Arsenal harus memenangkan persaingan untuk mendapatkan talenta muda yang kini menjadi incaran sejumlah klub besar Eropa.
Hanya dibutuhkan 71 detik bagi Maroko untuk membuka keunggulan atas Skotlandia di ajang Piala Dunia, dan tak mengherankan jika target transfer Arsenal, Ayyoub Bouaddi, berperan penting dalam proses gol tersebut.
Di bawah tekanan ketat dari Scott McTominay, pemain berusia 18 tahun itu memberikan umpan rapi kepada kaptennya, Achraf Hakimi, yang kemudian mengirim bola melambung melewati lini pertahanan Skotlandia untuk diselesaikan dengan sempurna oleh Ismael Saibari ke gawang Angus Gunn.
Gol tersebut menjadi penentu kemenangan, dan kontribusi Bouaddi dalam proses terciptanya gol itu menegaskan kualitas serta potensi besar yang dimilikinya.
Beberapa klub terbesar di Eropa sangat ingin merekrut Bouaddi pada musim panas ini. Arsenal sudah melakukan kontak dengan Lille untuk membahas kemungkinan transfer pemain muda yang dihargai £70 juta tersebut, dengan tujuan memperkuat lini tengah Mikel Arteta menjelang upaya mempertahankan gelar Liga Premier.
Namun, mereka menghadapi persaingan dari Real Madrid dan Paris Saint-Germain, sementara Bayern Munich juga dilaporkan ikut dalam perburuan.
Lantas, apa yang membuat Bouaddi begitu istimewa? Pemain ini menarik perhatian klub-klub papan atas setelah menjalani musim terobosan bersama Lille, di mana ia tampil dalam 42 pertandingan. Penampilannya dalam hasil imbang Maroko melawan Brasil pekan lalu semakin memperjelas alasan mengapa Arsenal begitu berhasrat untuk merekrutnya.
Bouaddi baru menjalani penampilan ketiganya bersama tim senior Maroko saat menghadapi skuad Carlo Ancelotti, setelah baru saja beralih kewarganegaraan dari Prancis pada bulan Mei. Namun, ia tampil tanpa rasa takut di panggung sepak bola terbesar dunia.
Semua kualitas terbaiknya terlihat jelas di Stadion MetLife. Ia dikenal memiliki tekel keras yang presisi, daya juang luar biasa — menempuh jarak hampir 12 km saat menghadapi Brasil dalam suhu 29 derajat — serta kecerdasan membaca permainan yang memungkinkannya mengirim umpan akurat di bawah tekanan.
Catatan 60 operan sukses dari 87 sentuhan melawan Brasil menunjukkan efisiensi tinggi dalam penguasaan bola, sesuatu yang jarang dimiliki pemain seusianya.
Ia juga tak ragu untuk maju membawa bola dengan dribel cepat, meskipun Olivier Giroud pernah mengungkapkan bahwa Bouaddi masih sering digoda rekan-rekannya di ruang ganti Lille karena penyelesaian akhirnya yang belum konsisten.
Saat menghadapi Skotlandia di Boston pada Jumat malam, Bouaddi tampil sedikit lebih tenang dibanding biasanya. Namun, hal itu disebabkan oleh strategi lawan. Pelatih Steve Clarke menyiapkan timnya dengan tujuan utama untuk meredam pengaruh Bouaddi.
“Bouaddi menarik perhatian semua orang di pertandingan pertama (melawan Brasil),” ujar Clarke sebelum laga. “Tugas kami sekarang adalah memastikan ia tidak mendapat sorotan yang sama di pertandingan kedua.”
Strategi tersebut terlihat jelas dalam formasi lima gelandang yang diterapkan Skotlandia, dengan McTominay, John McGinn, dan Lewis Ferguson di tengah, serta Kieran Tierney dan Ryan Christie yang sering turun membantu. Bouaddi dijaga ketat sepanjang pertandingan.
Tidak mengherankan jika pengaruhnya sedikit berkurang. Ia mencatat lebih sedikit sentuhan, tekel, dan perebutan bola dibanding biasanya.
Kendati demikian, gelandang pengatur irama permainan Maroko itu masih mampu memperlihatkan kilasan kualitasnya. Operan satu sentuhannya berperan penting dalam membantu Maroko keluar dari tekanan Skotlandia.
Meski kontribusi defensifnya tidak banyak, ia tetap menunjukkan peran vital — termasuk saat berhasil merebut bola dari Ben Gannon-Doak di akhir laga untuk memulai serangan balik bagi Maroko.
Sudah jelas alasan Arsenal begitu menginginkannya. Martin Zubimendi terlihat kelelahan akibat jadwal padat musim ini, dan Bouaddi, yang sembilan tahun lebih muda dari gelandang asal Spanyol tersebut, tampak sebagai alternatif yang sangat menjanjikan.
Pemain muda ini juga masih memiliki ruang besar untuk berkembang. Olivier Giroud bahkan percaya bahwa potensi Bouaddi bisa mencapai level yang sama dengan Kylian Mbappe.
Tentu itu merupakan ekspektasi besar bagi pemain yang belum mencetak satu pun gol di level senior, tetapi performanya di Ligue 1 dan penampilannya musim panas ini menunjukkan bahwa hal tersebut bukanlah sesuatu yang mustahil.
Panggung Piala Dunia tidak membuatnya gentar sedikit pun. Dengan kematangan yang melampaui usianya, Bouaddi tampak akan menjadi investasi cerdas bagi klub mana pun yang berhasil mendapatkan tanda tangannya.