4 Berita Populer Sumbar: Putra BSN Minta Maaf ke Kajari Padang, Pencarian Nelayan hingga Gempa Bumi
Rezi Azwar June 22, 2026 09:27 AM

Raditya Arya Saswin, putra dari Benny Saswin Nasrun (BSN), tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi yang tengah ditangani Kejaksaan Negeri Padang, menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf atas pernyataan yang sebelumnya ia sampaikan.

Baca juga: Hujan Deras Picu Longsor di Kelok S Padang, Batu Besar Tutupi Jalan ke Sungai Pisang

1. Putra BSN Minta Maaf ke Kajari Padang, Cabut Ucapan Soal Audit BPKP, Akui Emosi Ayahnya Ditangkap

KLARIFIKASI – Raditya Arya Saswin, putra Benny Saswin Nasrun (BSN), menyampaikan klarifikasi dan permintaan maaf terkait pernyataannya kepada awak media yang sebelumnya menyinggung Kepala Kejaksaan Negeri Padang, Koswara, Minggu (21/6/2026). Dalam keterangannya, Raditya mengaku ucapannya saat di Bandara Internasional Minangkabau disampaikan dalam kondisi emosional setelah menyaksikan proses pengamanan ayahnya. (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)

Raditya Arya Saswin, putra dari Benny Saswin Nasrun (BSN), tersangka dalam perkara dugaan tindak pidana korupsi yang tengah ditangani Kejaksaan Negeri Padang, menyampaikan klarifikasi sekaligus permintaan maaf atas pernyataan yang sebelumnya ia sampaikan kepada awak media di Bandara Internasional Minangkabau (BIM), Minggu (21/6/2026).

Dalam pernyataan resminya, Raditya mengaku ucapannya yang menyinggung Kepala Kejaksaan Negeri Padang, Koswara, serta mempertanyakan hasil audit Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), disampaikan dalam kondisi emosional setelah menyaksikan langsung proses penjemputan ayahnya.

"Saya Raditya Arya Saswin, anak dari Benny Saswin Nasrun, akan meluruskan pernyataan dan memberikan klarifikasi atas pernyataan yang saya berikan kepada awak media saat berada di Bandara Internasional Minangkabau beberapa waktu lalu," ujarnya.

Raditya menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada Kepala Kejaksaan Negeri Padang beserta seluruh jajaran atas pernyataan yang dinilai tidak tepat dan berpotensi menimbulkan berbagai penafsiran.

"Saya menyadari bahwa pernyataan tersebut tidak tepat, telah menimbulkan beragam penafsiran, serta berpotensi menyinggung Bapak Koswara beserta jajaran Kejaksaan Negeri Padang," katanya.

Baca juga: Tim SAR Andalkan Internet Starlink Cari Nelayan Mentawai Hilang di Perairan Pulau Bugei

Menurut Raditya, situasi saat itu membuat dirinya berada dalam tekanan emosional yang cukup berat sehingga tidak mampu mengendalikan perasaan dengan baik.

Akui Emosi Tak Terkendali

Ia menjelaskan, kondisi psikologis yang dialaminya saat menyaksikan proses pengamanan ayahnya memengaruhi cara berpikir dan bertindak sehingga melontarkan pernyataan yang kemudian menimbulkan polemik.

"Saat itu saya melihat secara langsung proses penjemputan yang dialami oleh orang tua saya, sehingga saya berada dalam keadaan tertekan, sedih, dan tidak mampu mengendalikan emosi dengan baik," ujarnya.

Karena itu, Raditya menegaskan mencabut seluruh pernyataan yang sebelumnya disampaikan kepada media.

"Dengan ini saya secara tegas mencabut seluruh pernyataan dan ucapan tersebut serta menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada Bapak Kepala Kejaksaan Negeri Padang, Bapak Koswara, beserta seluruh jajaran Kejaksaan Negeri Padang," katanya.

Selain kepada pihak kejaksaan, Raditya juga menyampaikan permintaan maaf kepada Direktur Utama PT Benal Ihsan Persada atas pernyataannya yang sempat menimbulkan kesalahpahaman.

Ia menegaskan bahwa klarifikasi dan permohonan maaf tersebut dibuat tanpa adanya tekanan dari pihak manapun.

