TRIBUNSOLO.COM, KLATEN – Tradisi wiwitan, sebuah upacara adat yang menandai dimulainya panen padi, masih terus dilestarikan oleh masyarakat petani di Desa Sribit, Kecamatan Delanggu, Kabupaten Klaten.
Menariknya, tradisi yang digelar pada Kamis (18/6/2026) itu tidak hanya diikuti para petani senior, tetapi juga melibatkan generasi muda atau Generasi Z yang mulai menaruh perhatian pada dunia pertanian.
Kegiatan berlangsung di tengah hamparan persawahan dengan nuansa kearifan lokal yang masih sangat kental.
Prosesi ini turut dihadiri akademisi sekaligus pakar ekonomi Renald Kasali, yang menyaksikan secara langsung bagaimana tradisi budaya dipadukan dengan semangat regenerasi petani.
Baca juga: Bupati Klaten Hamenang Puji Grebeg Pasar Masaran Cawas, Dongkrak Ekonomi Warga Lewat Budaya
Wiwitan merupakan tradisi turun-temurun masyarakat agraris di Jawa Tengah sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan atas hasil panen yang akan dipetik.
Selain doa bersama, masyarakat juga menyajikan beragam hidangan tradisional sebagai simbol kebersamaan dan harapan akan hasil panen yang melimpah.
Dalam prosesi tersebut, tersaji nasi gurih, tempe, urap, ayam suwir, hingga ingkung ayam kampung bakar yang menjadi bagian dari sesaji tradisional.
Setelah doa bersama, acara dilanjutkan dengan pemotongan padi secara simbolis sebagai penanda dimulainya masa panen.
Menurut Renald Kasali, keterlibatan anak muda dalam tradisi sekaligus aktivitas pertanian menjadi sinyal positif bagi masa depan sektor pertanian Indonesia.
"Ini gerakan perubahan. Karena sekarang banyak orang tua yang menjual tanah agar anaknya jadi sarjana dan anaknya tidak kembali ke pertanian," ujar Renald Kasali.
Baca juga: Terkait Pemadaman Listrik di Klaten, Bupati Hamenang Minta PLN Beri Informasi Dulu Sebelum Pemadaman
Ia menilai kondisi tersebut selama ini terjadi karena kehidupan petani identik dengan berbagai tantangan ekonomi.
Namun kini mulai muncul kesadaran baru di kalangan generasi muda untuk kembali mengelola lahan pertanian.
"Jadi sekarang dikembalikan dan alhamdulillah banyak anak muda yang sekarang mulai tertarik bertani, mulai berpikir," katanya.
Meski demikian, Renald mengakui jumlah anak muda yang terjun ke sektor pertanian masih relatif sedikit. Ia berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik apabila melihat hasil pertanian yang mampu memberikan keuntungan.
"Tapi jumlahnya masih sedikit. Mudah-mudahan kalau hasilnya baik, maka anak muda akan kembali," ucapnya.
Kehadiran Renald di Desa Sribit juga berkaitan dengan kolaborasinya bersama Pusat Kesehatan Tanah dan Tanaman (Puskestan) yang didirikan oleh Philip Avianto, pemuda berusia 29 tahun asal Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten.
Melalui salah satu program bertajuk on farm, Philip bersama para petani dan generasi muda menggarap lahan-lahan pertanian yang selama ini terbengkalai atau tidak lagi produktif.
Baca juga: Momen Warga Klaten Banjiri Grebeg Pasar Masaran Cawas ke-XI, 8 Gunungan dan 30 Tumpeng Jadi Rebutan
"Kami mengerjakan lahan-lahan petani yang sudah mangkrak atau sudah bero," ujar Philip.
Lahan tersebut kemudian dikelola secara bersama-sama menggunakan sistem bagi hasil sehingga mampu memberikan manfaat bagi pemilik lahan maupun para penggarap.
Menurut Philip, program tersebut bertujuan menghidupkan kembali lahan tidur sekaligus membangkitkan semangat bertani di kalangan masyarakat, khususnya generasi muda.
"Tujuan kami adalah bagaimana lahan-lahan yang tidak produktif bisa berguna kembali, dan akhirnya para petani bisa semangat. Sekaligus anak muda-anak muda itu juga mau turun ke lapangan," pungkasnya.
Perpaduan antara tradisi wiwitan dan keterlibatan Generasi Z menjadi gambaran bahwa pelestarian budaya dapat berjalan seiring dengan upaya regenerasi petani.
Harapannya, semangat anak muda dalam mengelola pertanian mampu menjaga ketahanan pangan sekaligus memastikan tradisi agraris di Klaten tetap lestari di masa mendatang.
(*)