Mahasiswa UT Bisa Ikut Ujian dari Luar Negeri
Irfani Rahman June 21, 2026 07:52 PM

BANJARMASINPOST.CO.ID, BANJARMASIN - Menjaga kualitas akademik yang valid, reliabel, dan berkeadilan menjadi komitmen Universitas Terbuka (UT) Banjarmasin sebagai pelopor Pendidikan Tinggi Terbuka dan Jarak Jauh (PTTJJ) di Kalimantan Selatan.

 Sejak tahun 2002, UT telah mengembangkan sistem jaminan kualitas (SIMINTAS) yang digunakan untuk menjamin kualitas dari seluruh produk maupun kegiatan yang ada di UT.

Valid berarti segala bentuk proses pembelajaran, bahan ajar, hingga sistem asesmen (ujian) yang diberikan oleh UT Banjarmasin tepat sasaran dan mengukur apa yang seharusnya diukur.

Reliabel menunjukkan bahwa sistem pendidikan di UT memiliki konsistensi mutu yang tinggi, kapan pun dan di mana pun mahasiswa mengaksesnya. 

Dan, berkeadilan berarti UT Banjarmasin berkomitmen untuk menyediakan akses pendidikan tinggi yang setara bagi semua lapisan masyarakat, tanpa memandang latar belakang geografis, usia, maupun status ekonomi.

Nah, jurnalis Banjarmasin Post mengupasnya bersama Ir. Mochamad Priono, M.Si, Direktur UT Banjarmasin dan Prof. Dr. Paken Pandiangan, S.Si., M.Si., Wakil Rektor Universitas Terbuka Bidang Sistem Informasi, Layanan Jarak Jauh dan Alumni, yang hadir di UT Banjarmasin dalam program Live Btalk bertajuk "UT Banjarmasin: Menjaga Kualitas Akademik yang Valid, Reliabel dan Berkeadilan", pukul 15.30 Wita, Sabtu (20/6/2026).

Berikut wawancara Dody dengan Prof Dr Paken Pandiangan S.S1, MSi , Wakil Rektor Bidang Sistem Informasi Sistem Layanan Jarak Jauh dan Alumni Universitas Terbuka (UT) dan Ir Mochamad Priono M. Si, Direktur UT Banjarmasin

Host:

UT dikenal sebagai perguruan tinggi negeri yang sangat inklusif dengan mahasiswa yang tersebar di seluruh Indonesia bahkan hingga luar negeri. Dengan cakupan yang begitu luas, bagaimana UT menjaga kualitas akademiknya agar tetap terjamin?

Prof Paken:

Sebelumnya saya ingin menyampaikan selamat kepada sekitar 14 ribu mahasiswa UT Banjarmasin yang tersebar di 13 kabupaten/kota di Kalimantan Selatan dan saat ini sedang mengikuti ujian akhir semester.

Untuk menjaga kualitas akademik, UT memastikan setiap soal ujian yang digunakan telah melalui proses yang sangat ketat. Penyusunannya diawali dari kisi-kisi yang dibuat berdasarkan capaian pembelajaran setiap mata kuliah.

Dari kisi-kisi tersebut kemudian dikembangkan menjadi soal yang benar-benar mengukur kompetensi yang harus dikuasai mahasiswa.

Karena itu kami memastikan soal yang digunakan bersifat valid, artinya benar-benar mengukur capaian pembelajaran yang ditetapkan.

Selain valid, soal juga harus reliabel atau konsisten. Soal yang digunakan bukan pertama kali diujikan, tetapi telah melalui berbagai pengujian sehingga kualitas dan tingkat kesulitannya terjaga.

Distribusi soal juga disusun secara proporsional berdasarkan seluruh materi yang dipelajari mahasiswa selama satu semester. Dengan begitu, tidak ada materi yang diabaikan dan seluruh capaian pembelajaran dapat terukur secara adil.

Host:

Setelah soal disusun dengan standar yang ketat, bagaimana implementasinya dalam sistem pembelajaran UT yang memiliki mahasiswa dalam jumlah sangat besar?

Prof Paken:

Di UT, penilaian mahasiswa tidak hanya ditentukan oleh ujian akhir semester. Nilai akhir merupakan hasil dari keseluruhan proses pembelajaran.

Mahasiswa terlebih dahulu mengikuti tutorial, baik secara daring maupun tatap muka. Tutorial daring memberikan kontribusi sekitar 30 persen terhadap nilai akhir, sedangkan tutorial tatap muka bisa mencapai 50 persen.

