TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, PONTIANAK – Rumah yang telah puluhan tahun dihuni oleh Dr Achmad Machali Sayidiman kini tak lagi menyisakan kehangatan.
Bangunan yang menjadi saksi perjalanan hidup dan kenangan bersama mendiang istrinya itu berubah menjadi puing-puing dan abu setelah dilalap si jago merah.
Atap rumah runtuh, menyisakan rangka kayu dan besi yang menghitam.
Dinding-dinding dipenuhi jelaga dengan cat yang mengelupas akibat panas api.
Sinar matahari kini leluasa menembus bagian atap yang terbuka, menerangi lantai yang dipenuhi sisa kayu terbakar, perabot rusak, dan barang-barang rumah tangga yang tak lagi utuh.
• Rumah Ludes Terbakar, Dokter Senior Pontianak Alami Luka Bakar Hingga Pingsan Hirup Asap
Di beberapa sudut rumah, lemari dan rak masih berdiri, namun isi di dalamnya berantakan dan rusak.
Meja serta berbagai perabot lainnya pun tak luput dari amukan api.
Namun, di balik puing-puing tersebut tersimpan kisah yang lebih dalam dari sekadar peristiwa kebakaran.
Rumah itu merupakan tempat penuh kenangan bagi Machali bersama almarhum istrinya.
Ida, keponakan korban, mengungkapkan bahwa sang paman selama ini menolak ajakan anak-anaknya untuk pindah dan tinggal bersama mereka di Jakarta.
“Sudah sering dibujuk anak-anaknya untuk ikut tinggal di Jakarta, tapi om selalu bilang di rumah ini banyak kenangan bersama almarhum istrinya,” ujar Ida kepada Tribun Pontianak, Minggu 21 Juni 2026.
Kecintaan terhadap rumah tersebut bahkan membuat Machali nyaris mempertaruhkan keselamatannya saat kebakaran terjadi.
Di usianya yang telah menginjak lebih dari 80 tahun, ia memilih bertahan di dalam rumah dan berusaha memadamkan api seorang diri.
“Waktu kejadian, om tidak mau keluar sampai akhirnya ditarik oleh pembantunya. Beliau ingin memadamkan api sendiri,” kata Ida.
Karena keterbatasan fisik, upaya tersebut tidak berhasil. Warga sekitar kemudian membantu mengevakuasi Machali dari rumah yang terbakar.
Setelah berhasil diselamatkan, ia dibawa ke rumah warga terdekat untuk mendapatkan penanganan awal dari tim medis yang telah berada di lokasi. Meski dokter dan keluarga menyarankan agar dirawat di rumah sakit, Machali menolak.
“Sudah dibujuk dokter dan keluarga supaya dibawa ke rumah sakit untuk diinfus, takut kekurangan cairan dan supaya tidak stres, tapi om tidak mau,” jelas Ida.
Akibat insiden tersebut, Machali mengalami luka pada kedua tangannya serta rambut di bagian kepala yang sempat tersambar api. Meski demikian, kondisinya dilaporkan masih sadar.
“Alhamdulillah om masih sadar. Semoga cepat membaik dan tidak sampai stres,” lanjut Ida.
Kini, di usia senjanya, Machali harus menghadapi kenyataan pahit bahwa rumah yang selama ini menjadi tempatnya bertahan dan menyimpan kenangan berharga telah musnah. Selama ini ia tinggal ditemani seorang asisten rumah tangga, sementara keempat anaknya menetap di Jakarta.
“Om memang tidak mau ikut anak-anaknya, maunya tetap tinggal di sini,” ujarnya.
Untuk sementara, keluarga masih menunggu keputusan dari anak-anak Machali terkait tempat tinggal yang akan ditempatinya, mengingat kondisi rumah sudah tidak memungkinkan untuk dihuni kembali.
Di antara puing dan abu yang tersisa, tersimpan kisah tentang cinta, kenangan, dan keteguhan hati seorang lelaki tua yang enggan meninggalkan rumah yang menjadi bagian penting dari perjalanan hidupnya.(*)