‘Aku akan berakhir di sana’ - Lamine Yamal buat prediksi bertema Lionel Messi saat bintang Spanyol & Barcelona jadi sorotan besar
Hendra Wijaya June 22, 2026 01:09 AM

Sensasi muda Barcelona, Lamine Yamal, memprediksi bahwa dirinya pada akhirnya akan beralih ke posisi tengah, mengikuti jejak taktis legenda klub, Lionel Messi. Pemain berusia 18 tahun ini saat ini tampil gemilang di sayap untuk klub dan negaranya, namun ia yakin bahwa pergeseran ke posisi tengah adalah hal yang tak terhindarkan demi menghindari pengawalan tiga pemain lawan yang terus-menerus ia hadapi.

Mencerminkan evolusi Messi

Yamal menjadi bahan pembicaraan di dunia sepak bola berkat lonjakan kariernya yang luar biasa, dengan banyak pihak yang membandingkannya dengan perjalanan sang legenda Argentina yang pernah mengenakan seragam Blaugrana. Seperti halnya Messi yang berevolusi dari winger menakutkan menjadi playmaker sentral, Yamal juga percaya bahwa masa depannya akan berada jauh dari garis tepi lapangan.

Dalam wawancara dengan El Mundo, pemain remaja tersebut menjelaskan alasan di balik pandangan taktisnya. “Saya pikir Leo juga dikawal oleh tiga pemain,” ujarnya. “Dan satu-satunya tempat di mana tiga pemain tidak bisa mengawalmu adalah di tengah. Ada terlalu banyak pemain di sana. Seiring waktu berjalan, saya akan berakhir di sana, karena sangat mudah bertahan dengan tiga pemain di sayap, tapi mereka tidak bisa mengawal saya di tengah.”

Menjadi ancaman yang lebih menentukan

Bintang Euro 2024 ini saat ini bermain di sisi kanan, menggunakan kecepatan dan kelincahannya untuk mengacaukan pertahanan lawan. Namun, ia mengakui bahwa potensinya sebagai penentu pertandingan lebih besar ketika bermain di ruang antara garis pertahanan yang rapat. Ia bahkan sudah memperlihatkan fleksibilitas itu, dengan sesekali dimainkan di posisi yang lebih sentral.

“Saya bisa melewati bek satu lawan satu di tengah. Saya menjadi pemain yang lebih menentukan jika saya berputar di tengah dibandingkan jika saya berputar di sayap,” ungkap Yamal. “Tentu saja, saat ini saya pikir lebih baik untuk tim jika saya bermain di sayap. Namun akan tiba waktunya ketika saya lebih berpengaruh di tengah. Dan saya akan berakhir di sana.”

Tantangan menghadapi pengawalan tiga pemain

Para lawan dengan cepat menyadari bahwa membiarkan pemain muda ini dalam situasi satu lawan satu adalah kesalahan fatal. Yamal mengungkapkan bahwa ia kini sudah terbiasa dikerumuni beberapa pemain bertahan sekaligus, meskipun ia tetap tenang dan berusaha melewati perangkap taktis itu dengan melibatkan rekan-rekan setimnya secara lebih efektif.

“Setidaknya tiga [pemain pengawal]. Kalau beruntung, dua. Tapi satu lawan satu, tidak pernah, sama sekali tidak,” katanya ketika ditanya tentang perhatian yang diterimanya. “Jadi saya mulai berpikir tentang skenario permainan: saya berbicara dengan bek sayap dan berkata, ‘Jika saya berikan bola padamu, lakukan ini.’ Pelatih berkata, ‘Jika kamu dikawal tiga, berarti ada tiga rekanmu yang bebas.’ Jadi ini soal memainkan bola ke belakang, tentu saja, tapi kemampuan menggiring bola itu soal improvisasi. Kamu tidak bisa merencanakannya. Itu mustahil.”

Dipandang sebagai pewaris takhta

Menjelang pertandingan Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Arab Saudi, antusiasme terhadap pemain muda ini mencapai puncaknya. Para pelatih lawan mulai memperhatikannya dengan serius, termasuk pelatih Arab Saudi, Georgios Donis, yang menyebut bahwa pemain berusia 18 tahun itu mulai menggantikan peran Messi di Barcelona dengan cara terbaik berkat kematangannya di atas lapangan.

Meski banyak perbandingan, Yamal tetap berpijak pada realita soal karier panjangnya. Ketika ditanya apakah ia bisa membayangkan bermain hingga usia 40 tahun seperti Messi, jawabannya tegas dan cepat: “Tidak mungkin. Tidak mungkin. Tidak mungkin.” Untuk saat ini, para penggemar hanya bisa menikmati bakat luar biasa dari pemain yang tampaknya ditakdirkan untuk menjadi sosok utama dalam era baru sepak bola Barcelona.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.