"Saya menegaskan bahwa pernyataan ini dibuat tanpa paksaan, dalam keadaan sadar, serta bertanggung jawab penuh," ujarnya.

Baca juga: Nelayan Mentawai Hilang Saat Jual Ikan, SAR Temukan Sampan Mengapung di Perairan Pulau Bugei

Sebelumnya Kritik Penanganan Kasus

Sebelumnya, saat BSN diamankan dari Jakarta dan tiba di Bandara Internasional Minangkabau pada hari Kamis (18/6/2026), Raditya sempat memberikan keterangan kepada sejumlah wartawan yang menunggu kedatangan ayahnya.

Dalam wawancara tersebut, ia menyatakan bahwa PT Benal Ihsan Persada telah menyelesaikan kewajiban pembayaran kredit dan tidak lagi menimbulkan kerugian negara.

Raditya saat itu menyebut perusahaan telah mencicil hingga melunasi kewajiban sekitar Rp25 miliar lebih dan mempertanyakan hasil audit kerugian negara yang dilakukan BPKP.

Ia juga sempat melontarkan kritik terhadap proses penanganan perkara oleh Kejaksaan Negeri Padang serta mempertanyakan dasar penetapan tersangka terhadap ayahnya.

Pernyataan tersebut kemudian menjadi sorotan karena dianggap menyudutkan aparat penegak hukum yang sedang menangani perkara.

Baca juga: BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Sumbar Sore Ini, Padang dan 4 Daerah Hujan Lebat

Harap Proses Hukum Berjalan Profesional

Meski telah mencabut pernyataannya, Raditya berharap proses hukum yang sedang berjalan tetap dilaksanakan secara profesional, objektif, dan transparan.

Ia menilai setiap pihak berhak memperoleh kepastian hukum sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

"Pada kesempatan ini pula, saya berharap agar setiap proses penegakan hukum dapat berjalan secara profesional, objektif, transparan, dan memberikan kepastian hukum yang jelas bagi seluruh pihak yang terkait sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku," tuturnya.

Kasus dugaan tindak pidana korupsi yang menjerat Benny Saswin Nasrun saat ini masih dalam proses penanganan oleh Kejaksaan Negeri Padang. (*)

2. Nelayan Mentawai Hilang Saat Jual Ikan, SAR Temukan Sampan Mengapung di Perairan Pulau Bugei

ORANG HILANG - Tim SAR Mentawai menggunakan armada Rigid Inflatable Boat (RIB) 03 melakukan penyisiran di perairan Pulau Bugei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Minggu (21/6/2026). Pencarian dilakukan untuk menemukan Arbian (50), nelayan asal Desa Saibi yang dilaporkan hilang setelah berangkat menjual hasil tangkapan ikan dan belum kembali sejak Kamis (18/6/2026).
ORANG HILANG - Tim SAR Mentawai menggunakan armada Rigid Inflatable Boat (RIB) 03 melakukan penyisiran di perairan Pulau Bugei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Minggu (21/6/2026). Pencarian dilakukan untuk menemukan Arbian (50), nelayan asal Desa Saibi yang dilaporkan hilang setelah berangkat menjual hasil tangkapan ikan dan belum kembali sejak Kamis (18/6/2026). (TribunPadang.com/SAR Mentawai)

Seorang nelayan bernama Arbian (50) dilaporkan hilang di perairan Pulau Bugei, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat.

Hingga Minggu (21/6/2026), korban masih dalam pencarian oleh tim gabungan yang dipimpin Kantor Pencarian dan Pertolongan (SAR) Mentawai.

Korban diketahui berangkat melaut menggunakan sampan dari Dusun Sua, Desa Saibi, pada Kamis (18/6/2026) sekitar pukul 15.00 WIB.

Saat itu, Arbian hendak menuju Dermaga Muara Siberut untuk menjual hasil tangkapan ikan.

Namun, hingga beberapa hari kemudian korban tak kunjung pulang ke rumah. Warga yang melakukan pencarian secara mandiri hanya menemukan sampan dan kotak ikan milik korban mengapung di sekitar perairan Pulau Bugei.

Baca juga: Hujan Badai, Pohon Tumbang di Padang Timpa Mobil Warga Jondul Rawang Sampai Ringsek

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Mentawai, Benteng Hilton Telaumbanua, mengatakan pihaknya menerima laporan kejadian tersebut pada Minggu sekitar pukul 11.30 WIB.