Sementara itu, ujian akhir semester memberikan kontribusi sekitar 50 persen. Menariknya, sistem penilaian kami dirancang untuk menguntungkan mahasiswa.

Jika nilai ujian akhir lebih tinggi dibanding nilai tutorial, maka nilai ujian yang digunakan. Namun jika nilai tutorial lebih tinggi, maka nilai tutorial akan membantu meningkatkan hasil akhir mahasiswa.

Jadi nilai yang diperoleh mahasiswa UT merupakan hasil akumulasi dari proses belajar yang mereka jalani sejak awal semester hingga ujian akhir.

Host:

Masih ada sebagian masyarakat yang mempertanyakan kualitas lulusan UT. Apakah ijazah UT memiliki pengakuan yang sama dengan perguruan tinggi negeri lainnya?

Prof Paken:

Tentu saja. UT adalah perguruan tinggi negeri dan saat ini berstatus Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum atau PTN-BH, yang merupakan level tertinggi dalam tata kelola perguruan tinggi negeri.

Ijazah yang diperoleh mahasiswa UT diterbitkan secara resmi oleh negara setelah mereka menyelesaikan seluruh beban studi yang dipersyaratkan, baik mata kuliah maupun tugas akhir program.

Karena itu tidak perlu ada keraguan terhadap pengakuan ijazah UT. Bahkan dalam beberapa tahun terakhir, banyak lulusan UT yang berhasil lolos seleksi ASN.

Salah satu alasannya karena mahasiswa UT sejak awal sudah terbiasa belajar dan berujian dengan sistem berbasis teknologi sehingga lebih siap menghadapi berbagai bentuk seleksi digital.

Host:

Dengan mahasiswa yang tersebar di berbagai daerah, bagaimana UT memastikan prinsip keadilan tetap terpenuhi?

Prof Paken:

Prinsip keadilan di UT berarti seluruh mahasiswa memperoleh standar yang sama tanpa memandang lokasi mereka.

Mahasiswa Program Studi Manajemen di Banjarmasin, misalnya, menggunakan bahan ajar yang sama, mengikuti sistem pembelajaran yang sama, dan mengerjakan soal ujian yang sama dengan mahasiswa Manajemen di Aceh, Jakarta, Surabaya, maupun Papua.

Karena standar kompetensinya sama, maka kualitas lulusan yang dihasilkan juga harus sama. Inilah bentuk keadilan yang kami terapkan dalam sistem pendidikan UT.

Host:

Di era perkembangan teknologi yang sangat pesat, inovasi apa yang dilakukan UT dalam penyelenggaraan ujian?

Prof Paken:

Sebagai perguruan tinggi yang menerapkan sistem pendidikan terbuka dan jarak jauh, inovasi adalah kebutuhan utama bagi UT.

Salah satu inovasi yang kami kembangkan adalah sistem ujian online. Tujuannya memberikan fleksibilitas kepada mahasiswa yang karena berbagai alasan tidak dapat hadir mengikuti ujian tatap muka.

Melalui sistem ini, mahasiswa tetap dapat mengikuti ujian tanpa harus menunggu semester berikutnya. Selain itu, mereka juga bisa langsung mengetahui hasil ujian setelah selesai mengerjakannya.

Host:

Apa keunggulan lain dari sistem ujian online tersebut?

Prof Paken:

Selain fleksibilitas dan hasil yang dapat diketahui lebih cepat, UT juga mengembangkan berbagai model pengawasan ujian.

Ada sistem live proctoring, di mana mahasiswa tetap berada di lokasi ujian namun pengawasan dilakukan secara daring.

Ada juga remote proctoring yang memungkinkan mahasiswa mengikuti ujian dari rumah dengan pengawasan jarak jauh.

Yang terbaru adalah Automatic Online Proctoring atau AOP. Pada sistem ini, pengawasan dilakukan secara otomatis oleh teknologi tanpa kehadiran pengawas manusia.

Melalui kamera perangkat yang digunakan mahasiswa, sistem akan memantau aktivitas peserta selama ujian berlangsung. Dengan demikian potensi kecurangan dapat diminimalkan dan integritas akademik tetap terjaga.

Host:

Apakah inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya UT menuju perguruan tinggi kelas dunia?

Prof Paken:

Tentu. Saat ini jumlah mahasiswa UT sudah mendekati 800 ribu orang dan ke depan bisa mencapai satu juta mahasiswa.

Dengan jumlah sebesar itu, pengembangan teknologi seperti Automatic Online Proctoring menjadi sangat penting.

Selain meningkatkan efisiensi sumber daya dan biaya, sistem ini juga mempercepat layanan kepada mahasiswa serta memperkuat pengawasan akademik.

