Laporan Wartawan Tribun Jabar, Hilman Kamaludin
TRIBUNJABAR.ID, BANDUNG - Pemindahan operasional bus antar kota antar provinsi (AKAP) dan bus antar kota dalam provinsi (AKDP) dari terminal Cicaheum ke Terminal Leuwipanjang, mulai berdampak terhadap pedapatan pedagang.
Dari 110 bus AKAP dan AKDP yang awalnya mangkal di Terminal Cicaheum, sudah 80 persen atau sekitar 60 bus yang sudah pindah ke Terminal Leuwipanjang dan sisanya masih tetap melayani penumpang di Terminal Cicaheum.
Pedagang di Terminal Cicaheum, Iwan Mardiono (52), mengaku alami penurunan pendapatan setelah operasional bus pindah ke Terminal Leuwipanjang.
"Penurunan pendapatan yang kami alami sangat drastis. Kalau dibandingkan dengan kondisi sebelumnya, saat ini pendapatan kami bisa dikatakan tinggal sekitar 20 persen saja," ujar Iwan, Minggu (21/6/2026).
Baca juga: Indikator Persib Bisa Boyong Mike van der Hoorn, Bestie Marc Klok Rp13,04 Miliar dari FC Uthrect
Dia mengatakan, kondisi itu terjadi karena sebagian besar penumpang yang sebelumnya datang ke Terminal Cicaheum kini beralih ke Terminal Leuwipanjang mengikuti perpindahan armada bus.
"Padahal selama ini kami memberikan layanan kepada para penumpang, sopir, maupun kenek. Kami menyediakan makanan, minuman, dan berbagai kebutuhan lain yang menunjang aktivitas mereka selama berada di terminal," katanya.
Kendati demikian, para pedagang tetap berusaha bertahan semampunya dengan melakukan berbagai penghematan dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga kebutuhan pribadi dan keluarganya pun terpaksa harus dikurangi.
"Secara pribadi, saya bahkan mengurangi konsumsi kopi dan rokok sebagai bagian dari upaya berhemat. Di sisi lain, keluarga juga harus memahami kondisi yang sedang kami hadapi," ucap Iwan.
Di tengah kondisi itu, kata dia, sampai saat ini belum ada kejelasan mengenai kompensasi. Sehingga, para pedagang di Terminal Cicaheum pun sekarang ini hanya bisa melakukan efisiensi kebutuhan rumah tangga.
"Dengan pendapatan yang jauh menurun seperti sekarang, langkah penghematan menjadi satu-satunya cara agar kami tetap bisa bertahan," katanya.
Untuk itu, dia berharap pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan yang logis, rasional, dan berpihak kepada masyarakat yang terdampak. Sehingga pemerintah harus benar-benar menghitung kerugian yang dialami pedagang secara objektif.
Dalam hal kompensasi non fisik misalnya, pemerintah seharusnya menghitung rata-rata pendapatan harian pedagang, kemudian mengalikannya dengan masa transisi yang diperlukan hingga proses relokasi selesai.
Baca juga: Persib Ekspansi Eredivisie Cari Pengganti Barba, Tak Tanggung Sosok yang Diincar Eks Ajak Rp13,04 M
"Dengan cara itu pedagang masih memiliki kesempatan untuk mempertahankan kehidupan ekonominya selama masa perpindahan," ucap Iwan.
Di sisi lain, pihaknya khawatir nilai kompensasi tersebut tidak ditentukan secara subjektif tanpa dasar perhitungan yang jelas. Sebagai contoh, pernah disebutkan bahwa ada pedagang yang mendapatkan nilai kompensasi sekitar Rp1,9 juta.
"Padahal rata-rata keuntungan bersih pedagang per hari bisa mencapai sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu. Jika masa transisi berlangsung cukup lama, maka kehilangan pendapatan seharusnya diperhitungkan," ujarnya.
Kepala Terminal Cicaheum, Asep Supriadi mengatakan, pihaknya masih melakukan sosialisasi terhadap para pedagang yang terdampak pembangunan Depo BRT dan pemindahan layanan bus ke Terminal Leuwipanjang tersebut.
"Kami terus sosialisasi dari kemarin, cuma disini tinggal menunggu kompensasinya. Jadi untuk saat ini kami belum tahu akan seperti apa kompensasi bagi mereka," ucap Asep beberapa waktu lalu. (*)