Jakarta (ANTARA) - Musisi Endah Widiastuti, personel dari duo musisi Endah N Rhesa menyuarakan pentingnya penguatan pemahaman terkait proteksi hak cipta lagu dilakukan pemerintah terhadap para kreator musik di Indonesia.

Endah berharap Pemerintah Provinsi DKI Jakarta dapat mengambil langkah konkret dalam memberikan rasa aman bagi para pencipta karya.

"Mudah-mudahan juga banyak proteksi-proteksi yang bisa dilakukan oleh pemerintah maupun orang-orang yang merasa, menyadari bahwa pentingnya adanya ya, itu," kata Endah saat ditemui di Stasiun MRT Jakarta Bundaran HI, Minggu.

Endah menilai pemahaman mengenai kekayaan intelektual harus merata di seluruh lini masyarakat.

Hal itu menjadi kunci utama dalam meminimalisasi praktik yang merugikan musisi, seperti jual beli putus karya dengan tawar-menawar minimum.

"Semoga semua masyarakat semua lini memahami mengenai kekayaan intelektual ya, bahwa kekayaan intelektual ada sesuatu yang harus dihargai," ujar Endah.

Terkait teknis perlindungan, Endah menyarankan setiap musisi untuk mengedepankan aspek legalitas dalam setiap kolaborasi.

Ia menekankan perlunya surat perjanjian kerja sama yang memuat pembagian hak ekonomi dan hak moral secara transparan.

"Perjanjian itu yang penting kan ada pembagian kekayaan, apa, hak ekonomi, hak moralnya juga jangan sampai hilang dan juga ada jangka waktunya," jelas Endah.

Menurut Endah, Endah N Rhesa saat menggawangi Komunitas "Earhouse Song Writing Club" di Pamulang, Tangerang Selatan juga menjalankan prinsip transparansi royalti bagi peserta komunitas tersebut yang memiliki hak penuh atas karya ciptaan mereka dalam album mini yang diproduksi secara kolektif pada 2022.

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta diharapkan mendukung hal yang sama dalam pengembangan ekosistem musik melalui berbagai lokakarya profesional yang terselenggara di ibu kota.

Harapan juga datang dari musisi Adam Maulana dan Don Tatmojo yang tergabung dalam duo Earhop Collective dari komunitas Earhouse Song Writing Club.

Musisi Earhop Collective, dianggotai Adam Maulana dan Don Tatmojo dari Earhouse Song Writing Club, saat ditemui di acara musik pada Stasiun MRT Jakarta Bundaran HI, Minggu (21/6/2026). ANTARA/Abdu Faisal

Mereka meyakini bahwa visi menjadikan Jakarta sebagai Kota Global dapat membawa nilai tambah bagi kesenian Indonesia di tingkat dunia.

Terbukti, salah satu peminat datang dari Institut Français d'Indonésie (IFI) yang membuat lokakarya musik juga, bekerja sama dengan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Musik, di satu kawasan di Jakarta, yaitu kawasan Melawai, Blok M dan mengundang penggiat musik profesional asal Prancis pada 23 Juni mendatang.

Dipandu oleh para ahli Prancis, Gwendolen Sharp, pendiri The Green Room, dan Leila Bellot, pendiri Fédérap, sesi-sesi lokakarya itu berfokus pada transisi lingkungan dalam industri musik dan pengembangan karir di dalam ekosistem musik Prancis, yang mendorong pertukaran dan peluang baru untuk kolaborasi antara Prancis dan Indonesia saat peringatan Hari Musik Dunia.

"Prancis adalah markas seni cukup besar," kata Don Tatmojo.

Adanya lokakarya tersebut diharapkan menjembatani asimilasi karya secara dua arah antara musisi nasional dan internasional.

"Kalau bisa asimilasi semuanya dua arah," ujar Adam Maulana.

Hal itu diharapkan mampu memperluas pangsa pasar musik Indonesia yang saat ini dinilai memiliki potensi besar.

Seluruh musisi berharap lingkungan industri musik di Indonesia dapat semakin profesional. Kesadaran akan nilai hak cipta dan keterbukaan terhadap kolaborasi internasional diharapkan mampu menumbuhkan iklim kerja sama yang sehat bagi para pelaku ekonomi kreatif.