Nikmatnya Kopi Barendo yang Sudah Eksis sejak Zaman Londo
Febri Prasetyo June 22, 2026 02:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Endra Kurniawan

TRIBUNNEWS.COM - Suara nyaring mesin roasting memecah kesunyian siang di sebuah ruangan sederhana berukuran 2 x 3 meter di Kedai Kopi Barendo, Dukuh Jumbleng, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026) siang.

Di dalam mesin itu, biji kopi robusta varietas Tugusari dipanggang pada suhu 180 derajat Celsius. Perlahan, aroma khas kopi menyeruak memenuhi ruangan, menandai proses lahirnya secangkir kopi berkualitas.

Bagi masyarakat Banyuanyar, kopi bukan sekadar komoditas. Tanaman ini telah menjadi bagian dari sejarah desa sejak zaman ‘Londo’—sebutan masyarakat Jawa untuk masa kolonial Belanda. Hingga kini, jejak kejayaan kopi itu masih bertahan dan terus diwariskan dari generasi ke generasi.

"Barendo merupakan singkatan dari Lebare Londo. Nama itu dipilih karena kopi di daerah kami sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Bahkan, kakek buyut saya pernah bekerja di perkebunan kopi milik orang Belanda," kata Widodo, pengelola Kedai Kopi Barendo kepada Tribunnews.com.

lihat foto
KOPI BARENDO - Penampakan mesin  roasting kopi yang berada di Kedai Kopi Barendo, Dukuh Jumbleng, Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Rabu (1/4/2026) siang. (Tribunnews.com/Endra)

Dihubungi terpisah, pemerhati sejarah dan budayawan Boyolali, Mas Koes menjelaskan, Johannes Augustinus Dezentje yang lebih dikenal sebagai Tinus Dezentje, menjadi sosok penting di balik keberadaan kopi di Kecamatan Ampel dan sekitarnya.

Pengusaha kopi asal Belanda tersebut mulai menanam kopi sejak 1815. Ia kemudian membuka perkebunan kopi seluas 1.275 hektare.

“Ampel menjadi pusat perkebunan kopi saat itu. Bahkan, beliau Tinus Dezentje hidup hingga meninggal di Ampel ini," jelasnya.

Untuk jenis kopi, menurut Mas Koes, robusta menjadi varietas yang paling cocok dibudidayakan di wilayah tersebut. Selain mampu beradaptasi dengan kondisi geografis setempat, robusta juga lebih tahan terhadap serangan hama dibandingkan arabika.

Jejak kejayaan perkebunan kopi peninggalan Tinus Dezentje pun masih dapat ditemukan hingga kini. Di Desa Banyuanyar, misalnya, masih tumbuh pohon-pohon kopi berusia ratusan tahun yang menjadi saksi sejarah panjang budaya kopi di kawasan tersebut.

Lahirnya Kopi Barendo

lihat foto
KOPI BARENDO - Penampakan tanaman kopi yang tubuh subur di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Kembali ke Widodo, ia mengenang, embrio Kopi Barendo yang kini menjadi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) unggulan Desa Banyuanyar sudah dimulai sejak 1998. Awalnya sebanyak 22 orang petani kopi membentuk Kelompok Tani Sumber Agung Satu.

Selama puluhan tahun, mereka merawat tanaman kopi hingga masa panen. Namun sayangnya, hasilnya hanya dijual mentah ke pasar. 

Singkat cerita, pada 2022, muncullah ide membuat biji kopi bisa bernilai tambah sekaligus mengangkat nama Desa Banyuanyar.

“Dari organisasi dibuat unit pengolahan Kopi Barendo. Jadi, kopi itu kita tanam sendiri, kita petik sendiri, sampai kita olah menjadi bubuk siap minum. Tujuan utamanya ingin berbicara ke pihak luar bahwa desa kita punya kopi,” tegas Widodo.

Di awal mengolah kopi menjadi produk jadi, Kelompok Tani Sumber Agung Satu dihadapkan dengan tantangan besar. Tidak ada satu pun anggota merupakan seorang barista, apalagi memiliki kemampuan roasting kopi.

Beruntung, teman dekat Widodo bersedia membagikan ilmu tentang cara memanggang biji kopi mentah hingga siap digiling menjadi bubuk kopi.

"Setiap beliau datang ke rumah, saya minta tolong untuk belajar. Belajar dari teman jadi enggak bayar," katanya sambil tertawa.

lihat foto
DESA BRILIAN - Pengunjung Desa Wisata Banyuanyar saat menikmati secangkir kopi di Kedai Kopi Barendo. (Dok. Desa Banyuanyar)

Perlahan namun pasti, Kopi Barendo terus berkembang. Saat ini, Kopi Barendo mampu memproduksi lebih dari 50 kilogram bubuk kopi setiap bulan. Produk-produknya sudah menjangkau penikmat kopi dari berbagai daerah.

Tak hanya membeli dalam bentuk kemasan, pengunjung juga dapat datang langsung ke Kedai Kopi Barendo untuk menikmati secangkir kopi yang diracik dari biji kopi asli Desa Banyuanyar.

Adapun harga kopi robusta ukuran 100 gram dihargai Rp17.500 dan 200 gram Rp34.000. Sementara biji kopi sangrai siap giling dibanderol Rp150.000 per kilogramnya.

“Untuk omzet, dalam satu bulan berkisar di angka Rp7,5 juta,” ujar Widodo dengan mantap.

