Ke Swiss untuk Perundingan Iran, Wapres AS Berharap Aksi Saling Serang Israel-Lebanon Mandek Dulu
Bobby Wiratama June 21, 2026 05:38 AM

 

TRIBUNNEWS.COM - Wakil Presiden Amerika Serikat (AS), JD Vance, telah bertolak dari Washington menuju Swiss guna menghadiri rangkaian pembicaraan penting dengan pihak Iran serta negara-negara mediator pada Sabtu waktu setempat (20/6/2026).

Kunjungan diplomatik ini dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Sebelum menaiki pesawat di Pangkalan Udara Andrews, Maryland, Vance sempat memberikan keterangan kepada awak media mengenai agenda utamanya di Eropa.

Misi Gencatan Senjata di Lebanon

Dalam keterangannya di landasan pacu, Vance menegaskan bahwa fokus utamanya dalam pertemuan tersebut adalah menyelesaikan dua isu krusial yang tengah melanda kawasan Timur Tengah.

Isu tersebut adalah kesepakatan nuklir dengan Iran dan eksalasi situasi di Lebanon.

"Saya hanya bisa berada di sana selama satu atau dua hari. Saya rasa kami berharap dapat membuat kemajuan dalam isu nuklir, membuat kemajuan dalam isu gencatan senjata Lebanon. Itu adalah dua hal besar yang menurut saya akan menjadi fokus kami," ujar Vance kepada wartawan.

Ketika ditanya oleh awak media apakah pertempuran yang masih berlangsung di Lebanon berpotensi menggagalkan jalannya negosiasi, Vance memberikan jawaban optimistis.

Baca juga: Hubungan AS-Israel Memanas, Warga Israel Tuding Trump Khianati Tel Aviv

Ia menilai situasi di lapangan justru memperlihatkan tanda-tanda penurunan intensitas konflik.

"Situasi sebenarnya membaik di sana, dan segala sesuatunya sedikit melambat," jelasnya.

Ia juga menambahkan bahwa jajaran diplomatik AS terus bergerak aktif di belakang layar untuk mengendalikan situasi tersebut. 

"Dia (Menteri Luar Negeri Marco Rubio) dan seluruh tim telah secara aktif mengelola apa yang terjadi di Lebanon," tambah Vance.

Vance Minta Israel-Lebanon Berhenti Saling Serang

Vance juga kembali menegaskan bahwa laporan-laporan media yang menggambarkan situasi genting di Lebanon tidak sepenuhnya mencerminkan dinamika yang terjadi di lapangan.

Menurutnya, pemerintah AS terus berkomitmen menjaga stabilitas di wilayah tersebut agar perdamaian jangka panjang dapat terwujud bagi kedua belah pihak.

Ia mengibaratkan konflik yang saling balas antara pihak-pihak yang bertikai seperti siklus yang tidak ada habisnya. 

"Masalah besarnya adalah ada orang yang menembak lalu ada orang yang membalas, dan Anda menghadapi masalah seperti lebih mana ayam atau telur." terang Vance.

Oleh karena itu, jeda pertempuran bagi JD Vance menjadi kunci utama yang sedang diupayakan oleh Washington saat ini.

"Anda hanya harus menghentikan penembakan itu cukup lama agar gencatan senjata dapat bertahan, itulah yang akan kami coba lakukan." pungkasnya

Minta Israel Tahu Diri

Sebelum berangakat ke Swiss, Vance juga sempat melayangkan kritik tajam terhadap sejumlah pejabat tinggi Israel.

Kritik tersebut disampaikan dalam konferensi pers di Gedung Putih pada hari Kamis waktu setempat, atau Jumat Waktu Indonesia Barat (WIB) (19/6/2026).

Vance mengecam para menteri dari kelompok sayap kanan dalam kabinet Perdana Menteri Benjamin Netanyahu karena dinilai tidak mendukung kesepakatan nuklir yang diinisiasi oleh AS.

Ia menuduh para menteri tersebut tidak tahu terima kasih dan kurang menghargai dukungan besar yang selama ini diberikan oleh Washington melalui dana pajak masyarakat Amerika Serikat.

"Anda telah melihat orang-orang di dalam kabinet Bibi (Netanyahu), yang keluar dan menyerang kesepakatan itu, dan dalam beberapa hal menyerang presiden Amerika Serikat secara sangat pribadi," kata Vance.

Lebih lanjut, Vance mengingatkan sekutu dekatnya tersebut mengenai posisi strategis Presiden Donald J. Trump yang dinilainya sebagai figur pemimpin dunia yang paling berpihak pada Israel saat ini.

Baca juga: Sentil Netanyahu, Trump: Tanpa Bantuan AS, Israel Sudah Hancur Lebur

"Tolong ingat, Donald J. Trump adalah satu-satunya kepala negara di seluruh dunia yang saat ini masih bersimpati kepada bangsa Israel . Dan dia kebetulan adalah kepala negara dari negara adidaya dunia," tegas Vance.

 Vance juga meminta para pejabat Israel untuk bersikap lebih realistis dan melihat kembali fakta mengenai ketergantungan pertahanan mereka pada bantuan finansial dan militer dari AS.

"Jika saya berada di dalam kabinet pemerintah Israel, saya mungkin tidak akan menyerang satu-satunya sekutu kuat yang saya miliki yang tersisa di seluruh dunia."

"Hal lain yang ingin saya katakan adalah bahwa selama tiga bulan terakhir, dua pertiga dari senjata pertahanan yang telah melindungi tanah air Anda, telah dibangun oleh tangan-tangan Amerika dan dibayar dengan dolar pajak Amerika," lanjutnya.

Vance memperingatkan agar Israel tidak salah dalam mengidentifikasi pihak yang menjadi masalah utama mereka di panggung geopolitik saat ini.

"Masalah bagi Israel bukanlah Donald J. Trump. Dan siapa pun di Israel yang berpikir bahwa masalah terbesar mereka adalah presiden Amerika Serikat perlu bangun dan menyadari realitas situasi yang dialami negara itu," pungkas Vance.

Pernyataan keras Wakil Presiden AS ini diyakini kuat ditujukan kepada Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich dan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben Gvir.

Kedua menteri dari faksi sayap kanan tersebut sebelumnya secara terbuka menyerukan agar Israel mengabaikan poin-poin kesepakatan yang diajukan AS, dengan dalih bahwa perjanjian tersebut membahayakan keamanan nasional mereka.

(Tribunnews.com/Bobby)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.