Kesehatan Mata Penting untuk Menjaga Kualitas Hidup di Usia Lanjut
Eko Sutriyanto June 21, 2026 08:20 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA -  Seiring bertambahnya Angka Harapan Hidup (AHH) Indonesia berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 kesadaran masyarakat terhadap konsep longevity atau hidup sehat dan berkualitas dalam jangka panjang juga semakin meningkat.

Berbagai upaya dilakukan untuk menjaga kesehatan agar tetap aktif dan produktif, namun kesehatan mata dan kualitas penglihatan masih sering terabaikan padahal, mata berperan penting dalam menunjang gaya hidup aktif serta menjaga kualitas hidup.

Tantangan kesehatan mata saat ini pun beragam, mulai dari presbiopia (mata tua) akibat proses penuaan alami hingga meningkatnya risiko miopia (rabun jauh) dan astigmatisme (silinder) yang dipicu oleh penggunaan perangkat digital secara intensif.

dr Ucok P Pasaribu Sp.M (K), dokter konsultan spesialis mata Mayapada Eye Centre mengatakan gangguan mata biasanya mulai dirasakan ketika seseorang berusia 40 tahun.

“Di era longevity, banyak individu ingin tetap aktif hingga usia lanjut. Namun, seiring bertambahnya usia, kemampuan fokus mata akan menurun yang dikenal sebagai presbiopi, yaitu kondisi ketika mata mulai sulit melihat objek dekat. Kondisi ini mulai muncul usia 40 tahun, dan kini semakin terasa akibat tingginya penggunaanperangkat digital dalam aktivitas sehari-hari," kata Ucok saat Media Gathering di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Baca juga: Dukung Kesehatan Mata di Indonesia, Perusahaan Jamu Ini Terima Penghargaan dari Perdami

dr Ucok mengungkapkan pengalamannya ketika menginjak usia 40 tahun, matanya mulai plus 1,5. Tujuh tahun setelahnya, Ucok mengatakan kemampuan membaca dalam 15 menit mulai tidak enak.

"Memang beda tiap orang. Tapi yang pasti pada saat aging itu bertambah, plus itu juga bertambah. Usia 40 tahun saya plus 1,5. Usia 47 tahun, 15 menit aja baca nggak enak. Saya kira ukuran kaca mata saya, ternyata yang berubah cuma satu, umur saya," kata Ucok saat Media Gathering di Jakarta, Sabtu (20/6/2026).

Ucok mengatakan saat itu, dia kadang merasa semau baik-baik saja. Namun, faktor penambahan umur memang berpengaruh terhadap kesehatan mata.

Pengaruh Perangkat Elektronik

dr Zoraya Ariefia  Feranthy, Sp.M mengatakan miopia dan astigmatisme semakin banyak ditemukan pada kelompok usia produktif  seiring tingginya penggunaan perangkat digital sejak usia dini.  

"Memang sekarang dengan era digital, anak-anak usia balita sudah terpapar digital. Itu kekhawatiran kita untuk membatasi. Bisa berikan berapa menit atau jam dalam satu hari," kata Zoraya.

Zoraya mengatakan kualitas penglihatan merupakan fondasi penting dalam menjaga kualitas hidup. Banyak orang menghabiskan sebagian besar waktunya di depan layar  gawai atau membaca buku dalam waktu yang panjang sehingga, mata terus bekerja dalam jarak dekat dan lebih rentan mengalami kelelahan serta gangguan refraksi.

Kondisi ini membutuhkan kacamata atau lensa kontak untuk  dapat melihat dengan jelas. Namun, sering kali kacamata memengaruhi kenyamanan, produktivitas, hingga kualitas hidup sehari-hari.

"Karena itu, menjaga kesehatan mata menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya  mempertahankan produktivitas dan kualitas hidup di era longevity," kata dia.

Zoraya mengatakan untuk membantu mengatasi kondisi tersebut mata juga harus dirawat. Hal ini bisa dilakukan dengan cara teknologi koreksi penglihatan menggunakan laser femtosecond generasi terbaru.

Metode yang dikenal dengan SMILE Pro ini dilengkapi dengan teknologi Oculign System untuk memastikan akurasi dan stabilitas tindakan.

Zoraya mengatakan tindakan ini pengembangan dari lasik. Lasik menggunakan laser untuk membuat lapisan tipis (flap) pada kornea sebelum pembentukan laser utama dan ditutup lagi.

"Prosedur ini bersifat minimal invasif (minim sayatan) dengan waktu singkat danefektif, sehingga pasien bebas dari ketergantungan pada kacamata maupun lensa kontak, termasuk pada kasus rabun dekat atau hipermetropia," kata dia.

2 Faktor Kesehatan Mata

Zoraya mengataan ada dua yang mempengaruhi kesehatan mata. Pertama adalah genetik dan eksternal. Dulu, faktor kesehatan mata sangat dipengaruhi oleh genetik.

Namun, kekinian, faktor eksternal berperan lebih besar dalam fungsi kesehatan mata.

"Dulu faktor genetik pegang peranan penting untuk mata minus. Sekarang bergeser faktor eksternal yang berperan lebih penting," kata dia.

Zoraya mengatakan faktor eksternal itu kadang dipengaruhi oleh screen time. Jadi tidak heran jika ada anak yang memakai kaca mata tebal, sementara kedua orangtuanya tidak mengenakan kata mata.

"Eranya sudah bergeser. Mereka hidup di dunia digital. Tugas kita selalu edukasi bahwa screentime itu perlu diatur," kata Zoraya.

 

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.