Gelar Desa BRILiaN hingga Pujian Menteri Desa

Aroma Kopi Barendo semakin sedap setelah Desa Banyuanyar masuk daftar 15 desa terbaik se-Indonesia dalam ajang Desa BRILiaN di 2024. Semenjak itu, jumlah wisatawan yang berkunjung ke desa terus meningkat dari berbagai daerah, utamanya dari luar Kabupaten Boyolali.

Mereka tidak sekadar ingin mencicipi kopi, namun juga melihat langsung bagaimana Kopi Barendo ditanam.

“Contohnya dari Jawa Timur, Jawa Tengah sebelah barat itu sering berkunjung. Setiap minggunya pasti ada wisatawan ke sini,” urai Widodo.

Salah satu tamu istimewa yang datang adalah Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto, Wakil Mendes PDT Ahmad Riza Patria, dan rombongan pada Selasa (13/1/2026) lalu.

Keduanya menggelar acara Ngopi Bareng bersama Bupati Boyolali Agus Irawan, Wakil Bupati Semarang Nur Arifah, Anggota DPR Muhammad Hatta, Ketua Perkumpulan Aparatur Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (PAPDESI) Wargiyanti, dan sejumlah kepala desa di wilayah Boyolali.

"Suatu kebanggaan tersendiri bagi kami, Kopi Barendo sudah pernah dikunjungi oleh Bapak Menteri Desa. Beliau tidak sekadar mencicipi kopi, tapi juga benar-benar menikmati," kata Widodo.

lihat foto
KOPI BARENDO - Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto menghadiri acara Ngopi Bareng, Selasa (13/1/2026). Kegiatan ini dihadiri Mendes bersama Wakil Mendes PDT Ahmda Riza Patria dan dilaksanakan bersama para Kepala Desa di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Boyolali. (Dok. Desa Banyuanyar)

Sementara itu lewat keterangan tertulisnya, Mendes Yandri mengaku, terpesona dengan potensi yang dimiliki Desa Banyuanyar. Sepanjang jalan masuk desa, ia disuguhi deretan tanaman kopi yang tumbuh subur.

“Ini desa kaya potensi. Baru lewat saja sudah kelihatan, ada kopi, ada susu. Tinggal bagaimana kita kelola dengan serius,” harapnya.

Mantan Wakil Ketua MPR RI itu dalam kesempatan tersebut juga mendorong agar aparat pemerintahan desa ikut mendukung Asa Cita ke-6 Pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka.

Misi di atas menekankan pembangunan yang dimulai dari desa dengan tujuan pemerataan ekonomi dan percepatan pengentasan kemiskinan. Sebagaimana telah dilakukan oleh Desa Banyuanyar.

“Ini sejalan dengan Asta Cita ke-6, membangun dari desa dan dari bawah. Jadi bukan cuma slogan, tapi benar-benar dijalankan,” tegas Mendes Yandri.

UMKM Desa Jadi Ujung Tombak

Kepala Desa Banyuanyar, Komarudin kepada Tribunnews.com menyebut, potensi kopi dan susu menjadi ujung tombak saat mendirikan Desa Wisata Edukasi Kampung Susu dan Kopi (Kampus Kopi) pada Kamis (27/10/2022).

"Kami bangun dulu kampung-kampung UMKM sejak 2018. Diawali kampung kopi, kampung jahe, dan kampung susu yang potensinya sudah ada sejak zaman Belanda," tutur dia.

Ketua Cabang Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) Kabupaten Boyolali itu melanjutkan, dari tiga komoditas itulah fondasi Desa Banyuanyar mengembangkan wisata berbasis agro-eco-edu tourism. Kini, sudah ada total 18 kampung UMKM unggulan yang tersebar di 9 dukuh.

Semangat memberdayakan UMKM sejalan dengan tujuan program Desa BRILiaN. Hal ini disampaikan Social Entrepreneurship & Incubation Division Head PT Bank Rakyat Indonesia (BRI), Evi Sulistiawati.

Objek pemberdayaan program Desa BRILiaN tidak hanya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), namun juga menyentuh pelaku UMKM di desa.

"Mereka adalah penggiat produk unggulan, kita menyebutnya Prukades (Produk Unggulan Kawasan Perdesaan)," kata Evi dalam keterangannya.

lihat foto
DESA BRILIAN - Suasana pagi di Desa Banyuanyar, Kecamatan Ampel, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, terlihat semarak saat sejumlah jeep berwarna-warni memenuhi kawasan Lapangan Gedung IKM Kampus Kopi, pada Rabu (1/4/2026). (Tribunnews.com/Endra Kurniawan)

Sementara terkait pemberdayaan Desa BRILiaN, mencakup empat pilar. Pertama, ada BUMDes dan Koperasi Desa jadi motor penggerak ekonomi desa. Kedua, digitalisasi yang merupakan implementasi produk dan aktivitas digital di desa. Ketiga, sustainability atau keberlanjutan dalam membangun desa. Dan keempat, kreatif dalam menciptakan inovasi desa.

"Program Desa BRILiaN ada untuk mendukung Asta Cita pemerintahan yang menekankan pembangunan dari desa mencapai pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan," urai Evi.

Sejak diluncurkan pada 2020, sudah ada 5.245 Desa BRILiaN yang berkomitmen maju dengan program-programnya. Pada tahun 2026 ini, BRI menargetkan akan lahir lagi 1.000 peserta Desa BRILiaN di penjuru Indonesia.

"Semoga pelaksanaan program Desa BRILiaN mampu memberikan kontribusi nyata dan positif bagi kebangkitan ekonomi masyarakat desa," tutupnya. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.