TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR – Misteri identitas pria yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi tersangkut di bebatuan aliran Sungai Ayung, Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali, akhirnya terungkap.
Korban diketahui bernama Supandi (32), warga Rogojampi, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Identitas korban berhasil dipastikan setelah keluarga mendatangi Polsek Ubud dan melakukan proses pencocokan bersama aparat kepolisian serta pihak proyek tempat korban bekerja.
Keluarga korban juga telah bertemu dengan mandor proyek pembangunan villa di kawasan Kedewatan yang menjadi lokasi korban bekerja sebelum ditemukan meninggal dunia.
Kapolsek Ubud, Kompol I Wayan Putra Antara, mengatakan pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak mengajukan tuntutan terkait kematian korban.
Selain itu, keluarga berharap proses pemulangan jenazah dapat segera dilakukan agar korban bisa dimakamkan di kampung halamannya di Jawa Timur.
"Pihak keluarga tidak menuntut atas kematian korban dan meminta agar jenazah dapat dipulangkan hari ini untuk dikebumikan. Pihak mandor menyanggupi pertanggungjawaban terkait kepulangan jenazah," ujar Kapolsek, Minggu 21 Juni 2026.
Baca juga: Identitas Mayat di Sungai Ayung Ubud Bali Masih Misterius, Keluarga Orang Hilang Mulai Berdatangan
Kapolsek menjelaskan, terungkapnya identitas korban berawal dari penyelidikan yang dilakukan Tim Opsnal Polsek Ubud bersama Tim Opsnal Polres Gianyar.
Tim melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP), penelusuran identitas, hingga pemeriksaan sejumlah saksi untuk mengungkap siapa sosok pria yang ditemukan meninggal di Sungai Ayung pada Jumat 19 Juni 2026.
Dari hasil penyelidikan tersebut diketahui korban merupakan pekerja proyek pembangunan villa di kawasan Banjar Kedewatan.
Mandor proyek bernama Choirul Anam mengaku terakhir kali melihat korban pada Kamis (18/6/2026).
Saat itu, Supandi datang ke lokasi proyek sekitar pukul 09.30 Wita dan bekerja seperti biasa hingga pukul 17.00 Wita.
Sebelum aktivitas kerja berakhir, korban sempat berbincang dengan mandor proyek. Saat bekerja, korban diketahui mengenakan kaus berwarna hitam dan celana pendek.
Korban Sempat Menghilang dari Bedeng Pekerja
Keterangan lain diperoleh dari rekan kerja korban, Betaf Halil Akbar.
Saksi menyebut terakhir melihat Supandi sekitar pukul 15.00 Wita saat berjalan menuju bedeng pekerja.
Namun setelah pekerjaan selesai, korban tidak kembali terlihat berada di tempat istirahat dan tidak muncul saat jadwal makan malam sekitar pukul 19.00 Wita.
Hingga keesokan harinya, Jumat 19 Juni 2026 sekitar pukul 06.00 Wita, korban juga tidak ditemukan berada di bedeng proyek.
Dalam proses penyelidikan, polisi turut memperoleh informasi bahwa korban sebelumnya sempat menyampaikan keinginannya untuk memancing di sungai yang berada di sebelah barat proyek.
Keterangan tersebut disampaikan korban kepada salah seorang rekannya pada Minggu 14 Juni 2026.
Meski demikian, hingga kini polisi masih terus mendalami penyebab pasti kematian korban.
Kapolsek memastikan selama kurang lebih satu minggu bekerja di proyek pembangunan villa tersebut, korban tidak pernah dilaporkan terlibat perselisihan ataupun cekcok dengan pekerja lainnya.
"Selama sekitar satu minggu bekerja di proyek villa tersebut, korban disebut tidak pernah terlibat pertengkaran maupun cekcok dengan pekerja lainnya," ujar Kapolsek.
Sebelumnya, korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia dan tersangkut di sela bebatuan aliran Sungai Ayung, Desa Kedewatan, Jumat 19 Juni 2026.
Kapolsek Ubud, Kompol I Wayan Putra Antara sebelumnya pada 19 Juni 2026 menjelaskan, korban berjenis kelamin laki-laki.
Jenazah ditemukan sekitar pukul 10.10 Wita dalam kondisi tersangkut di sela-sela bebatuan aliran Sungai Ayung, Banjar Kedewatan, Desa Kedewatan, Kecamatan Ubud, Gianyar, Bali.
