Tinta Parker yang menjadi salah satu alat tulis favorit Bung Karno. Sekarang tersimpan di ruang memorabilia Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Blitar, Jawa Timur.
---
Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini
---
Intisari-Online.com - Sejarah Indonesiamencatat, presiden RI pertama, Ir. Sukarno, punya alat tulis kesayangan: pen dan tinta merek Parkir. Sekarang tersimpan di Blitar, Jawa Timur.
Bung Karno menjadi salah satu tokoh paling sentral dalam sejarah kemerdekaan bangsa Indonesia. Tak hanya sebagai proklamator, Bung Karno juga seorang orator ulung juga arsitek ideolagi negara, Pancasila.
Pada 1 Juni 1945, Bung Karno menyampaikan pidato tentang dasar negara yang kemudian dikenal sebagai Pancasila. Lalu pada 17 Agustus di tahun yang sama, bersama Mohammad Hatta, dia membacakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
Dan keesokan harinya, tepat pada 18 Agustus 1945, Bung Karo secara resmi menjadi Preside RI pertama dengan Bung Hatta sebagai wakil presidennya.
Dalam sejarah pergerakannya, Sukarno sangat identik dengan aktivitas tulis-menulis. Karena itulah, tak heran jika Putra Sang Fajar punya alat tulis favorit.
Bagaimanapun juga, bagi Bung Karno, penampilan dan detail adalah bagian dari diplomasi. Dia sangat khas dengan peci hitamnya, jas militer putih, tongkat komando dari kayu pucang kaka, juga kaca mata hitam yang ikonik.
Dan jangan lupakan juga, di balik setiap dokumen penting yang menentukan arah bangsa,ada satu detail kecil yang tak boleh luput dari perhatian: pulpen dan tinta hitam merek Parker.
Koleksi memorabilia pulpen dan tinta Parker Bung Karno saat ini tersimpan dan dipamerkan di Ruang Koleksi Memorabilia, UPT Perpustakaan Proklamator Bung Karno, Blitar, Jawa Timur. Lokasinya berada diarea yang sama dengan Makam Bung Karno.
Di dalam gedung perpustakaan tersebut, terdapat lantai atau ruangan khusus pameran (memorabilia) yang menyimpan barang-barang non-buku peninggalan pribadi Bung Karno. Mulai dari pakaian dinas, foto-foto dokumentasi sejarah, lukisan, hingga koleksi alat tulis kesayangannya sebagaimana disebut di atas.
Hitam hitam Parker Quink itu adalah saksi bisu perjalanan intelektualitas Bung Karno. Benda itu terpacak rapi bersanding dengan kemasannya dalam sebuah etalasi kaca.
Di bawah itu terdapat semacam deskripsi berhasa Inggris untuk mempertegas fakta sejarah yang terkait dengannya:
"Bung Karno adalah seorang yang sangat setia pada satu merek alat tulis ini untuk menemani aktivitas surat-menyurat pribadinya hingga urusan kenegaraan."
Bung Karno dikenal sebagai presiden yang sangat dinamis. Dia kerap berganti model pulpen seiring perkembangan zaman, namun hatinya tidak pernah beranjak dari satu jenama: Parker.
Merek legendaris asal AS ini memang terkenal dengan kualitas mekanis dan aliran tintanya yang presisi, sebuah standar yang tampaknya sangat dihargai oleh seorang arsitek sekaligus orator ulung seperti Sukarno.
Bagi Bung Karno, menulis bukan sekadar menaruh kata di atas kertas. Itu adalah caranya merumuskan gagasan besar, menyusun teks pidato yang membakar semangat ratusan ribu massa, hingga membalas surat-surat dari para pemimpin dunia.
Tinta Parker Quink yang mengalir dari mata pena fountain pen miliknya menjadi perantara antara pikiran jenius sang Proklamator dan realitas sejarah bangsa Indonesia. Kesukaan terhadap kualitas alat tulis ini ternyata bukan cuma sekadar selera pribadi yang lewat begitu saja.