Laporan disampaikan oleh seorang warga bernama Lemarius yang meminta bantuan pencarian terhadap nelayan yang belum kembali dari melaut tersebut.

"Setelah menerima laporan dari masyarakat terkait hilangnya satu orang nelayan atas nama Bapak Arbian di perairan Pulau Bugei, kami langsung menginstruksikan tim Rescue dari Unit Siaga SAR Siberut untuk bergerak cepat," kata Benteng dalam keterangan resminya, Minggu (21/6/2026).

Tim Rescue Dikerahkan

Merespons laporan tersebut, Unit Siaga SAR (USS) Siberut langsung mengerahkan lima personel rescue pada pukul 11.50 WIB.

Tim bergerak menuju titik perkiraan lokasi terakhir korban atau Last Known Position (LKP) yang berada pada koordinat 1°29'47" LS dan 99°11'16" BT.

Lokasi tersebut berjarak sekitar 28 mil laut dari Pelabuhan Muara Siberut.

Dalam operasi pencarian, tim menggunakan armada Rigid Inflatable Boat (RIB) 03 Mentawai untuk menyisir area perairan yang diduga menjadi lokasi hilangnya korban.

Selain itu, personel SAR juga dibekali sejumlah peralatan pendukung seperti alat komunikasi, perlengkapan evakuasi, peralatan medis, telepon satelit hingga jaringan internet Starlink guna mendukung koordinasi di lapangan.

Baca juga: BMKG Rilis Peringatan Dini Cuaca Sumbar Sore Ini, Padang dan 4 Daerah Hujan Lebat

Pencarian Libatkan Potensi SAR dan Masyarakat

Benteng mengatakan operasi pencarian dilakukan secara terpadu dengan melibatkan unsur potensi SAR dan masyarakat setempat.

Menurutnya, seluruh sumber daya yang tersedia dioptimalkan agar korban dapat segera ditemukan.

"Saat ini, tim rescue yang diperkuat lima personel telah dikerahkan menggunakan armada RIB 03 menuju titik koordinat LKP guna melaksanakan penyisiran intensif," katanya.

"Dalam operasi ini, kami mengoptimalkan seluruh dukungan alut modern dan peralatan keselamatan, termasuk sistem komunikasi satelit dan Starlink, guna memastikan koordinasi taktis di lapangan berjalan tanpa kendala demi menyelamatkan korban secepatnya," tambahnya.

Tim SAR bersama unsur terkait terus melakukan penyisiran di sekitar perairan Pulau Bugei untuk mencari tanda-tanda keberadaan korban. (*)

3. Dubalang Tebas Pohon Pisang Pakai Pedang di Pariaman, Sekali Ayun Penonton Langsung Heboh

MANABANG BATANG PISANG- Dubalang manabang batang pisang di Rumah Tabuik Subarang, Sabtu (20/6/2026). Ratusan warga memadati area tersebut untuk menyaksikan prosesnya.
MANABANG BATANG PISANG- Dubalang manabang batang pisang di Rumah Tabuik Subarang, Sabtu (20/6/2026). Ratusan warga memadati area tersebut untuk menyaksikan prosesnya. (TribunPadang.com/Arif Ramanda Kurnia)

Pelataran Rumah Tabuik Pasa sore itu mendadak menjelma menjadi panggung yang padat dan magis.

Beberapa batang pohon pisang dan tebu berdiri kukuh di belakang rumah Tabuik Pasa, dikepung rapat oleh pagar kain putih yang kontras dengan warna-warni kibaran bendera marawa.

Deru mesin sepeda motor tua sayup-sayup tenggelam oleh gemuruh ritmis yang datang dari arah pusat kota.

Baca juga: Rundown Pesona Budaya Hoyak Tabuik Piaman 2026, Catat Jadwal Ritual Adat hingga Acara Puncak

Di bawah langit Pariaman yang mulai melarutkan warna jingga menjadi pekatnya malam, ratusan pemuda berkumpul dengan tatapan mata yang tak lepas dari sebatang pohon pisang.