Temuan itu pertama kali diketahui oleh seorang karyawan hotel yang berada di kawasan tepi sungai. Saat kejadian, saksi sedang menjalankan aktivitas rutin membersihkan area sekitar Sungai Ayung.
Untuk mencapai lokasi, saksi menggunakan bogi dari area lobi hotel menuju bagian bawah kawasan yang berbatasan langsung dengan sungai.
Sesampainya di lokasi, saksi melihat benda mencurigakan di antara bebatuan aliran sungai. Dari kejauhan, benda tersebut sempat dikira sebagai akar pohon yang hanyut dan tersangkut.
Namun karena merasa ada yang tidak biasa, saksi kemudian mendekati lokasi dan melakukan pemeriksaan lebih dekat.
Setelah dipastikan, benda tersebut ternyata merupakan sesosok mayat yang mengambang dan tersangkut di sela bebatuan.
Mengetahui hal itu, saksi segera melaporkan temuannya kepada petugas keamanan hotel.
Pihak keamanan kemudian melakukan pengecekan dan memastikan bahwa benar terdapat jenazah laki-laki dalam posisi terlentang dengan kepala menghadap ke atas.
Temuan tersebut selanjutnya dilaporkan kepada Bhabinkamtibmas Desa Kedewatan, Aiptu I Nyoman Sutama, sebelum diteruskan ke Polsek Ubud.
Sekitar pukul 10.30 Wita, Kapolsek Ubud bersama personel kepolisian tiba di lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara dan pengamanan area.
Selain kondisi medan yang sulit dijangkau, petugas juga menghadapi kendala akses keluar dari lokasi penemuan jenazah.
Tim gabungan akhirnya tidak dapat mengevakuasi jenazah melalui jalur terdekat di wilayah Kedewatan dan terpaksa mengalihkan jalur evakuasi melalui wilayah Kabupaten Badung, tepatnya Banjar Tegal Kuning, Kecamatan Abiansemal.
Keputusan tersebut diambil setelah sejumlah pihak yang memiliki akses keluar dari kawasan sekitar lokasi penemuan tidak mengizinkan jenazah tak dikenal melintas di area mereka.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Gianyar, I Gusti Ngurah Dibya Presasta, mengatakan proses evakuasi sempat tertahan karena keterbatasan akses.
"Karena di wilayah Kedewatan tidak ada akses, akhirnya jenazah dievakuasi lewat Banjar Tegal Kuning, Abiansemal, Badung," ujar Dibya, Jumat 19 Juni 2026.
Setelah berhasil dievakuasi dari dasar aliran sungai, jenazah kemudian dibawa menggunakan ambulans PMI Kabupaten Gianyar menuju RSUP Prof Ngoerah, Denpasar untuk penanganan lebih lanjut dan proses identifikasi.
"Setelah dievakuasi, jenazah dibawa ambulans PMI Gianyar untuk dititipkan ke RSUP Prof Ngoerah. Identitas nihil," kata Dibya.
Meski petugas berhasil mencapai titik penemuan menggunakan akses dari salah satu restoran di wilayah Desa Kedewatan, proses pengeluaran jenazah dari lokasi tidak dapat dilakukan melalui jalur yang sama.
Menurut Dibya, beberapa pihak yang memiliki akses keluar di kawasan tersebut menolak wilayahnya dilalui jenazah yang belum diketahui identitasnya.
Kondisi ini membuat tim BPBD, PMI, dan aparat kepolisian harus mencari jalur alternatif yang memungkinkan proses evakuasi tetap berjalan.
"Ada kendala pada jalur evakuasi, beberapa pihak melarang melintas di kawasannya," ujar Dibya.
Dalam konteks budaya lokal di Bali, terdapat keyakinan di sebagian masyarakat Hindu bahwa masuknya jenazah yang tidak memiliki keterkaitan dengan rumah, pekarangan, atau tempat usaha dapat dianggap menyebabkan kondisi cuntaka atau ketidaksucian secara ritual, sehingga diperlukan prosesi penyucian tertentu.
Selain pertimbangan adat dan keagamaan, terdapat pula kekhawatiran dari pengelola usaha terkait dampak terhadap aktivitas wisata di kawasan tersebut.
Karena itu, tim akhirnya menunggu koordinasi dan arahan aparat kepolisian sebelum memutuskan jalur evakuasi melalui Banjar Tegal Kuning, Desa Bongkasa, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.
Sekitar pukul 11.45 Wita, tim BPBD dan PMI Kabupaten Gianyar tiba di lokasi dan melakukan proses pengangkatan jenazah hingga berhasil dibawa keluar dari kawasan sungai.
(*)