Saat ini sekitar 8.000 mahasiswa UT yang berada di luar negeri telah memanfaatkan sistem ujian online tersebut. Ini menjadi salah satu langkah UT dalam membangun sistem pendidikan tinggi yang modern, inklusif, dan berstandar global.

Host:

Sebagai pimpinan UT Banjarmasin, bagaimana persiapan yang dilakukan untuk menyelenggarakan ujian bagi belasan ribu mahasiswa yang tersebar di Kalimantan Selatan?

Priono:

Dari sisi pelaksanaan di daerah, tugas kami adalah memastikan seluruh kebijakan tersebut berjalan dengan baik di lapangan.

Persiapan pertama tentu terkait sumber daya manusia. Kami menyiapkan dan melatih seluruh petugas yang terlibat agar memahami standar operasional prosedur atau SOP yang berlaku.

Dalam penyelenggaraan ujian, semua tahapan sudah memiliki SOP yang jelas. Tinggal bagaimana seluruh petugas menjalankannya secara disiplin dan konsisten.

Selain itu, kami juga tidak bisa bekerja sendiri. Sebagai perguruan tinggi negeri yang melayani masyarakat luas, UT Banjarmasin membangun kolaborasi dengan berbagai pihak, mulai dari sekolah-sekolah yang digunakan sebagai lokasi ujian, perbankan, hingga berbagai institusi lain yang mendukung penyelenggaraan layanan akademik.

Kami juga melakukan pembekalan dan penyamaan persepsi kepada seluruh pihak yang terlibat. Mereka harus memahami apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan selama pelaksanaan ujian. Setelah kegiatan selesai, kami selalu melakukan evaluasi untuk memperbaiki penyelenggaraan berikutnya.

Host:

Tentu ada berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Apa saja yang menjadi perhatian utama?

Priono:

Kami harus mengantisipasi berbagai risiko, mulai dari hal-hal teknis seperti gangguan listrik hingga kualitas jaringan internet.

Untuk suplai listrik, alhamdulillah dalam beberapa tahun terakhir kondisinya semakin baik. Namun untuk ujian online, kualitas jaringan internet masih menjadi tantangan di beberapa daerah. Karena itu aspek bandwidth dan konektivitas harus diperhitungkan dengan matang.

Selain itu ada tantangan logistik. Mungkin terlihat sederhana, tetapi karena yang didistribusikan adalah naskah ujian, tingkat kerahasiaannya harus dijaga sangat ketat.

Tahun ini kami menyiapkan sekitar 35 ribu naskah ujian yang harus didistribusikan ke 298 ruang ujian di 48 lokasi yang tersebar pada 13 kabupaten dan kota di Kalimantan Selatan. Semua proses tersebut memerlukan pengawasan yang ketat dan petugas yang memiliki integritas tinggi.

Host:

Bagaimana sistem naskah ujian yang digunakan UT saat ini?

Priono:

Saat ini kami sudah menggunakan sistem naskah ujian yang dipersonalisasi.

Misalnya ada tiga mahasiswa yang mengambil mata kuliah yang sama dan duduk berdekatan dalam satu ruang ujian.

Meskipun mata kuliahnya sama, naskah yang mereka terima berbeda karena sudah dicetak atas nama masing-masing peserta.

Dengan sistem ini, keamanan dan integritas pelaksanaan ujian menjadi lebih terjaga. Setelah naskah dikirim dari pusat dengan prosedur keamanan tertentu, kami kemudian mendistribusikannya ke seluruh lokasi ujian yang telah ditetapkan.

Host:

Dari 13 kabupaten dan kota yang menjadi wilayah layanan UT Banjarmasin, daerah mana yang memiliki jumlah peserta ujian cukup besar?

Priono:

Mahasiswa ada di seluruh kabupaten dan kota. Namun setelah Banjarmasin, Banjarbaru, dan Martapura, salah satu daerah dengan jumlah mahasiswa cukup besar adalah Barabai.

Jumlah mahasiswa di wilayah tersebut mencapai sekitar tiga ribu orang. Selain itu, pertumbuhan mahasiswa juga cukup pesat terjadi di Batulicin dan Kotabaru.

Daerah-daerah ini menunjukkan perkembangan yang baik sehingga kebutuhan layanan akademik, termasuk pelaksanaan ujian, juga terus meningkat dari tahun ke tahun.

Host:

Kalau melihat tren mahasiswa saat ini, program studi apa yang paling diminati di UT Banjarmasin?

Priono:

Ini menarik karena menunjukkan preferensi generasi milenial dan Gen Z saat ini.