Sabtu (20/6/2026) malam, ritual "Manabang Batang Pisang" kembali digelar, menandai babak awal dari epik kolosal Perayaan Tabuik yang telah mengakar dalam memori kolektif masyarakat pesisir Sumatera Barat.

Bau tanah pesisir yang kering berbaur dengan harum pelepah pisang, sementara ratusan pasang mata tak berkedip menatap sudut halaman, menanti jalannya ritual yang akan segera membelah keheningan.

Untuk mencapai titik episentrum budaya ini, perjalanan yang ditempuh tidaklah singkat. Para pelancong atau yang bergerak dari pusat Kota Padang harus berkendara menuju kota Pariaman dengan durasi perjalanan hampir 1 jam 30 menit.

Jalur aspal yang membelah rimbunnya pepohonan kelapa khas pesisir Pariaman seolah menjadi lorong waktu, mengantar setiap pelancong meninggalkan modernitas menuju pusaran ritus kuno yang dirawat melintasi zaman.

Baca juga: Pedagang Kecil Sumringah, CFN Simpang Tabuik Diharapkan Jadi Agenda Unggulan Pemko Pariaman

Lelahnya perjalanan darat tersebut seketika menguap begitu kaki menginjak pekarangan rumah tabuik.

Atmosfer kultural terasa begitu pekat memeluk ruang publik. Rumah Tabuik Pasa yang biasanya bersahaja, hari itu bersolek rupa, menampilkan ornamen-ornamen sakral yang menegaskan bahwa sebuah helatan besar nagari sedang dipertaruhkan kehormatannya di sana.

Sebagai sebuah kesatuan struktur adat, ritual Manabang Batang Pisang tidak berdiri sendiri.

Ia merupakan bagian tak terpisahkan dari kronologi panjang perayaan Tabuik Pariaman yang berlangsung selama sepuluh hari berturut-turut pada bulan Muharram.

Setiap tahapan adalah mata rantai sakral, yang dimulai dari ritual Maambil Tanah, dilanjutkan dengan Manabang Batang Pisang, lalu Maatam, Maarak Jari-jari, Maarak Saroban, hingga puncaknya ritual Tabuik Naik Pangkat dan pelarungan ke laut lepas.

Keheningan tempat itu pecah seketika saat suara gendang tasa mulai bertalu-talu dengan ritme marak yang menghentak.

Tabuhan yang konstan dan cepat ini seakan memompa adrenalin, mengubah ketenangan sore menjadi sebuah ketegangan yang ritmis.

Di dalam lingkaran massa yang kian merapat, muncul sosok dubalang atau algojo adat dengan langkah kaki yang kokoh dan tatapan mata yang menghunjam lurus ke depan.

Sang dubalang menggenggam sebilah pedang panjang yang telah disiapkan secara khusus untuk ritual ini. Kilatan logam dari mata pedang yang terpapar sisa cahaya matahari sore seolah mengirimkan pesan kepatuhan terhadap aturan adat.

Kehadirannya di tengah pekarangan mempertegas batas antara penonton dan pelaku ritus yang sakral.

Di tengah kepungan hawa panas dan himpitan tubuh orang dewasa, sudut-sudut halaman juga diwarnai oleh tawa renyah anak-anak nagari. Wajah-wajah mungil mereka bersih dari beban, memancarkan kegembiraan dan suka cita yang tulus tanpa kepura-puraan.

Bagi generasi muda ini, riuhnya tetabuhan dan keramaian di Rumah Tabuik adalah ruang bermain kultural yang selalu mereka rindukan setiap tahunnya.

Masyarakat setempat beserta wisatawan dari luar daerah kian menyemut, memadati setiap jengkal tanah. Kehadiran massa yang masif ini didorong oleh rasa penasaran yang sama: mereka ingin menyaksikan momen krusial berupa satu kali tebasan pedang.

Dalam pakem tradisi, ketepatan dan kekuatan sang dubalang harus menyatu sempurna agar batang pisang tumbang dalam satu ayunan tunggal.

Saat tangan kekar sang dubalang mengangkat pedangnya  ke udara, seluruh desas-desus di pelataran mendadak senyap.

Ketegangan memuncak dalam hitungan detik bersamaan dengan raungan gendang yang kian cepat. Hanya dalam satu gerakan kilat yang presisi, pedang tersebut menebas putus batang pisang hingga rebah ke tanah.