Menurut beberapa sumber, kegemaran Bung Karno terkaitalat tulis ini begitu melekat di lingkungan keluarga. Konon katanya, putra Bung Karno, Guruh, juga mewarisi ketertarikan dan kesetiaan yang sama terhadap model-model pulpen Parker.
Mengapa harus Parker? Pada era 1950-an hingga 1960-an, memiliki dan menggunakan fountain pena kelas atas seperti Parker Seri 51 atau Parker 61 adalah simbol dari intelektualitas, profesionalisme, dan modernitas.
Bagi kepala negara dari bangsa yang baru merdeka, detail kecil seperti pulpen saat menandatangani perjanjian internasional di luar negeri adalah cara untuk menunjukkan bahwa Indonesia berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa besar lainnya.
Pada era 1940-an hingga 1960-an, Parker 51 dijuluki sebagai "World's Most Wanted Pen". Pulpen ini digunakan oleh tokoh-tokoh dunia untuk menandatangani dokumen sejarah penting -- seperti Jenderal Dwight D. Eisenhower saat menerima menyerahnya Jerman pada Perang Dunia II.
Sebagai pemimpin negara baru yang ingin sejajar dengan bangsa-bangsa besar di dunia, Bung Karno sangat memahami pentingnya simbolisme. Menggunakan pena berkualitas tinggi seperti Parker menunjukkan bahwa pemimpin tertinggi di Indonesia itu memiliki selera global dan tidak kalah berkelas dari para pemimpin negara Barat atau Blok Timur.
Bung Karno dikenal memiliki hubungan yang hangat dengan banyak kepala negara. Dalam beberapa kesempatan diplomasi atau kunjungan internasional, bertukar pulpen, pemantik api, atau barang personal lainnya adalah hal yang lumrah dilakukan sebagai tanda persahabatan.
Pena Parker yang elegan sering menjadi pilihan hadiah yang sangat dihormati saat itu.
Pulpen Parker peninggalan Bung Karno menjadi salah satu koleksi sejarah yang sangat berharga. Contohnya adalah pena Parker Bung Karno yang sekarang tersimpan di Perpustakaan Proklamator Bung Karno di Blitar, Jawa Timur.
Pena tersebut diletakkan berdampingan dengan benda ikonik lainnya seperti peci hitam, kacamata hitam, dan baju safari beliau, agar generasi muda dapat mengenang sosok besar sang Proklamator.
Setiap goresan tanda tangan "Sukarno" yang tegas dengan tarikan garis melengkung yang khas, kemungkinan besar lahir dari ujung pena Parker ini. Di atas meja kerjanya, botol tinta Quink selalu siap sedia mengisi ulang daya magis dari pena sang penyambung lidah rakyat.
Kini, masa-masa penuh pergolakan diplomasi itu telah usai. Botol tinta Parker yang dulu mungkin berpindah dari satu meja hotel mewah di Eropa ke istana-istana megah di Asia kini beristirahat dengan tenang di dalam kotak kaca museum.
Melihat botol tinta dan kotak Parker yang mulai memudar dimakan waktu itu membawa imajinasi kita kembali ke masa lalu. Kita seolah diajakmelihat sisi lain dari seorang raksasa sejarah; bahwa di balik pidatonya yang menggelegar seperti guntur, ada momen-momen sunyi di malam hari di mana Sukarno duduk sendiri, membuka tutup botol tintanya, mengisi penanya dengan hati-hati, dan mulai menuliskan takdir untuk sebuah bangsa bernama Indonesia.
Bagi Bung Karno, pena Parker adalah perwujudan dari pepatah "pena lebih tajam daripada pedang". Melalui goresan tinta dari pena itulah, dia membangun narasi kedaulatan Indonesia di mata dunia.