NATUNA, TRIBUNBATAM.id - Peristiwa nahas yang menimpa seorang lansia di Desa Binjai, Kecamatan Bunguran Barat, Kabupaten Natuna, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), sempat menggemparkan warga setempat.
Yakuf (61), seorang nelayan pencari kepiting bakau, ditemukan meninggal dunia setelah diduga tersambar petir saat berada di kawasan Sungai Penarik, Sabtu (20/6/2026) siang.
Sungai Penarik sendiri merupakan salah satu lokasi favorit warga Desa Binjai untuk mencari kepiting bakau.
Kawasan yang berjarak sekitar satu jam perjalanan menggunakan pompong dari Desa Binjai itu, selama ini menjadi tempat masyarakat menggantungkan mata pencaharian.
Namun siapa sangka, lokasi yang biasa menjadi sumber rezeki itu justru menjadi tempat terakhir bagi Yakuf.
Kepala Desa Binjai, Abdul Rosyid mengatakan, korban berangkat mencari kepiting bersama anaknya dan telah berada di Sungai Penarik selama kurang lebih tiga hari.
"Beliau warga Desa Binjai, RT 01 RW 01. Dia pergi berdua dengan anaknya. Mereka cari kepiting bakau pakai pompong dengan memasang bubu atau perangkap. Dari Binjai ke Sungai Penarik itu sekitar satu jam-an pakai pompong," ujarnya kepada Tribunbatam.id, Minggu (21/6/2026) sore.
Menurutnya, para pencari kepiting di kawasan tersebut memang biasa bermalam selama beberapa hari.
Karena itu mereka membangun pondok sederhana untuk beristirahat.
"Memang kalau cari kepiting di sana biasanya bermalam. Jadi ada pondok untuk tempat istirahat. Posisi ayahnya di sampan, sementara anaknya berada di pondok. Sampannya saat itu berada di samping pondok," katanya.
Rosyid menjelaskan dari kesaksian sang anak.
Saat kejadian itu cuaca sedang gerimis mendekati pukul 11.00 WIB.
Namun tiba-tiba angin bertiup kencang disertai suara guntur yang sangat keras.
"Kata anaknya waktu itu cuaca lagi gerimis. Tiba-tiba ada angin kencang. Anaknya dengar suara guntur yang keras sekali dan melihat cahaya kilat yang terang," ujarnya.
Beberapa saat setelah suara guntur dan kilatan cahaya itu muncul, anak korban langsung menoleh ke arah sampan tempat ayahnya berada.
Namun ia terkejut karena sang ayah sudah tidak terlihat lagi.
"Pas dia noleh ke sampan, ternyata ayahnya sudah tidak ada. Korban jatuh dari sampan. Anaknya juga tidak melihat langsung kalau ayahnya tersambar petir. Dia hanya dengar guntur dan lihat kilatan cahaya," ungkap Rosyid.
Panik melihat ayahnya hilang, sang anak langsung terjun ke sungai untuk melakukan pencarian.
Namun upaya pencarian awal tidak membuahkan hasil.
"Karena tidak ketemu, anaknya langsung menghubungi kami dan masyarakat Binjai. Setelah sempat istirahat sebentar, dia kembali melakukan pencarian," katanya.
Tak lama kemudian, korban akhirnya ditemukan di dalam air dalam kondisi sudah tidak bernyawa.
Korban kemudian diangkat ke atas sampan, sebelum dipindahkan ke pompong untuk dibawa pulang ke Desa Binjai.
"Saat dibawa pulang menuju Binjai, di tengah perjalanan anaknya bertemu rombongan masyarakat yang juga ingin membantu evakuasi. Saya sempat menghubungi tim SAR. Tetapi saat tim SAR masih dalam perjalanan, korban sudah ditemukan," ujarnya.
Lebih lanjut, Rosyid mengatakan, tidak ditemukan tanda-tanda luka bakar maupun bekas sambaran petir yang terlihat jelas pada tubuh korban.
"Tak ada tanda-tanda gosong atau bekas tersambar petir. Kondisinya seperti biasa," ujarnya.
Meski demikian, ada kondisi yang dinilai janggal saat korban ditemukan oleh anaknya.
Saat dievakuasi dari dalam air, kondisi tubuh ayahnya sudah kaku dengan posisi seperti jongkok.
"Di tubuhnya cuma ada luka goresan kecil di bagian bahu. Untuk memastikan kondisi korban, sempat kami bawa ke Puskesmas terdekat," kata Rosyid.
Menurutnya, dugaan korban tersambar petir muncul dari kesaksian anak korban yang mendengar suara guntur dan melihat kilatan cahaya tepat sebelum ayahnya hilang dari sampan.
"Karena kalau hanya terjatuh ke air, kemungkinan besar beliau bisa berenang atau naik kembali ke sampan. Tapi saat ditemukan, kondisi korban sudah kaku," ujarnya.
Bahkan, posisi tubuh korban saat ditemukan dinilai cukup tidak biasa.
"Posisinya seperti masih duduk jongkok, sama seperti posisi saat berada di atas sampan. Itu yang membuat anaknya dan kami menduga korban tersambar petir," katanya.
Sosok Yakuf
Di mata warga yang mengenalnya, Yakuf dikenal sebagai sosok pekerja keras dan mudah bergaul.
"Keseharian beliau baik. Bersosialisasi dengan masyarakat juga baik. Memang sehari-harinya beliau nelayan pencari kepiting bakau," ujar Rosyid.
Ia mengatakan sebagian besar warga Binjai yang mencari kepiting bakau memang terbiasa tinggal berhari-hari di kawasan Sungai Penarik.
Atas kejadian tersebut, Rosyid mengimbau masyarakat yang beraktivitas di sungai maupun laut untuk selalu mengutamakan keselamatan, terutama saat cuaca mulai memburuk.
"Warga di sini cukup banyak yang bekerja mencari kepiting. Karena itu kami mengimbau agar selalu waspada dan berhati-hati. Kalau cuaca mulai tidak bersahabat, sebaiknya segera berteduh dan utamakan keselamatan," pungkasnya.
(Tribunbatam.id/birrifikrudin)