Seketika itu juga, suara sorak-sorai penonton pecah menggema, membelah langit sore Kota Pariaman. Pekik kepuasan dan tepuk tangan riuh terdengar jelas dari segala penjuru halaman Rumah Tabuik Pasa.

Tabuik Piaman 2 (20/6/2026)
MANABANG BATANG PISANG- Dubalang manabang batang pisang di Rumah Tabuik Subarang, Sabtu (20/6/2026). Ratusan warga memadati area tersebut untuk menyaksikan prosesnya.

Begitu batang pisang itu tumbang, anak-anak yang semula berjaga di barisan depan langsung berlari kencang menuju bekas tebasan, berebut menyentuh sisa-sisa pohon dengan penuh riang tawa.

Bagi mata awam, menebang sebatang pisang di parak (pekarangan) yang remang mungkin tampak sederhana. Namun, di kota semenanjung ini, ia adalah pertautan rumit antara ritus keagamaan, memori duka historis atas gugurnya cucu Nabi Muhammad SAW, Imam Husain, di Padang Karbala, serta keteguhan merawat identitas komunal.

Ketua Pelaksana Tabuik Pasa, Yuliusman, di sela-sela riuhnya perayaan menjelaskan bahwa peristiwa yang baru saja disaksikan merupakan prosesi Manabang Batang Pisang.

Kegiatan ini menempati posisi krusial sebagai prosesi kedua dalam seluruh rangkaian panjang perayaan festival Tabuik di Pariaman. Tanpa tahapan ini, bagian organ fisik dan kelengkapan ritual bangunan Tabuik tidak dapat dilanjutkan ke tahap berikutnya.

"Ritus ini berjalan secara paralel dan cermin. Anak nagari Tabuik Pasa melaksanakannya di wilayah Rumah Tabuik Pasa, sementara saudara kami dari kelompok Subarang juga menggelar prosesi serupa di Rumah Tabuik Subarang secara bersamaan," ujar Yuliusman.

Lebih lanjut, Yuliusman membocorkan bahwa ketegangan teatrikal ini tidak berhenti di pekarangan rumah adat saja.

Usai menebang batang pisang di wilayah masing-masing, massa dari kedua belah pihak akan bergerak menuju satu titik temu di jantung kota untuk melanjutkan tradisi berikutnya yang tak kalah mendebarkan.

"Nanti setelah ini, kedua kelompok anak nagari akan bertemu dan terlibat dalam prosesi basalisiah (berselisih) di sekitar kawasan Tugu Tabuik. Pertemuan tersebut merupakan puncak ketegangan emosional yang diatur dalam koridor seni tradisi," tambah Yuliusman.

Tuo Tabuik Pasa, Zulbahri, menguraikan dimensi filosofis yang tersimpan di balik tajamnya pedang dan robohnya tanaman tersebut.

Menurutnya, Manabang Batang Pisang merupakan simbolisasi dari pencarian jasad atau bagian dari heroisme tokoh historis yang gugur di medan laga sebuah metafora teatrikal atas patahnya kekuatan musuh sekaligus pengingat akan keberanian mempertahankan prinsip nagari.

Sementara itu, prosesi basalisiah yang menyusul kemudian digambarkan Zulbahri sebagai cerminan dinamika konflik, salah paham, dan benturan ego manusia di masa lalu.

Tradisi ini merupakan simbolisasi dan reka ulang dari Perang Karbala, yaitu pertempuran bersejarah yang merenggut nyawa Husein bin Ali (cucu Nabi Muhammad SAW). Suasana tegang dan benturan antar kelompok ini mencerminkan dahsyatnya pertempuran tersebut.

Meskipun secara visual terlihat seperti perkelahian atau konflik, tradisi ini adalah sebuah seni pertunjukan budaya kolosal yang telah disepakati. Ini berfungsi sebagai katarsis atau wadah penyaluran emosi dan ketegangan antar-nagari yang aman, serta dilakukan murni untuk memeriahkan rangkaian festival

“Ini bukan permusuhan yang sejati, melainkan sebuah ikhtiar merawat ingatan sejarah agar anak cucu kita paham bahwa setelah adanya gesekan dan perselisihan, jalan kedamaian dan persatuan harus kembali dijemput," pungkas Zulbahri. (*)

