Dari Jamur jadi Makmur, Kesuksesan Hilirisasi ala Jejamuran Jogja
Bobby Wiratama June 21, 2026 03:35 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM - Ratusan baglog—media tanam jamur—tersusun rapi siap menyambut setiap wisatawan yang berkunjung di Agrowisata Jejamuran, Dusun Dukuh, Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (14/4/2026).

Dari tempat inilah transformasi ekonomi berbasis hilirisasi komoditas jamur dijalankan.

Jamur hasil panen tidak hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi beragam sajian kuliner yang menggugah selera dan kini dinikmati konsumen dari berbagai daerah di Indonesia.

Keberhasilan hilirisasi tersebut berawal dari proses budidaya yang dikembangkan secara serius oleh Ratidjo Hardjo Suwarno, pemilik Jejamuran yang meliputi restoran hingga perkebunan jamur.  

Penanggung jawab Agrowisata Jejamuran, Ahmad Arif Nugroho menjelaskan, ada 34 jenis jamur yang dibudidayakan di lahan seluas 2,5 hektare. Mulai dari jamur tiram, portobello, kuping, merang, kancing, lingzhi, hingga shiitake.

“Jamur-jamur di sini berasal dari berbagai negara, mulai dari Jepang, Eropa, hingga China,” katanya kepada Tribunnews.com.

Membudidayakan berbagai jenis jamur tersebut bukan perkara mudah. 

Iklim tropis Indonesia menghadirkan tantangan tersendiri. Diperlukan upaya ekstra untuk menjaga kondisi lingkungan tetap sesuai dengan kebutuhan masing-masing jenis jamur.

Satu contohnya, Agrowisata Jejamuran perlu membangun kumbung—bangunan atau ruangan tertutup khusus yang dirancang untuk membudidayakan jamur—dengan fasilitas AC 24 jam untuk jamur portobello dan kancing.

Arif melanjutkan, dalam satu hari produksi jamur tembus 100 kilogram, bahkan saat high season atau liburan panjang bisa mencapai 500 kilogram.

“Semua hasil panen 100 persen kita supply ke Resto Jejamuran. Namun, jika masih ada sisa kita jual ke warga sekitar,” kata penghobi burung kicau ini.

Dari Jamur jadi Makmur

lihat foto
RESTO JEJAMURAN - Suasana perkebunan budidaya jamur milik Ratidjo di Dusun Niron, Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ada sebanyak 34 jenis jamur yang ditanam.

Arif mengisahkan, perjalanan sukses hilirisasi komoditas jamur ini berawal dari sebuah langkah berani Ratidjo mendirikan CV Volva Indonesia di Kabupaten Sleman pada 1997.

Kala itu, badan usaha tersebut berfokus pada budidaya jamur sekaligus membantu para petani lokal yang kesulitan memasarkan hasil panen mereka. Dari situ, muncullah ide mengolah jamur menjadi produk kaleng agar lebih praktis, mudah dipasarkan, dan tahan lama.

Siapa sangka, konsumen merespons dengan baik. Produk jamur kaleng terus berkembang, hingga kini hadir dalam berbagai varian seperti lodeh jamur dan semur jamur.

Tak berhenti di situ, pada 2006 Ratidjo kembali melangkah lebih jauh dengan mendirikan Resto Jejamuran dan Agrowisata Jejamuran, yang lokasinya berdekatan cuma 3 menit perjalanan dengan kendaraan.

"Kami juga punya venue pernikahan Bulak Senthe dan Jejamuran Catering. Belum lagi ada unit bisnis lain seperti penjualan bibit jamur dan baglog untuk budidaya. Total karyawan mencapai 250 orang," tutur Arif.

Bagi pria yang sudah bekerja di Jejamuran sejak 2012 ini, jamur bisa mendatangkan kesejahteraan. Ia sudah bisa memiliki rumah sendiri, motor, hingga mobil.

"Ditanya apakah jamur bisa memberi kemakmuran? Insya Allah bisa, karena Jejamuran sendiri sudah mempraktikkan, dan alhamdulillah kami sampai sekarang bertahan dengan jumlah karyawan ratusan orang,” katanya dengan mantap.

Arif juga menilai, kesuksesan Jejamuran tidak lepas dari langkah Ratidjo untuk melakukan hilirisasi, tidak berhenti di bahan mentah, tapi juga membuat inovasi dari berbagai produk jamur.

“Kami menanam jamur sendiri, diolah dulu baru dijual. Sebenarnya, bisnis yang menguntungkan itu ya hilirisasi,” tandas ayah dua orang anak tersebut.

lihat foto
RESTO JEJAMURAN - Foto produk-produk olahan dari jamur, mulai dari botok jamur, gudeg jamur, hingga gulai jamur. Semua diproduksi oleh Jejamuran di Dusun Niron, Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta

Sosok di Balik Kesuksesan Jejamuran

Ratidjo, pria yang kini berumur 82 tahun, merupakan sosok di balik kesuksesan Jejamuran melakukan hilirisasi komoditas jamur.

Ditarik jauh pada 1968, kecintaannya dengan jamur dimulai saat dia bekerja di PT Dieng Djaya, Wonosobo, Jawa Tengah, perusahaan yang bergerak di bidang pengembangan budidaya jamur kancing.

