TRIBUNJATENG.COM, WONOGIRI - Produk Minyakita berbau minyak tanah atau solar di Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri telah ditarik dan diganti yang baru.
Investigasi internal perusahaan penyedia Minyakita tersebut pun masih dilakukan hingga saat ini.
Belum diketahui secara pasti apa penyebabnya, karena diklaim, kejadian itu baru kali pertama dialami.
Baca juga: Kepala DPUPR Jateng: Anggaran Jalan Perbatasan di Wonogiri Ditambah Rp32,6 Miliar
Produsen minyak goreng Minyakita, PT Kusuma Mukti Remaja (KMR) Karanganyar masih melakukan investigasi untuk mengetahui penyebab Minyakita beraroma menyerupai minyak tanah.
Produk tersebut ditemukan dalam paket Program Bantuan Pangan (PBP) di Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri.
Direktur PT KMR, Joko Mukti Wijaya mengatakan, seluruh produk yang dikeluhkan warga telah ditarik dan diganti dengan produk baru.
“Semua kami tarik kembali agar tidak ada keresahan atau pertanyaan dari masyarakat."
"Dalam kurun waktu 1 x 24 jam, kami langsung kirim yang baru dan menarik yang lama,” kata Joko seperti dilansir dari Kompas.com, Minggu (21/6/2026).
Joko menjelaskan, pihaknya belum mengetahui penyebab pasti munculnya aroma tidak lazim pada minyak goreng tersebut.
Saat ini perusahaan melakukan investigasi internal dan pengujian sampel di laboratorium.
“Untuk investigasi kami data dan perbaikan ke depannya. Kami juga sedang tes lab, hasilnya belum keluar."
"Pemicunya apa belum diketahui, karena tidak mungkin minyak tanah barang mahal dimasukkan ke situ,” ujarnya.
PT KMR juga belum dapat memastikan jumlah pasti produk yang ditarik maupun volume distribusi awal karena masih dalam proses rekapitulasi data.
Menurut Joko, kasus tersebut sejauh ini hanya ditemukan di satu klaster distribusi di Kismantoro Wonogiri dan tidak ditemukan di daerah lain.
• Honda Civic Remuk, Tertabrak Pikap Setelah Terpental Tabrak Pohon, Bos Travel Tewas
Menanggapi kekhawatiran masyarakat terkait dampak kesehatan, Joko memastikan hingga kini belum ada laporan medis dari warga yang mengonsumsi minyak goreng tersebut.
Meski demikian, perusahaan menyatakan siap bertanggung jawab apabila ditemukan dampak yang merugikan masyarakat.
“Keluhan lain sementara ini enggak ada. Sama sekali tidak ada."
"Tapi semisal ada, kami pasti tindaklanjuti dengan Kepala Desa. Kami full tanggung jawab kalau sampai terjadi yang enggak diinginkan,” katanya.
Dia menegaskan, perusahaan akan melakukan evaluasi menyeluruh setelah penyebab pasti masalah tersebut diketahui.
“Begitu kami tahu penyebabnya, baru kami melakukan evaluasi dan perbaikan,” ujarnya.
Menurut Joko, kasus serupa baru pertama kali terjadi selama perusahaan memproduksi Minyakita.
“Selama ini kami sudah produksi berpuluh ribu ton dan baik-baik saja. Baru yang terakhir ini ada kendala, sehingga harus dievaluasi karena dampaknya juga tidak kecil,” katanya.
Kasi Humas Polres Wonogiri, AKP Anom Prabowo mengatakan, pihak kepolisian juga belum mengetahui penyebab munculnya aroma minyak tanah pada produk tersebut.
“Belum diketahui penyebabnya. Begitu ada keluhan dari masyarakat langsung ditindaklanjuti Bulog, pemerintah, dan supplier."
"Telah disepakati ditarik kembali serta diganti semua,” ujar AKP Anom.
• 4 Penumpang Tewas Kecelakaan, Travel Tabrak Truk di Tol Lima Puluh
Sebelumnya, warga Kelurahan Gesing, Kecamatan Kismantoro, Kabupaten Wonogiri mengeluhkan kualitas Minyakita yang diterima dalam paket Program Bantuan Pangan.
Warga menyebut minyak goreng tersebut mengeluarkan aroma menyerupai minyak tanah atau solar saat digunakan untuk memasak.
Lurah Gesing, Jamari membenarkan adanya laporan dari warga penerima bantuan.
“Sekira enam orang yang menyampaikan keluhan melalui WhatsApp, sekira tiga hari yang lalu,” kata Jamari.
Menurut dia, bantuan Minyakita tersebut telah didistribusikan kepada 1.203 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) pada 8 Juni 2026.
“Setelah dibuka dan dipakai memasak, hasil masakannya rasanya agak aneh. Seperti ada rasa minyak tanah atau solar,” ujarnya.
Selain aroma yang tidak biasa, warga juga mengeluhkan warna minyak yang terlihat lebih pekat dibandingkan Minyakita yang beredar di pasaran.
Jamari mengatakan, seluruh produk yang dikeluhkan telah ditarik dan diganti oleh pihak penyedia.
“1.203 KPM yang ada di kelurahan ini diganti semua,” katanya. (*)
Sumber Kompas.com