4. Gempa Magnitudo 4,7 dan 3,5 Guncang Pariaman, Warga di Padang Berhamburan Keluar

GEMPA- Sejumlah warga tampak keluar dari rumah dan berkumpul usai merasakan guncangan gempa bumi magnitudo 4,7 yang berpusat di 81 kilometer barat daya Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/6/2026) pagi. Getaran gempa terasa cukup kuat hingga Kota Padang dan sempat memicu kepanikan warga.
GEMPA- Sejumlah warga tampak keluar dari rumah dan berkumpul usai merasakan guncangan gempa bumi magnitudo 4,7 yang berpusat di 81 kilometer barat daya Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/6/2026) pagi. Getaran gempa terasa cukup kuat hingga Kota Padang dan sempat memicu kepanikan warga. (TribunPadang.com/Fajar Alfaridho Herman)

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 4,7 dan 3,5 mengguncang wilayah barat daya Pariaman, Sumatera Barat, Minggu (21/6/2026) pagi.

Getaran gempa dirasakan cukup kuat oleh warga di sejumlah daerah, termasuk Kota Padang.

Berdasarkan informasi yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa terjadi pada pukul 09.33 WIB dengan magnitudo 4,7.

Pusat gempa berada pada koordinat 1,28 Lintang Selatan dan 99,82 Bujur Timur atau sekitar 81 kilometer barat daya Pariaman, Sumatera Barat, dengan kedalaman 28 kilometer.

Selang sekitar 15 menit kemudian, BMKG kembali mencatat gempa susulan berkekuatan magnitudo 3,5 pada pukul 09.48 WIB.

Gempa susulan tersebut berada di lokasi yang hampir sama, yakni 81 kilometer barat daya Pariaman dengan kedalaman 25 kilometer.

Warga Berhamburan Keluar Rumah

Pantauan TribunPadang.com di kawasan Komplek Lubuk Gading I, Kelurahan Lubuk Buaya, Kecamatan Koto Tangah, Kota Padang, menunjukkan warga berhamburan keluar rumah saat guncangan terjadi.

Sejumlah warga tampak panik karena getaran yang dirasakan cukup kuat. Kabel-kabel listrik dan sejumlah benda yang tergantung juga terlihat bergoyang akibat guncangan tersebut.

Warga memilih berkumpul di area terbuka untuk mengantisipasi kemungkinan gempa susulan.

Setelah situasi dinilai aman dan tidak lagi terasa getaran, sekitar lima menit kemudian warga mulai kembali ke rumah masing-masing.

Sempat Dikira Suara Gemuruh dari Rumah

Salah seorang warga Lubuk Buaya, Alif, mengaku terkejut saat gempa terjadi. Ketika itu ia sedang berada di depan rumah bermain bersama istri dan anak-anaknya.

Menurutnya, sebelum merasakan guncangan, ia terlebih dahulu mendengar suara gemuruh yang berasal dari arah rumah.

"Saat itu saya sedang bermain bersama istri dan anak-anak di depan rumah. Tiba-tiba terdengar suara seperti gemuruh dari rumah yang bergetar," katanya.

Tak lama kemudian, tanah mulai bergoyang dan guncangan terasa semakin kuat. Alif pun langsung mengamankan anak-anaknya dengan memegang dan memeluk mereka.

"Saya langsung fokus mengamankan anak-anak karena guncangannya cukup terasa," ujarnya.

Warga Terbangun karena Bunyi Gemuruh

Pengalaman serupa juga dirasakan warga lainnya, Roby. Ia mengaku sedang tertidur ketika gempa terjadi.

Roby mengatakan, suara gemuruh yang terdengar dari dalam rumah membuatnya terbangun sebelum akhirnya merasakan guncangan yang semakin kuat.

"Tadi saya sedang tidur. Awalnya saya mendengar suara rumah seperti bergemuruh, itu yang membuat saya terbangun," katanya.

Setelah terbangun, ia sempat duduk sejenak untuk memastikan apa yang terjadi. Namun tidak lama kemudian, guncangan terasa semakin kuat disertai suara gemuruh yang makin jelas.

"Kemudian tidak sampai sedetik, ternyata guncangannya semakin kencang dan bunyi gemuruhnya semakin kuat. Saya langsung lari ke luar rumah," ujarnya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.