BANJARMASINPOST.CO.ID - Maraknya grup-grup komunitas LGBT yang bertebaran di media sosial, termasuk di Banjarmasin dinilai menjadi tantangan baru dalam pembinaan keagamaan di era digital. Kemudahan membangun jaringan dan berinteraksi tanpa batas geografis membuat berbagai komunitas dengan identitas tertentu semakin mudah berkembang di ruang maya.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan keagamaan yang lebih adaptif, khususnya terhadap generasi muda yang sehari-hari hidup di tengah derasnya arus informasi digital.
Ketua PWNU Kalimantan Selatan, Muhammad Tambrin, menilai fenomena komunitas LGBT yang kini lebih mudah berkumpul melalui media sosial merupakan bagian dari realitas perkembangan teknologi yang tidak bisa diabaikan.
Menurutnya, perkembangan teknologi digital memungkinkan masyarakat membangun komunitas berdasarkan kesamaan minat, pengalaman maupun identitas.
“Fenomena komunitas LGBT yang kini lebih mudah berinteraksi melalui media sosial merupakan bagian dari realitas perkembangan teknologi yang perlu disikapi secara bijaksana,” ujarnya kepada BPost, Sabtu (13/6).
Tambrin menegaskan, dalam perspektif Islam hubungan seksual yang dibenarkan adalah hubungan antara laki-laki dan perempuan dalam ikatan pernikahan yang sah.
Meski demikian, ia menekankan bahwa pendekatan yang dikedepankan bukanlah kebencian, perundungan maupun diskriminasi terhadap individu. “Yang perlu dilakukan adalah pembinaan, edukasi dan pendampingan yang penuh hikmah sesuai tuntunan agama,” katanya.
Baca juga: Warga Perumahan SKB Paringin Kalsel Gerebek Kos-kosan, Cewek Pirang Baru Seminggu Sewa Kamar
Menurut Tambrin, era digital menghadirkan tantangan tersendiri bagi pembinaan keagamaan. Generasi muda kini dapat mengakses berbagai informasi, ideologi, gaya hidup hingga komunitas global hanya melalui telepon genggam.
Bahkan algoritma media sosial dinilai mampu memperkuat paparan terhadap konten tertentu sehingga memengaruhi cara pandang dan perilaku seseorang.
Ia menyebut sejumlah tantangan yang kini dihadapi, mulai dari derasnya arus informasi yang sulit disaring, rendahnya literasi keagamaan pada sebagian masyarakat, hingga pengaruh komunitas virtual yang terkadang lebih kuat dibanding lingkungan nyata. “Tantangan lainnya adalah berkurangnya interaksi pembinaan agama secara langsung. Karena itu dakwah dan pembinaan keagamaan harus hadir secara aktif di ruang digital dengan bahasa yang santun, argumentatif dan mudah dipahami generasi muda,” jelasnya.
Tambrin menilai pendekatan kepada generasi muda yang terpapar berbagai identitas dan komunitas di internet harus dilakukan melalui dialog dan pendampingan, bukan dengan cara menghakimi.
Menurutnya, generasi muda membutuhkan ruang diskusi yang sehat, pemahaman agama yang komprehensif, pendampingan psikologis dan spiritual, serta keteladanan dari lingkungan sekitar.
Ia juga menekankan pentingnya peran keluarga sebagai benteng pertama pendidikan karakter dan keagamaan anak. Orang tua diharapkan membangun komunikasi yang terbuka, menanamkan nilai agama sejak dini serta mengawasi penggunaan media sosial secara bijak.
Selain keluarga, lingkungan keagamaan seperti masjid, sekolah, pesantren hingga organisasi keagamaan juga perlu menjadi ruang pembinaan yang ramah dan relevan bagi generasi muda.
(banjarmasinpost.co.id/rifqi soelaiman)