manusia kehilangan arah. Maka, pekerjaan besar kita hari ini bukan sekadar mengajarkan anak-anak cara menggunakan kecerdasan buatan. Kita harus mengajarkan mereka cara menjadi manusia. Sebab, pada akhirnya, masa depan tidak akan ditentukan oleh siapa yang paling canggih menggunakan teknologi. Masa depan akan ditentukan oleh siapa yang paling mampu menggunakan teknologi untuk melayani sesama manusia.

Sebagai pemungkas, inilah pekerjaan rumah seluruh generasi Indonesia. Baby boomer, gen X, milenial, gen Z, Alpha, dan Beta tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Mereka harus berjalan bersama. Generasi tua mewariskan kebijaksanaan. Generasi muda menghadirkan inovasi. Teknologi menjadi alat. Agama menjadi penuntun. Empati menjadi fondasi.

Karena sesungguhnya, peradaban yang hebat bukanlah peradaban yang memiliki mesin paling pintar. Peradaban yang hebat adalah peradaban yang mampu menjaga hati manusia tetap hidup di tengah kecerdasan buatan yang terus berkembang. Dengan demikian, inilah tugas terbesar bangsa Indonesia pada abad ini. Bukan melawan kecerdasan buatan, melainkan memastikan bahwa manusia tetap menjadi manusia. (*) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.