Perusahaan Klaim Faktor Cuaca Picu Kandasnya Tongkang Batu Bara di Pangandaran, Fakta Lain Berbicara
Machmud Mubarok June 21, 2026 08:04 PM

 

Laporan Kontributor Tribunjabar.id Pangandaran, Padna

TRIBUNPRIANGAN.COM, PANGANDARAN - Pernyataan pihak perusahaan yang menyebut insiden kandasnya tongkang batu bara di Pantai Sukaresik, Kabupaten Pangandaran, murni akibat faktor cuaca memunculkan pertanyaan setelah kronologi kejadian mengungkap adanya rangkaian gangguan teknis sebelum kapal akhirnya diandaskan.

External Relation PT Trans Logistik Perkasa, Agus Hermawan, mengklaim insiden yang menyebabkan tongkang pengangkut batu bara mengalami masalah hingga kandas dipicu oleh kondisi cuaca.

"Itu pure kendala cuaca yang tidak bisa kita kendalikan," ujar Agus kepada sejumlah wartawan di Pangandaran, Minggu (21/6/2026) siang.

Ia menjelaskan, tongkang tersebut membawa muatan batu bara seberat 8.109 ton dengan tujuan akhir PLTU Cilacap setelah berlayar dari Sumatera Selatan.

Namun di sisi lain, fakta perjalanan kapal menunjukkan insiden tidak hanya berkaitan dengan cuaca.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, kapal tunda KM Titan 33 dengan callsign YDA3291 menarik tongkang Nautica 22 yang berangkat dari Pelabuhan Labuan Muara Tungkal, Palembang pada 29 Mei 2026.

Masalah serius mulai terjadi pada Senin, 15 Juni 2026 sekitar pukul 01.00 WIB saat kapal melintas di Perairan Ujung Genteng, Kabupaten Sukabumi.

Baca juga: Kronologi Lengkap Kapal Tongkang Batu Bara Miring di Perairan Pangandaran dan Kini Terbalik

Baca juga: Breaking News - Kapal Tongkang Batu Bara Terbalik di Pangandaran, Air Laut Berwarna Hitam

Saat itu dilaporkan terjadi putusnya tali penarik tongkang yang disertai kebocoran pada lambung kapal. Akibat insiden itu, sebagian muatan batu bara diperkirakan tumpah ke laut sekitar 700 ton.

Meski kondisi tongkang mulai mengalami kemiringan (listing) dan mengalami kerusakan, pelayaran tetap dilanjutkan menuju arah tujuan.

Situasi kemudian memburuk ketika memasuki kawasan Perairan Teluk Parigi. Kemiringan tongkang disebut semakin besar dan kapal juga mengalami kendala kekurangan bahan bakar, sehingga pelayaran normal tidak dapat dilanjutkan.

Dalam kondisi darurat, kapal berlindung dan melakukan labuh jangkar di Perairan Batukaras pada Selasa malam.

Keesokan harinya, Rabu 17 Juni 2026 pukul 08.00 WIB, kapal kembali dipantau bergeser. Berdasarkan koordinasi dengan pihak KSOP dan masukan nelayan setempat, kapal diminta keluar dari kawasan perairan Batukaras untuk mengurangi risiko apabila kondisi tongkang semakin tidak terkendali.

Sekitar pukul 13.30 WIB, diputuskan langkah darurat berupa pengandasan tongkang di kawasan Perairan Batuhiu–Tanjung Cemara–Karang Tirta, Kecamatan Sidamulih.

Tongkang akhirnya kandas di kawasan Pantai Sukaresik, sementara kapal penarik diarahkan menuju Pelabuhan Bojongsalawe.

Agus mengatakan, untuk penanganan dampak, pihak perusahaan saat ini melakukan evakuasi batu bara secara manual di lokasi tumpahan.

"Kami menunggu petunjuk langsung dari kementerian terkait atau dinas terkait. Upaya kami untuk melakukan evakuasi batu bara ini diambil secara manual agar bisa segera dibersihkan dari lokasi tumpahan di Pantai Sukaresik," katanya.

Menurutnya, perusahaan juga sedang melakukan mitigasi terhadap batu bara yang telah masuk ke perairan serta akan berkoordinasi dengan pihak asuransi dan pemerintah.

Penanganan insiden ini disebut melibatkan banyak pihak mulai dari pemerintah daerah, kepolisian, TNI AL, Syahbandar, hingga kementerian yang membidangi lingkungan dan kelautan. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.