Laporan Wartawan TribunJatim.com, Sofyan Arif Candra Sakti
TRIBUNJATIM.COM, MADIUN – Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di Kota Madiun mulai merampungkan fase awal.
Dinas Pendidikan (Dindik) Kota Madiun secara resmi telah menutup pendaftaran tahap pertama yang berbasis pada jalur mutasi orang tua, afirmasi (warga kurang mampu), dan jalur prestasi pada Jumat (19/6/2026).
Meskipun tensi persaingan memperebutkan kursi di sejumlah sekolah menengah pertama (SMP) negeri unggulan terbilang sengit, pemerintah daerah memberikan garansi penuh bahwa hak pendidikan seluruh anak di Kota Madiun akan terpenuhi secara merata.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Madiun, Lismawati, menjelaskan bahwa masyarakat tidak perlu berkecil hati atau panik apabila putra-putrinya tereliminasi pada seleksi tahap pertama yang berlangsung selama tiga hari (17–19 Juni) tersebut. Pihaknya telah menyusun skema tahapan SPMB yang tersruktur rapi agar anak tetap bisa bersekolah.
Baca juga: Pengamanan Malam 1 Suro di Madiun Berjalan Kondusif, Polisi Siap Fokus Amankan Suran Agung
"Hari Jumat kemarin adalah hari terakhir untuk tahap pertama. Bagi wali murid yang putra-putrinya belum diterima dari jalur mutasi, afirmasi, maupun prestasi, silakan langsung bersiap mengikuti jalur domisili yang dibuka mulai tanggal 22 sampai 24 Juni 2026. Jika di jalur domisili nanti masih belum beruntung, tenang saja karena masih ada tahap pemenuhan pagu pada 25–26 Juni," terang Lismawati saat memberikan keterangan resmi, Minggu (21/6/2026).
Lismawati tidak menampik bahwa dalam SPMB tahun ini, konsentrasi pilihan mayoritas masyarakat masih tertuju pada beberapa sekolah yang dianggap favorit. Lonjakan pendaftar paling signifikan terpantau berada di SMP Negeri 1, SMP Negeri 2, SMP Negeri 3, dan SMP Negeri 4 Kota Madiun.
Kendati demikian, Dindik Kota Madiun menegaskan bahwa strategi penghitungan kuota daya tampung sekolah (pagu) tahun ini sudah sangat diantisipasi secara matang agar melebihi kuantitas lulusan jenjang di bawahnya.
"Kebijakan kami jelas, kami menyediakan pagu yang totalnya jauh lebih banyak dibanding jumlah lulusan yang ada. Untuk jenjang SMP misalnya, jumlah kursi yang tersedia di seluruh sekolah negeri jauh lebih banyak ketimbang total siswa lulusan SD di Kota Madiun tahun ini. Langkah ini kami ambil agar masyarakat tenang, karena kami pastikan tidak akan ada anak yang tidak mendapatkan sekolah," tegasnya secara lugas.
Mengenai potensi riil adanya sekolah-sekolah pinggiran yang terancam kekurangan peminat atau tidak memenuhi pagu pasca-pengumuman akhir nanti, Lismawati mengaku pihaknya baru akan melakukan evaluasi komprehensif setelah seluruh rangkaian sistem online ditutup. Namun, ia optimistis kuota akan terisi proporsional seiring bergulirnya sistem zonasi (domisili).
Ada yang berbeda dan menarik dalam pelaksanaan SPMB Kota Madiun tahun 2026 ini. Dindik kembali menghidupkan program apresiasi khusus berupa golden ticket bagi siswa SMP, namun dengan cakupan inklusivitas yang lebih luas dan toleran.
Jika pada tahun-tahun sebelumnya karpet merah golden ticket ini hanya eksklusif diperuntukkan bagi para santri penghafal Al-Qur'an (hafidz), maka pada tahun ajaran baru ini regulasi diperluas untuk mengakomodasi para siswa penghafal kitab suci dari tiga agama sekaligus, yakni Islam, Kristen, dan Buddha.
Melalui jalur prestasi keagamaan khusus ini, Dindik mengalokasikan kuota resmi sebanyak satu siswa untuk masing-masing perwakilan agama di setiap satuan lembaga sekolah. Syarat mutlaknya, calon peserta didik wajib melampirkan sertifikat resmi dari otoritas keagamaan sah yang menyatakan bahwa mereka adalah penghafal kitab suci.
"Untuk tahun ini, tercatat ada tiga perwakilan agama yang mengajukan berkas, yaitu Islam, Kristen, dan Buddha. Tentu harapan besar kami dari Dinas Pendidikan, anak-anak yang memiliki dasar keimanan, akhlak mulia, dan adab yang kokoh sejak dini ini nantinya bisa menjadi figur teladan sekaligus motor penggerak kebaikan bagi teman-teman sebayanya di sekolah," pungkas Lismawati.