Kakek 10 orang cucu itu mengaku jatuh cinta dengan tanaman jamur. Baginya, jamur merupakan tanaman yang paling jujur.

“Karena jamur enggak bisa bohong. Kalau dia sakit pasti ada tanda-tandanya. Akhirnya saya paham, sesuatu yang dilakukan dengan hati hasilnya luar biasa. Menanam jamur harus dengan hati dan rasa,” kata dia.

Meski bukan dari latar belakang pertanian, Ratidjo tidak pernah membiarkan keterbatasan menghalangi langkahnya. Kecintaannya pada jamur justru menjadi bahan bakar untuk terus belajar.

Saat perusahaan mendatangkan pakar pertanian dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Pertanian Bogor (IPB), dan petani jamur asal Taiwan, Ratidjo melihatnya sebagai peluang emas.

Ia memanfaatkan setiap kesempatan untuk menimba ilmu, memperluas wawasan, dan memperdalam pemahamannya tentang budidaya jamur. Pengalaman itu kelak mengantarkannya menuju kesuksesan.

Perusahaan kemudian mempercayai Ratidjo untuk menanam jamur kancing di wilayah Bandung, Jawa Barat, dan kemudian membudidayakan jamur merang di Desa Margorejo, Kabupaten Sleman, Jogja, antara 1980–1985.

Puncak karier korporat diraihnya pada warsa 1993. Dirinya dipercaya memimpin perusahaan pengalengan jamur PT Tuwuh Agung, Kabupaten Kulon Progo.

Berbekal pengalamannya dalam pengolahan jamur, Ratidjo pada akhirnya memberanikan diri keluar dari perusahaan demi mendirikan Resto Jejamuran saat berusia 54 tahun.

Sekarang, Resto Jejamuran menjelma menjadi ikon kuliner Jogja yang pernah mencatatkan kunjungan terbanyak 3.000 orang dalam satu hari.

“Termasuk pernah ke sini tiga Wakil Presiden, ada Bapak Jusuf Kalla, Bapak Boediono, dan Bapak Try Sutrisno,” katanya dengan bangga.

Kesuksesan Resto Jejamuran juga mengantarkan Ratidjo meraih predikat Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) terbaik se-Jogja pada 2009.

Tidak sampai di situ, dia juga diundang Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2009 dan Presiden Joko Widodo pada 2014 ke Istana Negara untuk menerima penghargaan.

Sedangkan kunci kelezatan olahan jamur ada di tangan In-daryati, istri dari Ratidjo. Ia berhasil menghadirkan menu sederhana, namun dengan cita rasa istimewa.

“Menu-menu di Jejamuran sebetulnya tidak asing, makanan yang biasa ditemui, seperti tongseng tapi dari jamur, gudeg berbahan jamur. Tapi, kenapa didatangi ribuan orang? Karena kami unik, satu-satunya di Indonesia,” tambah dia.

Kesuksesan Jejamuran juga tidak bisa dilepaskan dari peran Bank Rakyat Indonesia (BRI), yang sudah hadir di kala Ratidjo merintis restonya.

Ia mendapatkan bantuan usaha sebesar Rp25 juta, yang kemudian berkembang menjadi hubungan kemitraan disertai proses pendampingan.

“Saya sama BRI itu saling membutuhkan supaya sama-sama hidup. Enggak mungkin BRI membiarkan saya. BRI yang membimbing saya,” tandasnya.

lihat foto
RESTO JEJAMURAN - Infografis riwayat hidup dari Ratidjo pemilik Resto Jejamuran di Dusun Niron, Desa Pandowoharjo, Kecamatan Sleman, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. (AI)

Harapan BRI Sleman

Pemimpin BRI Cabang Sleman, Akhmad Amri Abadan memberikan apresiasi atas keberhasilan dan konsistensi Resto Jejamuran dalam mengembangkan usaha kuliner yang tidak hanya menjadi ikon wisata kuliner di Sleman, tetapi juga memberikan kontribusi nyata terhadap pertumbuhan ekonomi daerah serta penciptaan lapangan kerja bagi masyarakat.

“BRI Branch Office Sleman merasa bangga dapat menjadi bagian dari perjalanan dan perkembangan usaha Resto Jejamuran. Kami melihat bahwa keberhasilan yang diraih saat ini merupakan hasil dari komitmen yang kuat dalam menjaga kualitas, berinovasi serta memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan,” katanya kepada Tribunnews.com, Rabu (17/6/2026).

Ke depan, lanjut Akhmad, pihaknya berharap Resto Jejamuran dapat terus tumbuh dan berkembang, memperluas jangkauan usahanya, serta menjadi inspirasi bagi pelaku UMKM lainnya untuk naik kelas dan semakin berdaya saing. 

BRI juga berkomitmen untuk terus mendukung pertumbuhan dunia usaha melalui berbagai layanan perbankan dan solusi keuangan inovatif, sehingga para pelaku usaha dapat mengembangkan bisnisnya secara berkelanjutan.

“Semoga sinergi yang telah terjalin antara BRI dan Resto Jejamuran dapat terus diperkuat, memberikan manfaat bagi kedua belah pihak, serta turut mendukung kemajuan perekonomian Kabupaten Sleman dan Daerah Istimewa Yogyakarta secara umum,” tutup Akhmad.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.