Dari sekitar 52 program studi yang dimiliki UT, program studi yang paling banyak diminati adalah Manajemen. Setelah itu disusul Akuntansi, Ilmu Hukum, dan Ilmu Komunikasi.

Selain itu, program studi seperti Administrasi Bisnis dan Administrasi Negara juga memiliki peminat yang cukup besar.

Untuk bidang sains dan teknologi, program studi Agribisnis menjadi salah satu yang cukup diminati. Di dalamnya ada peminatan yang berkaitan dengan pertanian, peternakan, dan perikanan.

Menariknya lagi, Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota atau PWK juga memiliki peminat yang cukup banyak di Kalimantan Selatan. Padahal bidang ini sangat dibutuhkan dalam pembangunan daerah.

Harapan kami, lulusan-lulusan tersebut nantinya dapat berkontribusi dalam perencanaan dan pengembangan wilayah, baik di instansi pemerintah maupun sektor swasta.

Host:

Jika seseorang terdaftar sebagai mahasiswa UT Banjarmasin, lalu karena pekerjaan atau alasan lain harus pindah ke provinsi lain, apakah tetap bisa mengikuti ujian?

Prof Paken:

Tentu bisa. Itulah salah satu fleksibilitas yang dimiliki Universitas Terbuka. Mahasiswa yang terdaftar di UT Banjarmasin tetap dapat mengikuti ujian di daerah lain, bahkan di luar negeri, selama mereka melapor terlebih dahulu kepada UT asalnya.

Prosesnya cukup sederhana. Mahasiswa mengajukan permohonan, kemudian UT akan mengatur lokasi ujian sesuai tempat mereka berada. Jadi kalau misalnya sedang bertugas di Jakarta, Surabaya, Medan, atau daerah lainnya, mereka tetap bisa mengikuti ujian tanpa harus kembali ke daerah asal.

Bahkan jika sedang berada di luar negeri, layanan yang sama juga tersedia. Prinsipnya, UT berupaya memastikan mahasiswa tetap bisa melanjutkan studi dan mengikuti ujian di mana pun mereka berada.

Pada ujian tatap muka kali ini, ada sekitar 168 mahasiswa dari berbagai daerah yang menumpang ujian di wilayah layanan UT Banjarmasin.

Mereka berasal dari berbagai kota seperti Bandung, Bogor, Medan, Surabaya, hingga daerah lain di Kalimantan. Ada juga mahasiswa yang kebetulan sedang mendampingi keluarga berobat di Banjarmasin tetapi tetap bisa mengikuti ujian sesuai jadwal.

Sebaliknya, mahasiswa UT Banjarmasin yang sedang berada di daerah lain juga bisa menumpang ujian di sana. Yang penting melapor dan mengikuti prosedur yang sudah ditetapkan.

Host:

Bagaimana UT meyakinkan masyarakat bahwa lulusannya mampu bersaing dengan lulusan perguruan tinggi reguler?

Prof Paken:

Sebenarnya yang berbicara bukan lagi sekadar klaim, tetapi rekam jejak dan hasil yang sudah terbukti. Banyak lulusan UT yang berhasil lolos seleksi ASN, melanjutkan pendidikan ke berbagai perguruan tinggi ternama di dalam maupun luar negeri, serta mampu bersaing di dunia kerja.

Menariknya, banyak alumni UT yang ketika melanjutkan studi ke jenjang magister maupun doktor justru mampu meraih prestasi akademik yang sangat baik. Salah satu alasannya karena sejak S1 mereka sudah terbiasa belajar secara mandiri, disiplin, dan bertanggung jawab terhadap proses belajarnya sendiri.

Model pembelajaran seperti itu menjadi bekal yang sangat berguna ketika mereka memasuki jenjang pendidikan yang lebih tinggi maupun dunia kerja.

Tantangan terbesar mahasiswa UT sebenarnya bukan ketika mereka bersaing setelah lulus, tetapi saat menjalani proses untuk lulus itu sendiri.

Karena standar akademik yang diterapkan sama di seluruh Indonesia, mahasiswa dituntut untuk memiliki kemandirian belajar yang tinggi. Mereka harus mampu mengatur waktu, memahami materi secara mandiri, dan menyelesaikan seluruh proses akademik sesuai standar yang ditetapkan.

Karena itu, ketika mereka berhasil menyelesaikan studi dan memperoleh gelar dari UT, mereka sudah memiliki kemampuan adaptasi, disiplin, serta kemandirian yang menjadi modal penting untuk bersaing dengan lulusan dari perguruan tinggi mana pun, baik di dalam negeri maupun di luar negeri. (msr)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.